Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
29 Bali


Kapal akhirnya tiba juga di pelabuhan. Banyak yang bernafas lega karena mengalami mabuk laut. Tadi Deo menggendong Yuri untuk memasuki bis, karena gadis itu ketiduran, dan Deo tidak tega untuk membangunkannya. Saat Deo menggendong Yuri, hal itu menjadi perhatian para murid dan guru-guru. Karena Yuri dan Deo sering tidak akur, mereka takut Deo melempar Yuri ke laut lalu menjadi santapan ikan hiu, apalagi ini malam, kan susah mencarinya di tengah laut. Ada-ada saja khayalan mereka, mungkin karena mabuk laut.


Setelah bis keluar dari kapal, para murid meminta untuk bis itu berhenti lagi. Mereka langsung berhamburan ke luar, menghirup udara segar di dermaga.


"Akhirnya ... aku menginjak daratan lagi."


Mereka sudah seperti para petualang yang bertahun-tahun terombang-ambing di tengah lautan, dan akhirnya ... setelah ratusan purnama, mereka melihat lagi daratan.


"Dasar lebay!" celetuk salah seorang guru yang tertawa geli melihat murid-murid.


"Gimana jadi Columbus, ya? Beberapa jam saja sudah mabuk laut, tepar, muntah-muntah."


Bahkan ada yang sampai tiduran di aspal, untuk menghilangkan rasa pusing.


"Sekolah di sekolah elit, tapi tetap saja kalau mabuk laut tidak bisa dihindari, bisa menyerang siapa saja."


Para guru itu malah sibuk menggosipkan murid-murid mereka yang aneh bin ajaib dengan segala aksinya.


Satu lagi yang ajaib ....


Yuri yang tadi terbangun, sekarang malah sibuk memvideokan teman-temannya, sedangkan dia juga sibuk selfie.


"Ayo anak-anak, masuk lagi ke dalam bis. Kita harus segera tiba di penginapan agar bisa makan malam dan istirahat."


Sepanjang perjalanan menuju penginapan, mereka melihat keindahan kota Bali di malam hari. Para turis terlihat hilir mudik di jalan-jalan. Lampu-lampu dan penjual makanan ikut memeriahkan suasana.


"Jangan ada yang minta berhenti! Kita langsung ke penginapan, besok baru jalan-jalan."


Guru mereka tahu kalau para murid pasti sudah tidak sabaran dan ingin sekali turun, tapi sekarang sudah malam, dan mereka harus segera beristirahat untuk memulihkan tenaga karena banyak yang merasa pusing saat di kapal tadi.


Tidak lama kemudian, mereka tiba di penginapan. Mereka langsung turun dan berteriak heboh saat melihat tempat mereka menginap.


Begitu juga dengan Yuri dan Deo, mereka saling pandang.


"Enggak salah?" tanya mereka bersamaan.


Bukannya apa-apa, ini adalah villa tempat seharusnya dulu mereka melangsungkan pernikahan mereka namun sama-sama kabur. Ini adalah villa milik keluarga Yuri.


"Ayo, pembagian villa akan dilakukan."


Ada villa utama yang sangat besar, dikelilingi oleh villa-villa lain yang tidak sebesar villa utama tali juga tidak kecil. Satu villa kecil terdiri dari empat kamar, yang memiliki kamar mandi dalam, dapur mini, ruang duduk, ruang makan, kolam renang, teras.


Villa.utama tentu saja lebih dari itu.


Di tengah-tengah villa-villa itu, ada kolam renang besar yang bisa digunakan pengunjung untuk berbaur dengan penghuni villa lainnya, tempat makan di alam terbuka, dan fasilitas lainnya yang cocok untuk outbond.


Yuri dan Deo memang tidak tahu apa-apa kalau mereka akan menginap di sini.


"Benar. Satu kamar lima orang ya."


"Biar enggak ada yang berebutan, pembagian villa akan diundi."


Para guru mulai membagi kelompok dan villa. Yuri, Chia dan Airu satu kelompok, ditambah dengan Andira dan Camila. Mereka mendapat villa utama.


Deo, Gara, Qavi, Rizki dan Alim juga satu kelompok.


"Eh, Deo ... mau ke mana kamu?" tanya salah seorang guru


"Ya mau istirahat, Pak. Sudah selesai, kan?"


"Ya terus kamu ngapain ngikutin Yuri?"


"Kan mau bobo sama Yuri."


Pluk


"Aw ...."


"Apaan, sih?"


"Kamu pikir apaan, mau bobo sama Yuri."


Deo mendelik kesal.


Mereka hanya geleng-geleng kepala, berpikir bahwa mungkin ini efek dari mabuk laut Deo. Jadinya sekarang dia mabuk.


"Yang cowok villanya ada di bagian kiri semua, yang kanan cewek semua. Awas kalau ada yang macam-macam!"


Apaan sih, tiap hari juga aku tidur bareng Yuri. Nanti kalau Yuri enggak bisa bobo tanpa aku gimana?


Jam sepuluh malam, semua murid sudah masuk ke kamar masing-masing. Deo masih bergerak gelisah.


Yuri pasti enggak bisa tidur, nih. Apa dia lagi nangis, ya?


Deo tidak tahu, yang dipikirkan sedang nyenyak tidur sambil memimpikan Lee Mi Ho yang menyuapinya cilok dan berkata, "Saranghae ...."


"Saranghae too, oppa ...," jawab Yuri mengigau dengan wajah memerah malu dan senyum merekah ....