Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
46 Dikurung


Arby menatap Freya yang duduk santai diatas brankar UKS.


"Kenapa sih kamu selalu bikin masalah?"


"Aku seperti ini kan karena kalian, masis saja tidak sadar diri."


"Jadi mau kamu apa?"


"Aku mau kita pisah."


"Kamu pikir setelah kita pisah, akan ada laki-laki yang mau bersama kamu?"


"Banyak. Aku cantik, pintar, aku juga bisa mencari uang sendiri."


"Kamu lupa, kalau kamu itu bekas aku, pernah hamil, juga pemakai."


Freya mengepalkan tangannya. Dia benci perkataan Arby, bukan karena Arby mengatakan dia pemakai, tapi karena dia dibilang barang bekas.


"Ck, aku bisa ke luar negeri. Di sana, virgin atau tidak bukanlah hal yang penting. Sekalipun aku harus melajang seumur hidup, setidaknya aku tidak bersama laki-laki pecundang seperti kamu."


Freya tertawa sinis menatap Arby.


"Kamu mungkin berpikir karena kamu tampan dan kaya, maka semua perempuan akan bertekuk lutut sama kamu. Kamu salah besar."


Sebelum Arby menjawab, pintu ruang UKS itu terbuka.


"Ayo kita pulang!"


Wildan menarik kasar tangan Freya, entah kenapa sejak menikah dengan Arby, anaknya ini selalu membuat ulah. Selama ini hubungan Freya dengan keluarganya memang tidak dekat, tapi dia tidak pernah membuat mereka sampai naik darah seperti ini.


Dua puluh menit kemudian mereka tiba di kediaman Arlan.


"Panggil semua pelayan dan security!"


Para pelayan dan security berbaris di hadapan mereka.


"Apa selama ini Freya sering menerima paket atau ada yang menemuinya?"


"Hanya nona Nania dan Aruna saja, tuan."


"Terkadang memang ada kiriman paket tuan."


"Dari mana?"


"Toko online, tuan."


"Apa yang kamu pesan, Freya?"


"Ce**na dalam dan b*a."


Jawaban Freya yang ceplas ceplos itu entah kenapa justru membuat mereka malu.


"Biasanya kamu membelinya langsung di mall?"


"Ya kan kalian tahu sendiri sejak tinggal di sini aku jadi penyakitan. Boro-boro jalan ke mall, pergi ke sekolah saja aku jarang."


Meskipun dikatakan dengan ketus, tapi dalam hati mereka membenarkan perkataan Freya.


"Kalian ikut saya geledah kamar Freya."


Keempat orang tua itu termasuk Arby dan asisten rumah tangga memasuki kamar Freya. Mereka membongkar semua isi lemari dan laci meja.


"Jangan dilempar sembarangan napa, ini kan baru beli, belum pernah dipakai."


Freya memamerkan pakaian dalamnya di hadapan mereka, membuat wajah Arby memerah.


Barang-barang Freya berantakan di atas kasur dan lantai, namun mereka tidak menemukan apa-apa.


"Mulai hari ini, tidak ada yang boleh menemui Freya. Jika ada paket untuknya, langsung kasih ke saya."


"Enggak bisa gitu, dong. Aku kan harus sekolah."


"Untuk sementara ini kamu sekolah dari rumah saja."


Para asisten rumah tangga kembali merapihkan barang-barang Freya.


.


.


.


Mereka mengundang dokter Anwar, Gani, Yusuf dan Adam, juga psikolog dan psikiater Freya. Perdebatan antara keluarga vs para dokter, termasuk psikiater dan psikolog kembali terjadi.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?"


"Freya tidak boleh keluar dari rumah ini sedikit pun."


"Itu akan semakin membuat Freya tertekan. Seharusnya kalian sadar apa yang menyebabkan Freya seperti ini."


"Seharusnya kalian tidak menikahkan mereka."


"Kami hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak kami."


"Apanya yang terbaik? Perbuatan kalian justru merusak Freya."


"Tahu apa kalian tentang semua ini?"


"Dengar, meskioun kita keluarga, tapi posisi kami di sini adalah dokter. Setiap dokter pasti menginginkan yang terbaik untuk pasiennya."


