Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 15 Sedekah


"Yuri, lo kok sekarang kalau nilainya lebih tinggi dari Deo, enggak pernah heboh lagi, sih?"


"Kan ilmu padi, semakon berisi semakin merunduk."


"Ilmu padi, Mbahmu! Kalau gue dapat nilai enam, lo suka ngakak," ucap Rizki si raja enam.


"Ya iya gue ketawa, masa gue manyun, nanti dikira ngiri, julid lagi."


Mereka menghela nafas, ada-ada saja jawaban si Yuri yang memang selalu bisa menjawab semua pertanyaan tanpa takut salah dan dosa.


"Ngomong-ngomong, liburan kenaikan kelas kita ke mana, nih?"


"Singapura."


"Australia."


"Malaysia."


"Korea."


"Jepang."


"Dih, pada kagak nyadar diri. Pergi ke mall saja suka minta ongkosin," celetuk Amel.


"Jangan bongkar-bongkar rahasia napa."


"Tau nih Amel, gangguin orang yang lagi ngehalu jalan-jalan ke luar negeri."


Itulah kelas mereka, meskipun ada yang berkata sedikit nyelekit, tapi tak ada yang tersinggung.


"Semoga nanti kelas tiga, kita sekelas lagi, ya?"


"Enggak, enggak mau gue."


"Kenapa emang?"


"Pusing gue, selalu melihat persaingan Deo dan Yuri. Yang juara juga dia lagi, dia lagi."


"Benar jiga, semoga kelas tiga nanti, kita tidak satu kelas dengan mereka."


Tuk


"Aw!"


Tuk


"Aw!"


Yuri menjitak kedua teman sekelasnya itu.


"Dasar pengkhianat, belum tentu yang lain mau ngasih kalian contekan. Siapa lagi cewek cantik, pintar, murah senyum dan tidak sombong yang begitu royal dengan jawaban ulangan. Siapa siapa siapa?"


Teman-teman sekelasnya berpikir, lalu mangut-manggut.


"Iya juga, ya."


"He'em. Apalagi Yuri kalau disogok gak ribet, cukup dijajani cilok juga baik."


"Nah, sudah pada ngertinkan sekarang? Ayo ikuti kata-kata gue. Ya Allah, semoga kelas tiga nanti kami semua satu kelas lagi sama Yuri, kecuali Deo. Aamiin."


"Ya Allah, semoga kelas tiga nanti kami semua satu kelas lagi sama Yuri, kecuali Deo. Aamiin."


Dengan datuh dan tertib mereka mengikuti perkataan Yuri.


"Pintar anak-anak."


Deo mendelik tajam.


"Bisrin enggak usah sekelas sama gue. Mulai besok kalau ada yang terlambat hukumannya gue suruh nyuciin mobil satu sekolah."


"Ya Allah, semoga kelas tiga nanti kami semua satu kelas lagi sama Yuri dan Deo. Aamiin."


Tanpa diperintah, mereka melakukan doa bersama.


Seorang guru yang melihatnya dari luar kelas, tertawa pelan dengan perilaku murid-murid di kelas itu yang terkenal paling rusuh namun juga paling kompak. Tidak ada kesenjangan yang terjadi.


Mau pintar atau tidak


Kaya atau miskin


Semua terlihat akur dan saling membantu, termasuk membantu saat ulangan.


Pernah Yuri kepergok memberikan contekan lada temannya, lalu dia menjawab, "Tolong menolomgbdan gotong royong, Pak. Lagian saya sekalian sedekah, kan harus berbagi kepada yang membutuhkan."


Benar-benar jawaban yang membuat orang lain kehilangan kata-kata.


"Jadi ke mana nih, liburan nanti?"


"Ke Bali."


"Jogja."


"Ujung-ujungnya nanti ke Puncak, nih. Makan jagung bakar."


"Lah, mending ke Puncak, yang malah ke Ragunan doang, yang paling dekat."


Suara tawa memenuhi kelas itu.


Suara bel berbunyi, menandakan pergantian pelajaran. Pelajaran yang sebelumnya kosong karena gurunya tidak masuk, hanya memberikan tugas untuk membuat rangkuman. Dikerjakan hanya dengan satu paragraf yang terdiri dari sepuluh baris saja.


"Kan rangkuman, bukan karangan. Ya ngapain panjang-panjang," begitu kata Yuri. Tuh kan benar, selalu bisa menjawab.


Mereka kadang berpikir, kalau Yuri jadi pengusaha, pasti duitnya banyak. Dihukum saja dia bisa menghasilkan uang, dan selalu bisa menjawab pertanyaan walau suka seenak jidatnya.


.


.


.


Jam istirahat berbunyi, Yuri, Chia ada Airu segera ke kantin. Di belakang mereka ada Deo, Gara dan Qavi.


"Makan apa kita?"


"Aku pengen makan mie ayam bakso super," jawab Yuri antusias.


"Aku juga, deh," balas Chia dan Airu bersamaan.


"Mah makan apa, kita?" tanya Qavi.


"Aku pengen makan mie ayam bakso super," jawab Deo mengikuti Yuri.


Chia memesan makanan untuk mereka, Airu memesan minuman, sedangkan Yuri membeli cilok sebagai menu pembuka.


"Ya ampun Yuri, lo beli cilok juga?"


"Iya, kan menu pembuka."


Chia dan Airu mengeleng-gekengkan kepala. Temannya yang satu ini memang doyan makan, apalagi yang gratisan.


"Bagi dong, ciloknya."


Tanpa membantah Yuri langsung menyuapi Deo cilok tersebut. Chia, Airu, Gara dan Qavi hanya bisa melongo, termasuk seluruh warga kantin.


Tumben mereka akur, jangan-jangan jadian.


Begitulah isi pikiran mereka.


Makanan yang mereka pesan datang, dan mereka makan dengan khusyuk.


"Mpok, Bang, makanan dan minuman Yuri cantik dibayar sama Deo, ya," teriak Yuri memberi tahu seluruh orang.


"Loh, kok gue? Kan lo yang makan."


"Kan lo udah minta cilok gue, mana gue suapin lagi."


Mereka langsung tertawa, apalagi teman-teman satu kelas. Deo sepertinya kurang fokus hari ini, seharusnya dia lebih waspada jika Yuri menurut tanpa membantah.


Menang banyak tuh, Yuri.


Lagi-lagi itu yang ada dalam pikiran mereka.


Dah dikasih uang jajan tiap hari sama uang bulanan, masih aja malakin suami.


Mom, dad, menantu kalian benar-benar matre. Untung istri gue, kalau bukan dah gue suruh sikat kamar mandi, dah.