
“Pipi.”
“Mimi.” Teriak Maher dan Mahira dari luar kamar orang tuanya.
“Tok.. Tok.. Tok..
Maher masih mengetuk pintu kamar itu, sambil berteriak memanggil ayah dan ibunya.
Mario terbangun mendengar ketukan dan panggilan kedua anaknya. Matanya melihat arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Guyuran hujan di luar memang deras di sertai petiran yang menggelegar.
Mario bangkit dan sebelumnya ia menoleh ke arah Inka yang masih terlelap. Ia melihat tubuuh istrinya yang polos. Lalu di tutup kembali tubuh Inka dengan selimut tebal di sana hingga ke lehernya. Tak lupa ia menyempatkan untuk mengelus pipi mulus istrinya itu, sesekali gerakan Mario membuat Inka pun ikut bergerak.
Ia memakai boxernya, lalu menghampiri pintu.
Ceklek.
Mario membuka pintu kamarnya. Di dapati kedua anaknya yang langsung memeluk tubuh sang ayah.
“Pipi, takut.” Mahira memeluk kaki Mario, begitupun dengan Maher.
Mario berjongkok dan memberi pelukan kepada putra putrinya itu.
“Atut, Pi.” Kata Maher.
“Ngga apa-apa, Sayang. Itu hanya suara petir.” Mario menggendong kedua anaknya bersamaan di sisi kanan dan kiri, lalu memasuki kamarnya.
Mario meletakkan Maher dan Mahira di atas tempat tidurnya. Mahira langsung menghampiri ibunya yang masih terlelap.
“Mimi, masih bobo, Pi?” Tanya Mahira pada ayahnya.
Mahira semakin hari, bicaranya semakin lancar, berbeda dengan Maher yang masih sulit di mengerti. Namun, untuk keisiplinan dan tanggung jawab, dari sekarang Maher sudah lebih terlihat di banding Mahira.
“Iya, Sayang. Jangan ganggu Mimi dulu ya! Mimi masih capek.” Mario mengelus kepala putrinya. Mahira pun mengangguk dan hanya ikut berbaring di samping ibunya.
“Pipi mau mana?” Tanya Maher yang mengekori ayahnya.
“Pipi, mandi dulu ya. Maher duduk di sini, Pipi setelkan kartun.” Mario menuntun putranya untuk duduk di sofa.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar Mario kembai di ketuk. Kali ini Ambar dan Tari yang mengetuknya, mereka panik saat terbangun tak ada si kembar di kamarnya.
Ceklek.
“Pak maaf, kami baru terbangun, tapi kembar tak ada di kamarnya.” Kata Tari menunduk, pasalnya Mario masih bertelanjang dada.
“Oh, iya. Anak-anak ada di kamar saya. Tidak apa.” Jawab Mario.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi. Pak.” Ucap Ambar yang langsung di angguki Mario.
Sebelum menutup pintu, Mario berkata lagi pada Ambar dan Tari. “Oiya, tolong buatkan Maher dan Mahira susu. Juga buat Bu inka.”
“Baik, Pak.” Ambar dan Tari membungkukkan separuh tubuhnya.
“Pipi, tinggal dulu ya. Sayang.” Mario mengelus kepala Maher yang sedang duduk di sofa.
Ritual mandi Mario tidak se-lama biasa, karena ia khawatir meninggalkan kedua anaknya tanpa pengawasan, mengingat Inka yang masih belum terjaga.
Ketika Mario keluar dari kamar mandi, keadaan kamarnya tak lagi seperti sebelumnya. Mahira sudah duduk di depan meja rias Inka dan mengacak-acak isinya. Mario langsung menggendong dan menurunkan Mahira lagi di tempat tidurnya.
“Sayang, itu bukan mainan Oke. Nanti kalau Mimi tahu bisa marah.” Mahira hanya tertawa melihat ayahnya memperingatkannya.
Kemudian, Mario mendekati lemari dan memakai pakaian.
“Pipi, Mimi ga pakai baju.” Mahira membuka selimut ibunya, dengan niat ingin membangunkan sang ibu.
Mario langsung berlari.
“Jangan, Sayang.” Mario kembali menutupi tubuh istrinya.
“Kok Mimi ga pakai baju, Pi? Aku kalo tidul pakai baju.” Celoteh Mahira.
“Mimi tadi malam kegerahan, karena pipi belum nyalain AC nya.” Jawab Mario ragu.
Mendengar riuh di kamarnya. Inka pun terbagun. Matanya mulai terbuka.
“Ini ada apa?” Inka bangun dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal itu.
“Mimi, ila takut petil.” Mahira memeluk ibunya.
Maher tak mau kalah. Ia langsung menaiki tempat tidur besar itu dan ikut memeluk ibunya. “Ahel, juga atut, Mi.”
Maher dan Mahira memeluk bahu Inka di kiri dan kanan.
Mario tersenyum, dan bayi besar itu pun ikut-ikutan memeluk istrinya.
“Aku juga atut, Mi.” Mario memeluk perut istrinya dengan perkataan yang meniru Maher.
Mereka berempat berpelukan dalam keadaan langit yang tengah mengguyur kota dengan deras dan sesekali suara petir yang menggelegar.
Setelah mandi junub, dan sholat subuh. Mario dan Inka kembali bermain bersama putra putrinya di tempat tidur. Mario selalu menggelitiki Maher dengan bulu-bulu halus di dagunya. Terkadang ia juga menggesekkan dagunya pada ketiak Mahira, membuat gadis kecil itu tertawa geli.
Maher, Mahira, dan Inka meminum susu yang di buatkan Ambar.
Glek.. glek.. glek..
Maher dan Mahira menenggak susu itu hingga tandas.
“Pipi ga num susu?” Tanya Maher sambil menyerahkan gelas kosong itu pada Mario.
“Susu Pipi beda.” Jawab Mario dengan melirik ke arah Inka.
“Apa?” Inka yang masih meminum susu, langsung membelalakan kedua matanya.
“Ih, Mimi galak banget.” Ucap Mario manja, sambil mencolek pinggang istrinya.