
Chia dan Airu terlihat tak bersemangat, berkali-kali mereka menghela nafas.
"Sepi ya, enggak ada Yuri."
"Iya, biasanya dia paling rusuh."
"Deo?"
Deo melirik ke Chia dan Airu.
"Lo enggak kesepian apa, enggak ada Yuri?"
Deo juga sebenarnya merasa bosan. Biasanya dia dan Yuri selalu membuat keributan, namun kali ini dia tidak ada lawannya.
Bukan hanya Deo, Chia dan Airu saja ternyata. Bahkan teman sekelas, guru-guru, bahkan murid satu sekolah yang biasanya menyaksikan secara live keisengan dan suara cempreng gadis itu merasa di sekolah ada yang kurang.
"Kita nginap di rumah Yuri yuk, sampai dia sembuh?" ajak Airu.
"Enggak boleh!" larang Deo.
"Kenapa?"
"Kalian kan rusuh, nanti dia lama sembuhnya."
Chia dan Yuri berpikir, kemudian mengangguk.
"Iya deh, enggak jadi nginap."
Deo tersenyum penuh kemenangan, padahal bukan itu alasannya. Dia tidak ingin Chia dan Airu menginap, kan dia mau bobo bareng sama Yuri. Kalau ada Chia dan Airu, bisa-bisa dia yang harus ngungsi ke rumah orang tuanya, yang ada dia yang ditertawakan oleh kedua orang tuanya seperti saat itu.
Gara dan Qavi melihat Deo dengan tatapan aneh.
"Sejak kapan Deo peduli dengan Yuri?"
"Jangan-jangan Deo sudah mulai suka sama Yuri?"
"Jengukin Yuri, yuk. Gue kangen nih sama dia," ucap Gara.
"Enggak boleh!" Deo lagi-lagi melarang.
"Emang kenapa?"
"Kalau sakitnya menular gimana? Nanti kalian ketularan, terus enggak masuk sekolah, ketinggalan pelajaran, enggak bisa jawab soal, enggak naik kelas ...."
Panjang kali lebar Deo memberikan alasan hanya gara-gara tidak ingin Yuri didatangi orang lain.
Lagian ngapain kangen sama istri gue? Cuma gie yang boleh kangen sama dia.
Sedangkan yang dibicarakan lagi sibuk nonton drama Korea di kamarnya sambil menghabiskan lima bungkus kuaci dan pisang goreng.
Yuri mengirim pesan kepada Deo.
[Hubby, cemilan Yuri cantik habis. Pulangnya beliin lagi yang banyak, ya😘]
Giliran ada maunya, manggil hubby.
Tapi tetap saja dia tersenyum membaca pesan yang berisi pesanan itu.
"Itu Deo kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Setres kali dia, merasa hidupnya hampa tanpa kehadiran Yuri."
"Emang beneran dia suka sama Yuri?"
"Ya, kali."
.
.
.
Jam istirahat berbunyi, Deo, Gara dan Qavi segera ke kantin. Sesampainya di kantin, Deo langsung membeli cilok dua puluh ribu, yang akan dia makan sendiri. Begah apa enggak, itu?
"Deo, lo buat apaan makan cilok sebanyak itu?"
"Lapar, gue."
"Kenapa makan cilok, enggak bakso atau mie ayam, atau nasi goreng?"
"Itu kan makanan kedoyanan Yuri."
"Yuri mah makanan apa aja doyan, dia doyan cilok gara-gara beli seribu juga masih masih bisa."
"Ita juga, ya. Terus dia beli air miberal gelas yang hanrganya gope ...."
"Sisanya dia ngejarah makanan dan minunan kita."
Chia dan Airu terkikik geli mengingat tingkah Yuri itu. Deo mengerucutkan bibirnya saat mendengar istrinya digosipin.
Bukan karena Yuri pelit atau gak mau rugi, hanya saja gadis itu memang suka ngerusuh. Kalau Chia atau Airu ketinggalan dompet, dia juga suka mentraktir mereka tanpa mau diganti.
"Orang kaya, mah, uangnya gak perlu diganti. Jangankan bakso satu mangkok, lo mau makan bakso ratusan mangkok juga bisa."
"Beneran?"
"Iya, dong. Tapi lo nikah dulu sana sama abangnya," ucap Yuri pada Chia.
Deo langsung tertawa ngakak sampai keselek cilok gara-gara mengingat perkataan Yuri dulu.
Yah, meskipun tidak ada Yuri, hanya dengan mengingatnya saja, sudah membuat mereka tertawa.
Istri gue memang selalu ngangenin. Kapan dong ah, gue belah durennya?