Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 9 PR Yuri


Deo melihat buku PR Yuri yang masih kosong. Istri perawannya itu tidur meringkuk seperti ulat sayur bayam. Jiwa dermawannya timbul tenggelam, namun akhirnya dia mengambil buku PR itu dan mengerjakan soal-soalnya.


Gue baik, kan, Kate. Mau mengerjakan PR lo. Bukan karena gue kesemsem sama lo, tapi karena gue suami yang berhati mulia.


Gila, gue cerdas banget ya, soal sebanyak ini gue kerjakan kurang dari sepuluh menit.


Ya jelas saja dia kerjakan kurang dari sepuluh menit, kan tinggal nyalin dari buku PR-nya sendiri, alias copy paste.


Ngomong-ngomong, si Kate mau datang bulan, terus gue kapan buat baby?


Akhirnya Deo selesai mengerjakan soal yang berjumlah tiga puluh itu, dan langsung pergi tidur sambil memeluk guling asli.


.


.


.


Pagi-pagi sekali Yuri kelabakan karena lupa mengerjakan PR.


"Dah, jangan panik. Suami teladan lo ini sudah mengerjakan semuanya."


"Benar?"


"Iya."


"Lo jawab yang benar kan, semuanya?"


"Iya."


"Lo enggak lagi ngerjain gue, kan?"


"Iya, eh enggak."


"Ya udah, mana?"


"Apanya?"


"Jajan."


Deo mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Dihemat-hemat ya, belanjanya. Beli ayam setengah ekor sama bumbu instannya 2.000, sayur asem 3.000 aja. Bumbu instannya juga 2.000. Beras satu liter. Tempe satu papan, atau tahu satu bungkus."


Yuri manggut-manggut mendengar penjelasan bapak rumah tangga itu.


Mereka menuju ruang makan yang sudah ada daddy dan mommy.


"Mommy?"


"Ya cantik, kenapa?"


"Ayan setengah ekor harganya berapa, Mom?"


Glek


Deo menatap Yuri.


Bisa-bisanya dia nanya harga setengah ekor ayam pada mommy.


"Coba kamu tanya bibik. Memangnya kenapa kamu nanya itu?"


"Tadi Deo kasih aku uang buat belanja. Katanya harus hemat, beli setengah ekor ayam, sayur asem 3.000. Bumbu instan buat sayur dan ayam masing-masing harganya 2.000. Tempe atau tahu. Oya, beras satu liter. Kalau aku beli minyak sama cabe dan bawang, juga tomat, buat bikin sambel, segini cukup enggak, Mom?"


Yuri menunjukkan uang selembar lima puluh ribu.


"Deo ngasih kamu uang itu dan harus hemat?" tanya Ray.


Yuri mengangguk polos.


Ray dan Mina mendelik tajam pada Deo. Ray langsung memgeluarkan dompet dari kantong celananya dan mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah. Lalu Mina juga mengeluarkan uangnya dengan jumlah yang sama.


"Buat kamu jajan. Jangan hemat-hemat, nanti kamu kekurangan gizi, apa kata papi dan mami kamu pada kami."


"Buat aku, Dad, Mom?"


"Iya, buat kamu semua. Deo enggak usah dibagi. Masalah uang belanja, selama kamu tinggal di sini, itu urusan mommy."


"Asik asik asik, uangku jadi banyak."


Yuri lalu mengeluarkan sisa uang lima puluh ribu yang jumlahnya ada 20 lembar (berarti satu juta juga).


"Hm, uang itu dari?"


"Dari Deo juga. Kalau lima puluh ribu cukup buat belanja, kan berarti aku masih punya sembilan ratus lima puluh ribu buat jajan. Tapi karena Mommy udah bilang aku enggak usah belanja, uangku jadi utuh, deh. Deo, gue punya tiga juta dong, pagi ini."


Ray dan Mina saling lirik. Mereka berdua baru saja kena tipu atau apa sih, sama menantu matrenya?


"Daddy dan Mommy memang mertua idaman."


Yuri memberikan dua jempolnya. Lalu memeluk dan mencium pipi Mina. Namun sebelum Yuri memelukn dan mencium pipi Ray, Deo langsung protes.


"Gue juga tadi ngasih lo uang satu juta, ko' enggak dicium?"


