
Waktu berlalu, tidak terasa kini Yuri, Deo dan teman-trmannya akan mengikuti ujian kenaikan kelas. Mereka membahas soal apa saja yang kira-kira akan keluar dalam ujian itu.
"Kira-kira pengawas kita siapa, ya?"
"Moga-moga saja pengawas kita matanya kelilipan, jadi bisa nyontek."
"Ye, mau ujian doanya malah enggak benar. Doa tuh semoga bisa ngerjain dengan baik."
"Nah, itu kan aku doanya benar. Semoga bisa nyontek biar bisa ngerjain dengan benar."
"Terserah dah, terserah."
Yang lain sibuk membahs soal ujian, lain halnya dengan Yuri dan Deo. Yuri sedang membayangkan liburan ke luar negeri kalau nilai-nilainya bagus. Sedangkan Deo sedang merencanakan program anak.
Mumpung libur, bisa punya banyak waktu untuk uji coba, syukur-syukur kalau langsung jadi, pikirnya. Memikirkan hal itu langsung membuat Deo senyum-senyum tidak jelas.
"Kenapa tuh, anak?" tanya Gara pada Qavi.
"Enggak tahu, setres kali, karena kebanyakan belajar, takut kesaing sama Yuri."
Bel masuk berbunyi, murid-murid langsung ke tempat duduk masing-masing.
Yuri dan Deo dapat mengerjakannya dengan lancar, katena tadi malam mereka belajar bersama, bukan karena mereka telah akur, tali mereka sudah dijanjikan akan diajak liburan ke Belanda kalau mereka mau belajar bersama.
🍁🍁🍁
"Susah banget sih, soalnya," keluh salah seorang murid dengan wajah lesu.
"Iya, mana pengawasnya mondar mandir terus."
Keluhan dari para murid terus terdengar di kantin, namun Deo dan Yuri santai-santai saja. Tiba-tiba Yiri teringat sesuatu, dia langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan.
Ponsel Deo berbunyi, pesan dari IPK alias Istri PerawanKu, bukan indeks prestasi komulatif milik anak kuliah.
[Hubby, kalau aku dapat juara umum, kamu mau kasih aku kado apa?]
Cih, manggil hubby, dan aku kamu. Dia kan saingan gue, masa minta hadiah sama gue, sih?
[Honeymoon?]
[Iya, nanti pulang dari honeymoon, kamu pulangnya bisa bawa oleh yang bisa kamu pamerin ke Cgia dan Airu.]
[Mau mau mau.]
[Iya, ayo kita honeymoon.]
Dalam hati, Deo tertawa penuh kemenangan.
Dia tahu tidak, sih, kalau oleh-olehnya tuh baby di perutnya. Asik, sebentar lagi gue gak perjaka.
Tanpa sadar mereka bedua dama-sama tersenyum, memikirkan tentang jalan-jalan yang dijanjikan Deo, tapi dalam hal yang berbeda maknanya.
"Yuri, lo kenapa sih, senyum-senyum sendiri, gitu?" tanya Airu yang sejak tadi memperhatikan Yuri.
"Gue lagi membayangkan liburan nanti, jalan-jalan ke luar negeri. Ketemu sama bule-bule ganteng, atau oppa-oppa keren. Ahhh, sudah gak sabar."
Deo yang mendengar itu langsung mendengkus.
Baru juga diajak honeymoon, malah ngebayangin cowok lain. Sebenarnya dia ngerti gak sih, apa yang aku katakan tadi? Punya istri kok pecicilan banget. Seharusnya gue juga minta jatah, kalau nilai gue bagus dia mau kasih apa? Tapi, paling juga dia ngasih cilok.
"Kaloan taruhan lagi, siapa yang nilainya paling bagus?" tanya Qavi, karena setiap ulangan, apalagi ukangan umum, kedua manusia tak pernah akur itu pasti taruhan.
Deo dan Yuri saling pandang.
"Boleh. Deo, kalau gue bisa ngalahin lo, lo harus kasih gue uang jajan buat gue liburan nanti. Tapi kalau lo yang menang, gue yang kasih lo uang."
Deo mendelik pada Yuri.
Percuma lo kasih gue uang, juga. Ujung-ujungnya kan tuh uang balik lagi ke tangan lo, dengan alasan minta nafkah pada suami. Emang lo kira gue enggak tahu akal bulus, lo.
Yuri yang ditatap seperti iti oleh Deo, hanya menamoilkan wajah polosnya sambil memakan bakso camour cilok.