Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 1 Ketua Osis Baru


Hai, setelah kemarin berpikir sampai enggak up Jarak, aku memutuskan untuk menulis cerita baru, tetap dengan tema pernikahan dini. Yang dengan alasan dan pertimbangan tertentu akhirnya aku up di sini (bukan beda judul).


Tenang saja, di cerita ini, tokohnya baru, juga beda konflik tentunya, dong. Semoga kalian suka dan tetap mau mendukung, ya.


Cerita ini memang cerita dadakan yang benar-benar baru tercetus tadi malam, hehehe.


Jangan lupa tinggalkan jejak😍


Happy reading



...Bab 1...


"Apa? Bagaimana bisa dia yang menjadi ketua osis, sedangkan gue yang cantik ini hanya menjadi wakilnya? Pada rabun apa, yang milih?" ucap seorang murid perempuan bernama lengkap Yuri Kate Clovis.


"Justru karena mata mereka sehat, makanya banyak yang milih Deo," ucap Chia, sahabat Yuri.


"Maksudnya apa, tuh?"


"Kan kebanyakan murid di sekolah kita ini perempuan, sudah pasti mereka milih yang ganteng."


Yuri mendengkus, membenarkan apa yang dikatakan Chia. Andai saja murid di sekolah ini lebih banyak cowoknya, sudah pasti dia yang akan menjadi ketua osis, bukan si Deodoran itu.


"Eh, ada si Kate," ucap Deo dengan senyum menawan.


"Kate, Kate, namaku tuh bukan Kate, tahu!"


"Loh, kan namamu memang Kate."


(Kate yang disebut oleh Dio seperti ayam kate, seharusnya Ket)


"Kamu kira aku ayam kate?"


"Kan kamu memang kate (pendek)."


Padahal Yuri itu tidak pendek, tapi memang tidak setinggi Deo.


"Eh, Deodoran kadaluarsa, jangan belagu deh, mentang-mentang kepilih jadi ketua osis."


Sejak dulu Yuri dan Deo memang selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik dalam hal apapun, termasuk banyak-banyakan gebetan.


"Bersikap sopan dong sama ketua osis, kamu kan wakil aku."


"Dih, enggak sudi aku ada di bawah kamu."


Deo terkekeh, melihat wajah Yuri yang kesal karena gagal menjadi ketua osis.


"Ya mulai hari ini, kamu harus belajar menerima kenyataan ada di bawah aku. Terima saja kodratmu, lagi pula siapa tahu saja kan suatu saat nanti kamu memang akan selalu ada di bawah dan aku di atas. Tenang, aku akan belajar banyak gaya, kok."


Deo lalu meninggalkan Yuri, Chia dan Airu yang memasang wajah bingung. Deo dan sahabat-sahabatnya hanya tertawa.


"Maksudnya gimana, sih? Apanya yang di atas, di bawah dan banyak gaya?"


Deo dan teman-temannga yang masih bisa mendengar pertanyaan Yuri pada Chia dan Airu itu semakin tertawa.


"Iseng banget sih lo, De," ucap Gara.


"Eh, Gara-gara, jangan panggil gue, De."


Deo Alexi Osmond


Anggara Lionel Winston


Qavi Ansel Elard


Tiga serangkai penyuka olahraga.


Yuri Kate Clovis


Chia Laviena Yuan


Airu Dhaedra Cashel


Tiga dara pecinta shopping


💕💕💕💕


"Kenapa sih, Mi, aku harus nikah. Aku kan masih kecil, masih dalam proses pertumbuhan."


"Kamu kan sudah tujuh belas tahun, Sayang."


"Baru juga kemarin, Mi, tujuh belas tahunnya. Masih kecil, Mi."


"Sudah besar, kok."


"Ya kalau dibandingin punya teman-teman aku, aku tuh masih kecil."


"Punya? Maksudnya?"


"Ini, sama ini."


Yuri menunjuk dada dan bokongnya yang sebenarnya cukup berisi sambil cengengesan.


"Dasar, anak perawan kok mesum."


"Ini kan aset buat suamiku nanti, Mi."


"Heleh, disuruh nikah aja kamu nolak terus, kok."


"Ya lagian, Mami sama papi ada-ada saja. Anak masih imut begini disuruh nikah."


"Ya mau diapain lagi, ini sudah wasiat kakek kamu."


"Kalau wasiat tuh seharusnya warisan, Mi. Bukannya perjodohan."


