Istriku Canduku

Istriku Canduku
sepertinya, aku akan sering ngambek


Mario, Inka, Sukma, dan si kembar sudah siap melakukan perjalanan jauh. Mereka tengah berada di Bandar Udara Internasional Dubai. Mario sudah mempersiapkan jet pribadinya. Lagi-lagi Mario dan keluarga dengan khusus di antar langsung oleh Husein beserta kedua anaknya. Kedua anak Husein memeluk dan mencium Sukma, sepertinya anak-anak Husein telah terhipnotis oleh pesona Sukma, entah dengan ayahnya. Namun, terlihat wajah Husein yang senang melihat kedua putrinya menyukai Sukma.


“Terima kasih banyak atas jamuannya, Mr. Husein.” Ucap Mario.


Kemudian Husein memeluk serta menempelkan hidung dan mencium kedua pipi Mario. Begitulah ciri khas pria arab dalam menyapa kawan prianya, menempelkan hidung adalah salah satu simbol saling menghargai. Walaupun pada awalnya Mario sangat risih dengan perlakuan yang seperti ini, tapi kini ia tak lagi canggung.


“You’re welcome.” Jawab Husein dengan senyumnya yang lebar.


Husein dan kedua putrinya berhenti, ketika Mario dan keluarga memasuki area yang tak dapat lagi di antar. Mario berjalan di iringi istri di sampingnya. Sukma tengah mendorong stroler di depan Mario dan Inka. Semua barang sudah di bawa oleh petugas yang di perintahkan Husein, langsung ke jet mereka. Tiba-tiba Mario merogoh kantongnya.


“Sayang, ponselku sama kamu?” Tanya Mario.


“Tidak. Kamu tadi tidak menitipkan apa-apa ke aku.” Jawab Inka.


“Haduh, aku taroh ponselku di mana ya? Apa tertinggal di hotel? Ah tidak, tadi aku sempat memainkannya di dalam mobil Husein.” Ucap Mario dengan sedikit panik.


Mario menghentikan langkahnya, begitupun Inka. Sukma yang merasa tak lagi ada yang berjalan di belakangnya pun, ikut terhenti. Ia menoleh ke belakang.


“Ada apa, Non?” Tanya Sukma, sambil menatap majikan perempuannya.


“Ini, Mario ketinggalan ponselnya di mobil Mr. Husein. Bagaimana ya, Suk?” Inka pun terlihat ikut panik.


Lalu Mario bergegas ingin kembali keluar dan mengejar Husein.


“Aku temuin Husein aja di luar, Sayang. Siapa tau dia masih di sana.” Kata Mario.


“Ngga usah, Den. Di telepon aja. Saya punya kok nomor ponselnya.” Jawab Sukma sambil memegang ponselnya sendiri yang baru saja ia keluarkan dari saku rok hitamnya.


“Wah, kamu punya nomor hape Mr. Husein, Suk? Benar-benar bakal calon istri Duren nih.” Ledek Inka, membuat wajah Sukma semakin merona.


“Duren apa?” Tanya Mario.


“Duda keren.” Jawab Inka dengan senyum sumringah.


“Cukup aku yang keren di mata kamu ya!” Mario membulatkan matanya pada Inka.


“Keren buat Sukma, bukan buat aku.” Sanggah Inka dengan senyum meledek.


“Hayo loh, Non. Nanti bakal kena hukuman.” Ledek Sukma yang kemudian menjauhkan diri dari Inka dan Mario, guna menelepon Husein untuk meminta kembali dan membawa ponsel majikannya yang tertinggal.


Tak lama kemudian, Mr. Husein datang dengan berlari, menghampiri Mario. Kebetulan memang Husein masih berada di area parkir dan belum melaju pulang.


“Terima kasih, Mister.” Ucap Sukma mendahului Mario yang baru saja akan berucap yang sama.


“You`re welcome.” Senyum Husein pada Sukma.


“Ekhem.” Mario berdehem, dan berkata lagi. “Terima kasih, Bro.”


“Sama-sama, kebetulan saya masih di parkiran, saat Sukma menelepon.”


“Kalian sering bertelepon?” Tanya Inka, membuat rona wajah Sukma kembali merona.


“Kadang-kadang.” Jawab Husein.


“Sering-sering juga ngga apa-apa. Sukma seneng kok.” Jawab inka meledek.