"Lalu apa hasilnya baik? Tidak, kan?"


"Jangan ikut campur masalah ini."


"Kalian bilang kami jangan ikut campur, tapi kalian sendiri yang menyuruh kami datang ke sini."


"Yang menjadi tugas kalian adalah mengobati Freya, itu saja."


"Freya itu sakit psikitisnya. Bukannya sakit kepala lalu disuruh minum obat warung bisa sembuh."


"Itu benar. Mengobati Freya bukan hanya dengan menyuruhnya minum obat tiga kali sehari lalu menina bobokannya agar dia bisa tidur."


"Psikitisnya yang harus diobati, dan itu tidak mudah. Butuh kerja sama dari pihak keluarga dan orang-orang di sekitarnya."


"Anak seperti Freya itu tidak bisa dikekang dan dikerasin."


"Itu benar."


"Jadi, apa keputusan sekolah mengenai Freya, apa dia dikeluarkan?"


"Mana mungkin, aku pemilik sekolah itu. Mana mungkin aku mengeluarkan menantuku sendiri."


"Masukan Freya ke pusat rehabilitasi."


"Itu juga tidak mungkin, apa nanti kata orang-orang."


"Lalu maumu apa?"


"Freya bisa direhab di rumah saja."


"Apa kau yakin?"


"Aku tidak ingin orang-orang tahu tentang masalah ini."


Freya yang mendengar itu tanpa tahu siapa saja yang berbicara, merasa jengah.


Apa kubilang! Mereka pasti tidak akan mengeluarkan apalagi melaporkan aku. Bagi mereka nama baik adalah segalanya. Bukankah mereka sendiri yang menyebabkan aku berbuat seenaknya? Bahkan jika aku membunuh orang, mereka pasti akan menutup rapat-rapat kesalahanku.


Bukankah itu berarti aku harus memanfaatkan kebodohan mereka itu?


"Pusing aku, Nun. Freya bikin ulah terus."


"Ya sudah, besok kita lanjut lagi ya di sekolah."


Freya mendengkus mendengar Arby yang menelpon Nuna, bukan karena dia cemburu, hanya saja dia benci pada orang yang munafik.


Sok nurutin perintah orang tua tapi juga enggak mau mengorbankan perasaan sendiri.


🌸🌸🌸


Nania dan Aruna menatap bangku Freya yang kosong. Sejak kemarin Freya belum bisa dihubungi.


"Freya gimana, ya. Dia baik-baik saja, kan?"


"Mana mungkin dia baik-baik saja. Dia pasti dimarahin oleh keluarganya dan keluarga Arby."


"Itu beneran Freya make?"


"Kemungkinan besar iya, karena Freya tidak sekolah hari ini."


"Pulang nanti kita lihat Freya, yuk."


"Pasti sulit. Freya sepertinya dikurung di kamar."


Nania dan Aruna sama-sama menghela nafas berat.


Marcell, Vian dan Ikmal menatap ke dua gadis itu.


"Arby enggak cerita apa-apa?"


"Enggak."


Seperti halnya dengan Nania dan Aruna, ketiga pemuda itu juga sedang membahas Freya.


"Itu kira-kira Freya dapat dari mana, ya? Aku jadi penasaran."


"Kira-kira Nania dan Aruna enggak begitu juga, kan?"


Mereka kembali melihat kedua gadis itu yang terlihat lesu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Freya menendang pintu kamarnya yang dikunci dari luar. Saat dia melihat ke bawah dari atas balkon kamarnya, dua penjaga sedang berdiri.


Freya melihat ada cicak, lalu menangkap cicak itu dan melemparnya ke salah satu penjaga.


Terdengar suara teriakan.


Cih, badan doang gede, tapi takut sama cicak.


Freya terus memikirkan cara untuk menghibur dirinya yang dikurung di dalam kamar. Ponselnya sedang disita, untuk memeriksa siapa saja orang-orang yang dia hubungi atau menghubunginya.


Mereka pikir Freya bodoh?


Tentu saja Freya sudah menghapus semua jejak. Jika saja kemarin tidak ada razia, tentu saja Freya masih aman-aman saja. Dia hanua sedang sial saja karena lupa menyembunyikan barang-barang itu di sekolah.