
Mario baru tiba di Jakarta dan langsung meluncur ke kediaman Andreas. Ia memarkirkan mobilnya, dan dengan langkah kaki yang panjang, segera memasuki rumah nan mewah itu.
"Den, udah pulang?" Sapa Ujang yang melihat majikannya tengah masuk ke dalam rumah.
Mario langsung melempar kunci mobilnya, "Parkirin yang bener, Jang."
Hap, Ujang dengan sigap menangkap benda yang di lempar Mario.
"Kok, sepi. Suk?" Tanya Mario, ketika sampai di dalam rumah dan hanya mendapati Sukma yang masih membereskan perlengkapan dapur.
"Eh, den Mario. Iya den, Ibu sama Bapak lagi pergi ke Bandung." Jawab Mario.
"In..."
"Non, Inka lagi berenang, Den." Sukma langsung memotong perkataan majikannya. Lagipula pasti majikannya itu akan menanyai istrinya kan.
"Suk, jangan ada pelayan yang ke kolam renang, apalagi pelayan laki-laki!" ujar Mario, yang langsung di angguki Sukma. Sukma pun langsung pamit dari hadapan Mario.
Mario berjalan menuju kolam renang. Ia masih berdiri, menyandarkan tubuhnya pada pintu yang menghadap kolam renang. Terlihat Inka yang sedang memakai bikini, sedang menikmati olahraga sore. Inka sangat menikmati olahraga itu, hingga tak sadar ada sepasang mata yang menatapnya dari tadi.
"Ck.. Perempuan ini.." Mario tertawa kecil sambil memukul jidatnya. Entah susuk apa yang di pakai istrinya, hingga Mario selalu menegang, jika melihat tubuh itu.
Mario melangkah menghampiri Inka, yang berada di dalam air. Namun, arah tubuh Inka tidak sedang menghadap Mario, tapi memunggunginya. Mario sudah membuka semua pakaiannya, kecuali celana dalam yang masih melekat. Mario masuk ke dalam air dengan perlahan dan memeluk Inka dari belakang, sontak membuat Inka terkejut.
"Oh, ya ampun kak. Kamu kalau datang selalu ngagetin." Kata Inka sambil mengelus dadanya. Sungguh, dadanya berdetak kencang. Antara terkejut dan tegang karena ia merasakan ada yang mengganjal di sana.
Mario langsung melepas ikatan bra yang di kenakan Inka.
"Kak, ini bukan di kamar!" Inka memberikan peringatan pada suaminya itu. Namun, Mario tetap menelusuri leher dan pundaknya yang terbuka.
"Di manapun sama saja." Suara berat Mario, lalu membalikkan tubhh Inka. Terlihat mata Mario yang sayu dan di penuhi kabut gairah.
Mario langsung mel*umat bibir itu. Terjadi kecapan berkali-kali. Kali ini, bibir Inka di buat bengkak. Karena ciuman itu tak kunjung usai. Tangan Mario pun tak pernah absen untuk menjelajah seluruh lekuk tubuhnya. Parahnya, Inka pun menyukai ini, ia menerima setiap sentuhan itu.
Inka memejamkan separuh matanya dan menggingit bawah bibirnya. Seolah sensasi itu terasa begitu luar biasa. Mario tidak tampak di permukaan, ia menenggelamkan diri untuk memainkan dan mengecap bagian dada istrinya.
Tiba-tiba kepala Sukma muncul dari atas kolam renang. Melihat ekspresi Inka yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Sukma berjongkok dan megulurkan tangannya ke bawah untuk menyentuh punggung Inka yang terhalang dinding kolam renang.
"Non, Non Inka kenapa?" Suara Sukma sontak membuat Mario dan Inka kaget.
Inka menarik rambut Mario, yang semula sedang di elusnya. Kemudian kepala Mario langsung muncul ke permukaan.
"Lo ngapain sih, Sukma." Teriak Mario.
"Ehmm.. Itu den, Non Inka kesakitan, mungkin kedinginan." jawab polos Sukma, membuat Mario berdecak kesal.
"Ini, den Mario kan minta ini, jadi saya bawain." Sukma menunjuk gelas yang berisi jeruk hangat. Sebelum Mario menghampiri Inka. Ia meminta Sukma untuk di buatkan itu.
"Ya udah taroh sana." ucap Mario ketus.
"Terima kasih, Sukma." Senyum Inka pada Sukma, setelah selesai meletakkan gelas di meja yang tak jauh darinya.
Mario menaiki tangga kolam untuk menghampiri gelas yang di letakkan Sukma tadi. Mario meminum jeruk hangat sambil terus menatap Inka.
"Kamu ga kedinginan diam di sana terus?" Tanya Mario menyeringai licik.
Inka menggeleng, pasalnya ia sudah tak mengenakan apapun. Mario telah membuka bra dan celana dalamnya, dan sekarang entah kemana.
"Aku ga pake apa-apa kak.. Balikin pakaianku dulu!" Rengek Inka.
Mario tersenyum licik. Lalu meninggalkan Inka yang masih berada di kolam renang.
"Kak, jangan ditinggal!" Teriak Inka.
Kemudian, Mario menghentikan langkahnya. Jujur, ia juga tidak akan setega itu, hanya ingin menggoda istrinya saja.
"Sorry, handuknya cuma satu." Mario melingkarkan handuk yang Inka bawa untuk menutupi tubuhnya.
Bibir Inka sudah cemberut dari tadi, kesal dengan perilaku suaminya. Ia memukul air di depannya, membuat Mario tergelak dengan ekspresi istrinya itu.
"Ya udah gendong." Inka membentangkan lengannya. Kemudian lengannya di tarik kembali untuk menutupi dadanya yang terbuka. Ia lupa, lagi-lagi membuat Mario tergelak karena kelakuan istrinya yang menggemaskan itu.
Mario mendekati Inka dengan senyum kemenangan. Mengangkat dan menggendong tubuhnya seperti koala. Lalu, di handukkan untuk menutupi tubuh mereka berdua. Mario membawa Inka hingga ranjang. Tentunya dengan terus mengambil kesempatan untuk mengecap bibir itu lagi. Hingga keduanya terbuai oleh indahnya permainan yang mereka ciptakan sendiri.
Nafas keduanya masih tersengal-sengal setelah mencapai pelepasan atas aktifitas yang mereka lakukan itu. Mario ambruk tepat di atas dada Inka. Telinganya dengan jelas mendengar kencangnya degupan jantung Inka. Kemudian Mario merebahkan diri kesamping dan menarik tubuh Inka untuk di peluknya.
Inka nyaman di dalam dekapan Mario. Lalu, tangan Mario mengelus perut Inka.
"Apa sudah ada yang hidup di sini?" Tanya Mario lirih.
Inka hanya terdiam. Ia bingung ingin berkata apa. Pasalnya tidak ada yang tahu, jika ia sudah memasang alat kontrasepsi pada rahimnya.
"Kok diam, kamu tidur?" Tanya Mario lagi sambil mengelus pipi Inka dan menatap wajahnya dekat ke arah wajah Inka.
"Hmm..." Inka pura-pura terpejam, agar tidak ada pertanyaan lagi dari Mario.
Mario pun membiarkan Inka tetap dalam pelukannya.