Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 48 Demo


Dengan bujukan Deo dan yang lain, akhirnya Yuri mau kembali ke sekolah. Dia berjalan menunduk, takut melihat atau mendengar bisikan tentang dirinya. Tapi sejauh dia berjalan, belum ada yang terjadi, semua terlihat normal.


"Eh Yuri, sudah sembuh? Maaf ya, aku enggak sempat nengok kamu," ucap seorang murid yang berbeda kelas.


"Enggak apa."


Melihat sikap murid-murid yang lain terhadapnya, tingkat kepercayaan diri Yuri kembali bangkit.


"Sebagai perayaan kembalinya Yuri cantik ke sekolah, hari ininYuri traktir kalian jajan cilok, goceng. Nanti Deo yang bayar, ya!"


Anak-anak yang ada di Koridor itu bersorak, lumayan dapat cilok.


Deo menghela nafas, berapa banyak yang harus dia keluarkan untuk membayar cilok satu sekolah?


Untung aku kaya tujuh turunan.


Emily melihat kedatangan Yuri, tapi tidak berkata apa-apa.


"Emi, lo harus minta maaf tuh sama Yuri. Kan gara-gara lo, Yuri sampai jatuh!"


"Enak saja, jangan asal tuduh, ya. Buat apa juga aku minta maaf, aku enggak salah apa-apa, kok."


"Dah biarkan saja, nanti juga kena karmanya tuh anak!"


Satu kelas itu tidak ada yang menyukai Emily, karena sombong.


Pelajaran pertama dimulai, guru memberikan tugas kelompok. Seperti biasa, Emily selalu membuat ulah, tidak mau bekerja sama.


Terjadi keributan di kelas, sampai akhirnya guru masuk dan melihat pertengkaran itu.


"Kalian bukannya mengerjakan tugas, malah bertengkar!"


"Ini nih, Bu. Emi enggak mau mengerjakan bagiannya. Masa dia enggak kerja tapi mau dapat nilai."


"Iya Bu, selalu seperti itu. Sama tugas yang lain juga begitu."


"Benar begitu? Kenapa Emily?"


"Gue enggak mau satu kelompok sama lo. Apa-apa mau enaknya saja. Sombong, sok cantik, sok pintar!" ucap Deo ketus.


Yang lain diam. Deo tidak pernah seperti itu. Deo memang sering bertengkar dengan Yuri, tapi tidak pernah bicara kasar apalagi mencela. Terlihat sekali kalau Deo juga tidak suka pada Emi.


"Sudah-sudah. Emily, kamu satu kelompok dengan yang lain saja, ya."


"Enggak mau."


"Dih, memangnya kami mau satu kelompok sama kamu. Pindah sekolah saja sana! Enggak gua juga ada di sini," ucap Rizki.


"Iya Bu, pindahkan saja dia. Dari pada di kelas kami, penuh-penuhi tempat saja, ngabisin udara!"


"Tenang anak-anak, tenang."


Keributan itu membuat kepala sekolah datang. Mereka langsung mengajukan protes kepada kepala sekolah, minta agar Emi dipindahkan, setidaknya jangan di kelas mereka.


"Kan dia juga dorong Yuri, sampai jatuh! Enggak mau minta maaf, membesuk di rumah sakit saja nggak mau."


"Halah, jatuh begitu saja sampai dirawat di rumah sakit, lebay!"


Deo mengepalkan tangannya, dia merasa jengah dengan sikap Emi.


"Pak, pokoknya kami mau dia dikeluarkan dari kelas kami, atau kami tidak akan sekolah!"


Mereka langsung berdiri di belakang Deo, mendukung pemuda itu. Rizki menatap ayahnya, cuma cengar-cengir saja karena ikut demo.


"Kita bicarakan baik-baik."


"Bicara baik-baik mah sudah dari dulu, Pak. Emang dianya saja yang bebal. Mana ada di kelas ini yang mau berteman dengan dia," ucap Chia.


Chia dan Airu juga masih sangat marah pada Emi, karena Emi sudah membuat Yuri keguguran, meski dia tidak tahu, tapi setidaknya minta maaf, kek!


Guru-guru yang lain juga sering mendengar keluhan tentang Emi dari murid lainnya.