Istriku Canduku

Istriku Canduku
canggung dengan keadaan ini


Pagi ini, Inka datang lebih pagi ke butiknya. Mengingat Bianca yang masih belum bekerja dan Ameera yang dulu pernah bergabung di awal pembukaan butik ini, tapi hanya bertahan dua bulan karena ia harus resign mengikuti suaminya yang di tugaskan di kalimantan itu pun sedang tak bisa masuk karena anaknya sedang sakit. Sudah satu tahun terakhir Ameera kembali ke Jakarta dan mulai bergabung lagi di butik Inka sejak Bianca kecelakaan.


Tok.. Tok.. Tok..


Ceklek.


Sari membuka pintu ruangan Inka.


“Miss. Ada orang yang ingin memesan jas, tapi dia mau Miss sendiri yang mendesainnya.”


“Siapa? Pelanggan kita?” Tanya Inka, yang masih duduk di bangkunya sambil menyangga kedua tangannya di meja.


“Bukan Miss, kemarin dia ke sini nanyain Miss Inka. Tapi Miss lagi tidak datang ke sini.”


“Siapa ya?” Inka coba mengingat apa ia pernah janji dengans eseorang.


“Orangnya ganteng Miss, Badannya tegap seperi suami Miss. Pokoknya keren deh Miss.” Jawab Sari sambil membayangkan sosok pria yang ia lihat kemarin.


“Sar, Sar, kamu mah semua cowok di bilang ganteng. Makanya jangan jomblo terus.” Ucap Inka meledek.


“Pengennya sih, ngga jomblo Miss. Tapi saya udah terlanjur antipati sama makhluk yang bernama lelaki. Saya capek di khianatin mulu, Miss.”


“Ya, ngga semua cowok seperti itu, Sar. Kamu tetap harus membuka hati kamu. Walaupun memang sulit. Tapi yakinlah semua akan ada jalannya.”


“Iya, Miss. Ya udah saya permisi dulu.”


Inka mengangguk, dan Sari keluar dari ruangan itu.


Tak lama kemudian, Sari mengetuk pintu Inka kembali.


“Miss, Sorry, Cowok yang saya ceritain tadi ada di depan.” Kata Sari dengan suara setengah berbisik, sambil menongolkan kepalanya ke dalam ruangan Inka.


“Ya sudah suruh masuk.” Jawab inka, lalu berdiri dan merapihkan pakaiannya.


“Hai, selamat pagi. Masih ingat saya?” Sapa pria itu saat ia sudah memasuki ruangan Inka.


Inka masih mematung dan menyedekapkan kedua tangannya di dada.


“Hmm..” Inka mengetuk dagunya, sambil berpikir.


“Saya David. Teman Mario. Kita bertemu di lift kantonya Mario, lalu kita sempat berkenalan di ruangannya juga.”


“Oh iya, saya ingat. Halo apa kabar?” Inka mengulurkan tangannya lebih dulu.


David langsung tersenyum dan menyambut uluran tangan wanita yang selama ini ingin sekali ia temui.


“Saya baik, sangat baik. Kamu sendiri apa kabar?” David masih belum melepaskan tangan Inka yang mengulurkan lebih dulu untuk bersalaman.


“Mario juga baik, alhamdulillah kami semua baik.” Jawab Inka dengan senyum manisnya.


“Gue ngga tanya kabar Mario.” Batin David.


“Oh, bagus kalau begitu.” Sahut David.


Inka lagi lagi tersenyum, sambil melepaskan tangannya yang masih di pegang David.


“Maaf, tadi kata asisten saya, anda ingin di buatkan setelan jas formal.” Kata Inka menghilangkan ke canggungan keduanya.


“Iya betul.” Jawab David.


“Baiklah, silahkan duduk.” Ucap Inka lagi.


Inka berdiri dekat dengan tubuh David. Ia akan mengukur tubuh david untuk kebutuhan bahan yang akan ia buat menjadi sesuai dengan yang ia inginkan.