Cup


Cup


"Ya ampun, Dad. Muka anak kita malu-malu gitu."


"Anak kita norak, ya, Mom. Masa baru dicium gitu aja langsung panas dingin, gimana kalau ngerasain yang lain?"


"Nurunin siapa sih, Dad?"


"Yang jelas bukan aku. Aku kan enggak malu-maluin gitu."


"Iya, bukan dari mommy juga, Dad."


"Kita berdua kan sama-sama doyan nyosor."


Sepasang suami yang sudah tak muda lagi itu terkikik geli, tanpa sadar bahwa masih ada dua anak muda yang mendengarkan pembicaraan mereka.


Deo dan Yuri saling pandang, lalu menghela nafas.


💕💕💕


"Yuri, kamu tahu pelajaran saya apa?"


"Tahu dong, Pak. Bapak ngajar kimia, kan?"


"Terus kenapa jawaban PR kamu nomor lima belas seperti ini?"


"Memang kenapa, Pak?"


"Maju kamu, bacakan jawaban kamu dengan nyaring!"


Yuri langsung maju dan mengambil buku PR dari tangan guru kimia itu.


"Baca dengan lantang, sampai teman-teman kamu mendengarnya."


"Lagi datang bulan, kapan bikin babynya?"


Suara tawa para murid terdengar. Yuri menatap tajam pada Deo, kan dia yang tadi malam mengerjakannya.


Deo mendadak jadi orang cacat.


Pura-pura enggak dengar dan enggak lihat.


Mampus gue, mampus gue.


Suruh siapa tadi malam saat mengerjakan PR, pikirannya ke mana-mana. Kan jadinya tangannya menulis apa yang ada dalam hati dan pikiran, yaitu bikin anak.


"Kamu ini ya, Yuri. Masih bocah tapi ngeres."


Teman-temannya semakin tertawa keras. Namun Deo terlihat cemas, bukan karena takut diamuk Yuri, tapi khawatir gadis itu malu dan menangis karena ketidak sengajaan dirinya dalam menjawab PR.


"Pak, maaf, itu saya yang nulis," ucap Deo.


"Maksudnya?"


"Tadi pagi saya iseng, Pak. Mau ngerjain Yuri, eh malah kelupaan saya ganti lagi, jawabannya. Hehehe, maaf ya, Pak."


"Benar ini kamu yang nulis?"


"Iya, masa Bapak."


"Kalian berdua ini, ya. Kenapa sih dari kelas satu enggak pernah akur?"


"Ya udah, Yuri. Sekarang kamu duduk lagi."


Mulut Yuri komat kamit saat melihat Deo. Deo langsung mengirim pesan ke Yuri.


[Tenang aja, nanti uang jajan lo, gue tambahin, deh.]


[Ish, lo kira gue cewek murah yang bisa dibujuk pake uang.]


[Kan gue juga enggak sengaja, Yuri. Lo mau apa, biar enggak ngambek lagi?]


[Nanti malam nginap di rumah mami, ya.]


Deo jadi ingat, selama mereka menikah, memang belum pernah pulang ke rumah orang tua Yuri.


[Ya udah, kita nginap di rumah mami satu minggu.]


[Jangan lupa, uang jajan tambahin. Kan tadi lo yang nawarin, hehehe.]


Ish, tadi pura-pura enggak mau. Dasar!


.


.


.


Wildan tertawa membaca pesan yang dikirim oleh Ray, tentang kelakuan putrinya tadi pagi. Begitu juga dengan Ara yang mendapat pesan dari Mina. Para besan yang juga doyan gosip itu selalu dibuat tertawa akan kelakuan putra putri mereka.


Mereka memang tidak ingin mendikte anak-anak mereka agar bersikap layaknya suami istri. Bagaimana pun mereka masih sangat muda. Biar saja mereka menikmati dulu masa remaja mereka meski telah menikah, yang penting tidak ke luar jalur. Jangan sampai nanti mereka merasa tertekan akan pernikahan mereka dan akhirnya berdampak buruk untuk keduanya.


Tak apa bicaranya masih lo, gue.


Tak apa sama-sama iseng.


Semua itu butuh proses. Kelak hal ini akan menjadi kenang-kenangan yang bisa mereka ceritakan ke anak cucu mereka nanti, bahwa masa remaja mereka penuh dengan warna.