Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 65 Tinggal Kenangan


Selama satu minggu ini, mereka akan menginap di vila ini. Memang hanya berlibur ke Puncak, bukan tempat jauh yang membutuhkan banyak biaya.


Bagi mereka sekarang, yang terpenting adalah kebersamaannya. Mereka setiap harinya akan sibuk di kebun, jalan-jalan, ke empang, dan menangkap ayam.


"Ayo kita naik kuda dan main paralayang."


Ada beberapa kuda yang disewakan. Keluarga Deo juga punya beberapa kuda, yang sudah dilatih dengan sangat baik. Deo mengajak Yuri naik kuda yang sama.


"Nanti jatuh."


"Enggak, Yang. Si Rocky ini sudah terlatih. Apalagi doa sudah mengenal aku."


Yuri akhir naik kuda itu, yang dibantu oleh Deo. Deo sendiri dengan lincah naik ke atas Rocky dan duduk di belakang Yuri. Sebagian dari mereka harus dijaga oleh pengawas. Kuda-kuda itu berjalan beriringan. Angin sejuk yang bertiup membuat rambut Yuri berterbangan. Deo yang duduk di belakangnya, mengikat rambut istrinya itu dengan sapu tangan miliknya.


"Kamu senang?"


"Iya. Yang lain juga kelihatan senang."


Gara sejak tadi terus merekam kegiatan mereka. Buat kenang-kenangan saat mereka tidak lagi bersama.


Ada perasaan sedih di hari masing-masing. Waktu yang selama ini mereka habiskan di dalam kelas, dengan bercanda, mengejek, dan kegiatan lainnya yang selalu heboh dan membuat para guru pusing, kini hanya akan menjadi kenangan.


Mereka harus berpisah, untuk menuju yang lebih baik lagi. Sama-sama mengejar cita-cita untuk masa depan mereka.


Ada yang menangis diam-diam. Bukannya cengeng. Tapi setiap manusia pasti punya rasa haru.


Kalau saja mereka tahu perpisahan ini akan seperti ini, mungkin mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama.


Kelas mereka adalah kelas yang paling kompak.


Mereka satu persatu bermain paralayang. Berteriak sepuasnya untuk mengungkapkan isi hati mereka.


Setelah puas bermain, mereka kembali ke vila. Para pelayan sudah menyiapkan kebutuhan untuk acara bakar-bakar.


Api unggun sudah disiapkan. Potongan daging dan sayur juga sudah disiapkan.


Para pria mulai membakar daging dan seafood, sedangkan ya g perempuan menyiapkan bumbu dan minuman. Mereka sama sekali tidak mengeluarkan uang, kerena semua sudah disiapkan oleh keluarga Deo.


Semua menikmati liburan ini. Mereka duduk di antara api unggun, sambil makan makanan yang sudah mereka baut sendiri.


"Ayo, kalau ada yang mau mengeluarkan unek-unek mereka selama ini yang terpendam, keluarkan saja," ucap Rizki.


"Aku sedih, karena kita akan berpisah jalan," ucap Chia yang mulai sesenggukan.


"Tadinya aku enggak PD karena Haris satu kelas dengan kalian. Kalian rata-rata berasal dari keluarga yang kaya, sedangkan aku hanya murid dari keluarga miskin yang mengandalkan beasiswa. Tapi setelah berteman dengan kalian, aku senang. Kalian tidak sombong seperti yang aku pikirkan. Mungkin kalau aku sekolah di sekolah lain, akan beda ceritanya," ucap salah satu murid.


"Aku juga. Aku suka minder. Apalagi masuk ke kelas unggulan. Sekolah ini terkenal dengan murid-muridnya yang pintar, aku jadi takut ada di posisi paling akhir. Ternyata, meskipun kalian pintar, tali masih doyan nyontek juga."


Terdengar suara tawa. Iya, mereka memang pintar semua, tapi tetap saja, ada perasaan malas untuk mengerjakan PR. Pintar semua bukan berarti semuanya akan menjadi nomor satu, tetap saja punya level masing-masing.


Ada yang sangat mahir di matematika.


Ada yang lebih pintar di biologi, dan seterusnya.


Itu tandanya, tidak ada manusia yang sempurna.