"Hush, kakek kamu juga ninggalin banyak warisan, kok."


"Ya terserah papi mami aja, deh."


💕💕💕


Hari ini ada ulangan matematika. Ulangan yang membuat murid-murid yang menjalaninya mendadak mengalami penuaan dini, alias mukanya mengkerut terus.


Bel berbunyi, menandakan bahwa mereka harus segera mengumpulkan ulangan itu.


"Lihat saja, ulangan nanti aku pasti akan mengalahkan kamu."


"Mimpi!" balas Yuri.


Yuri menyenggol bahu Deo, lalu menuju kantin bersama Chia dan Airu.


"Makan apa kita?" tanya Chia.


"Bakso aja yang pedes banget."


"Iya, bener apa kata Yuri. Habis ulangan matematika memang enaknya makan yang pedas-pedas."


Tidak lama kemudian tiga serangkai datang dengan teriakan gadis-gadis sebagai pengiringnya.


"Heran, apa sih bagusnya mereka?" tanya Yuri.


"Ganteng!"


"Kaya!"


Jawab Chia dan Airu bersamaan. Yuri mendelik pada sahabat-sahabatnya itu.


Ketiga pria itu duduk setelah sebelumnya memesan makanan favorit mereka.


Yuri melihat ke arah Deo.


Ganteng? Iya, sih


Kaya? Memang iya


Pintar? Iya juga, tapi tetap pintaran gue


Deo yang merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya melihat ke arah Yuri. Pemuda itu langsung mengedipkan matanya pada sang rival, yang membuat Yuri langsung mau muntah.


Deo adalah cowok cuek yang selalu terlihat cold, taoi tidak dengan Yuri.


Jangan-jangan tuh cewek mulai naksir gue, lagi?


"Ngapain sih, De, lihatin Yuri terus, naksir?"


"Dih, sevelum gue naksir dia, dia dulu yang bakakan naksir gue."


"Sok ganteng, lu!"


"Emang gue ganteng. Kaya, lagi."


Gara dan Qavi lebih memilih diam, yang penting sekarang perut mereka kenyang.


.


.


.


Keesokannya


Ulangan matematika dibagikan.


"Deo!" panggil pak Bambang, lalu menyerahkan kertas ulangan Deo.


99


Nilai yang nyaris sempurna.


"Pak, ko hanya 99? Bapak salah kasih nilai, kali," protes Deo.


"Coba ini kamu lihat nomor lima. Hasilnya seharusnya 3,5. Nah, kamu nulisnya 35, kurang koma doang."


"Dih, Pak, tambahin napa komanya biar jadi 100 nilai saya."


"Enak saja, kalau kaya gitu yang kain juga mau minta benerin sama saya. Lain kali harus teliti nulisnya, jangan pikirin cewek terus. Dah sana kembali ke tempat duduk kamu."


Pak Bambang, guru matematika mereka itu sebenarnya guru killer yang ditakuti murid-murid, tapi tidak berlaku pada Yuri dan Deo. Karena bagi mereka, jika kita takut pada gurunya, gimana bisa memahami pelajarannya.


"Yuri!"


Yuri kini maju ke deoan untuk mengambil hasil ulangannya.


"Aaaaaa ... aaaaa ... aaaaaa ...." teriak Yuri.


"Kenapa, kenapa?"


"Kesambet ya?"


"Baca Ayat Kursi!"


"Baca Yasin!"


"Yuri, kamu kenapa?" tanya pak Bambang cemas.


"Lihat gaes, nilai aku 100. Perfect! Deodaran kalah sama aku. Lalala lalalala lalala ... 100 100 100!"


Yang lain langsung mendengkus, terutama Deo. Pak Bambang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka berdua selalu bersaing. Baik teman seangkatan, senior, junior, bahkan para guru selalu dibuat bingung dengan tingkah dua makhluk itu.


Yuri langsung merebut kertas ulangan Deo.


"Chia, fotoin."


Di tangan kanan Yuri memegang kertas ulangannya, dan di tangan kirinya kertas ulangan Deo. Lalu dia tersenyum lebar.


Cekrek


Yuri selalu mengkoleksi dokumentasi nilai-nilainya yang lebih tinggi dari Deo.


Sedangkan Deo selalu mengkoleksi dokumentasi nilai-nilainya yang lebih tinggi dari Yuri.


Deo berdecak kesal, seperti itu lah mereka berdua.