David menegakkan tubuhnya. ia memang tampak berbeda, lebih maskulin dan sangat tampan. Kalau dulu, ketika berkenalan dengan Inka, pakaian tidak se formal sekarang, dan wajahnya pun tidak sebersih sekarang. Saat ini penampilan David tidak jauh beda dengan Mario.


Mata David tak berhenti memandangi Inka yang tengah sibuk mengukur tubuhnya. Inka sesekali melihat ke arah mata David, membuat pandangan mereka bertemu. Sungguh Inka canggung dengan keadaaan ini.


“Selesai.” Ucap Inka, setelah ia berhasil mengukur ukuran kaki jenjang David.


“Hmm.. mungkin ini akan selesai satu atau dua minggu.” Kata Inka lagi.


‘Tidak masalah.” Jawab David yang ikut duduk di hadapan Inka.


“Oh ya, bukankah anda menetap di Bali?” Inka kemudian mengingat itu.


“Iya, tapi saat ini saya sedang berlibur ke Jakarta.”


Sari tertawa mendengar jawaban David. “Maaf ya pak, di Jakarta mah ngga ada tempat liburan. Kita malah kalau liburan ya ke Bali.”


David melirik ke arah Sari. Kemudian Inka tertawa. David kembali mengubah arah matanya, melihat manisnya Inka yang sedang tertawa.


Lalu ia pun ikut menarik sudut bibirnya.


****


Sore ini Mario sudah memberi kabar pada Inka, bahwa dirinya tak menjemputnya pulang. Inka di jemput oleh supir yang bekerja di kantor Mario. Saat ini, Mario tengah merampungkan pekerjaannya yang menumpuk dengan seorang diri, karena Dhani masih cuti. Walau Sherly juga bisa di andalkan, tapi kemampuannya tak sehebat Dhani.


Ceklek


Inka membuka pintu rumahnya, mendapati Mario dengan penampilan yang sudah berantakan. Dasinya kendur, matanya sayu dengan leher yang sesekali ia pijat sendiri.


“Kamu lelah sekali, Kak.” Ucap Inka yang tak tega melihat keadaan suaminya.


“Iya, tidak ada Dhani berasa sekali.” Jawabnya.


Kemudian Inka menggandeng Mario menuju kamarnya.


“Aku sudah siapkan air hangat.” Kata Inka sambil membantu Mario membuka pakaian yang sudah seharian di pakai.


“Aku buatkan jeruk hangat ya.” Tangan Inka di cekal, saat ia ingin ke dapur dan meninggalkan Mario.


“Nanti saja.” Mario memeluk Inka dengan bertelanjang dada.


“Aku lelah, peluk aku dulu.” Kata Mario lirih di telinga Inka.


Inka tersenyum dan memeluk erat suaminya. Memang sudah biasa Mario akan seperti ini di saat lelah. Sebelum tidur, pasti ia akan meminta jatahnya. Biasanya seseorang akan malas untuk berhubungan di saat lelah, tapi tidak untuk Mario. Ia malah akan suka menikmati hangatnya tubuh Inka untuk melerai rasa lelah itu.


Inka melayani setiap hal yang di butuhkan Mario, dari mulai air hangat untuk Mario mandi, pakaian tidur, hingga jeruk hangat plus madu kesukaan suaminya itu.


Mario berbaring di atas temapt tidurnya, mengikuti Inka yang sudah ada di sampingnya lebih dulu. Kemudian tangan Mario mulai mengelus bahu terbuka inka dengan bibir yang terus menelusuri bagian yang ia suka. Inka tahu maksud Mario. Ia menaruh ponsel yang dari tadi di pegangnya. Lalu membalas setiap kecupan lembut yang di berikan suaminya.


“Aaahh..” Mario ambruk dan menindih tubuh Inka saat pelepasan itu tiba.


Kemudian ia mengubah posisi untuk memeluk istrinya.


“Kak, tadi ada temanmu datang ke butik. Ia ingin aku membuatkan dua setelan jas formal untuknya.” Ucap Inka yang berada di dada Mario.


Namun Mario tak kunjung menjawab perkataannya. Inka menenggak, menatap wajah Mario yang sudah menutup matanya.


“Yah, dia tidur.”