“Noon..” Sukma menyenggol siku Inka. Husein pun ikut tersenyum malu.


****


Inka membuka pintu kamarnya perlahan, setelah meninggalkan kamar Maher dan Mahira yang tengah terlelap bersama Sukma. Maher dan Mahira terlihat sangat lelah, setelah makan dan bermain dengan sang ayah. Kini mereka telah berada di atas awan hampir empat jam. Inka duduk di samping suaminya yang tengah duduk menyender di dinding tempat tidur. sambil meluruskan kakinya.


Mario pun tengah beristirahat, sambil memainkan ponselnya.


Inka menusuk-nusuk dada Mario yang keras. “Kamu ngambek?”


‘Duren itu sebutannya Sukma untuk Husein.” Kata Inka dengan manja, tapi Mario masih tetap diam.


“Kak, Ih ngga asyik banget sih. Masa’ gitu aja ngambek.” Inka mulai memonyongkan bibirnya.


Mario menoleh dan berkata, “Siapa yang ga kesel, wanitanya menyebut pria lain keren.”


“Ya kan, emang Mr. Husein itu keren, ganteng, dan...” Jawab Inka terpotong, ia tak lagi melanjutkan perkataannya karena Mario kembali menoleh ke arahnya dengan mata yang semakin membulat.


Inka tergelak, melihat ekspresi suaminya yang seolah akan menelannya bulat-bulat.


“Ya udah maaf deh.” Rengek Inka, sambil menyungging senyum dan menarik ujung kaos dalam Mario.


“Kak.” Panggil Inka lagi, karena Mario masih tak bersuara. Ia sengaja mengalihkan rengekan Inka dengan terus memainkan ponselnya.


Kesal dengan aksi diamnya Mario, membuat Inka semakin ingin meledek suami possesifnya itu.


“Ih, kok di sini gerah ya kak? AC nya kurang dingin nih.” Bohong Inka, ia meleas pakainnya satu persatu. Tapi Mario hanya meliriknya sekali.


“Liat aja ke sini, kak. Ngga usah pake lirik-lirik segala.” Ucap Inka gemas, menanggapi lirikan Mario tadi.


Kini Inka tinggal hanya mengenakan bra dan c*lana d*l*mnya yang berwarna hitam. Lalu ia langsung menaiki kaki Mario.


“Masih ngambek, Hmm..” Inka bertolak pinggang persis di depan Mario dan tengah duduk di atas pahanya.


Aksi istrinya ini, sontak membuat Mario tersenyum. Mana ada suami yang tak tersenyum melihat istrinya bertingkah konyol seperti ini.


Inka meraih ponsel di tangan Mario, agar tak menghalangi aksi yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia melakukan sambil menggigit bibir bawahnya. Inka begitu sensual dan menggoda, membuat Mario tak henti menarik sudut bibirnya.


Inka membuka pengait bra yang ia kenakan, lalu meraih kepala Mario untuk mendekat pada gunung kembarnya.


“Begini, cara kamu menghilangkan kesalku?” Tanya Mario dengan menengadahkan kepalanya ke atas sedikit.


Inka tersenyum dan menaikkan bahunya. “Tidak ada cara lain. Ini cara paling ampuh.”


Mario tergelak dengan jawaban istrinya yang semakin mengenalnya.


“Kenapa ini tidak di buka juga?” Mario menarik ujung cel*n* d*l*m Inka.


Inka menggigit bibir bawahnya, sambil menggeleng.


Mario semakin tak tahan melihat istrinya yang sudah ada di depan matanya dengan sangat menggoda.


Cup


Mario mel*mat habis bibir itu, Inka pun membalasnya sambil memegangi kepala Mario, dan mengelus rambutnya. Sementara, Mario pun menginginkan lebih dengan terus mengelus punggung, pundak, pinggang, dan paha sistrinya.


“Hmm… Kak, bibirku jangan di gigit!” Rengek Inka yang sudah melepas paksa pangutan itu, dan memukul pelan dada Mario. Sebenarnya Mario pun hanya menggigit kecil bibirnya, tapi sekarang Inka sudah sangat manja pada suaminya itu.


Mario hanya membalas dengan senyum. Lalu menubruk tubuh Inka untuk di baringkan. Ia menindih tubuh itu dan menumpu-kan kedua tangannya.


“Sepertinya, aku akan sering-sering ngambek.” Ledek Mario.