
"Dengan uang siapa kamu membeli barang-barang haram itu, Freya?"
"Ck, ya tentu saja dari nafkah suamiku, lah. Memangnya aku janda?"
"Cih, sekarang baru ngaku punya suami, kamu?" tanya Arby dengan datar.
"Pengennya jadi janda, tapi nanti ada yang serangan jantung."
"Jawab yang benar, Freya!"
"Huft, jadi suami istri itu harus berbagi. Bukan hanya berbagi suka, tapi juga duka. Oya, sama berbagi dosa. Kan kamu yang ngasih aku uang untuk membeli apa saja yang aku mau, dan kamu bilang pantang bagi kamu mengambil lagi apa yang sudah kamu kasih. Iya kan, hubby!"
Freya mengedipkan matanya padanya Arby, yang terlihat menggemaskan (menyebalkan).
Mereka yang melihat dan mendengar itu ada yang memijat tengkuknya, pangkal hidungnya, juga keningnya, merasa pusing dengan perdebatan Freya dan Arby, bahkan Freya mampu membalas dengan sangat baik semuanya.
"Jadi kalau aku dosa, ya kamu lebih dosa lagi lah. Kan kamu yang jadi imamku, my sweet husband."
Rasanya Arby ingin mengumpat, mencekik, atau apa saja untuk melampiaskan kekesalannya.
Mereka lupa bahwa Freya adalah gadis yang cerdas, bukan hanya dalam bidang akademi, tapi juga bicara.
"Berusahalah menjadi istri yang baik, Freya," Ami berusaha tenang, tidak ingin terpancing sikap anaknya itu.
"Kan istri cerminan suaminya. Kalau suaminya baik, ya istrinya baik. Begitu juga sebaliknya."
Tuh kan! Pintar dia berdebat.
"Seharusnya kalian tahu, bahwa aku istri yang tersakiti. Tiap sekolah lihat suami mojok terus sama selingkuhannya yang dulu jadi sahabatku. Apalagi kalau aku enggak ada di sekolah. Hati-hati, mungkin bentar lagi bakalan ada perempuan yang datang minta dinikahi karena mengandung anak haram berikutnya."
"Freya!"
Psikiater dan psikolog Freya menyaksikan itu dari rekaman CCTV. Terlihat jelas raut wajah kecewa dan sakit hati kepada mereka.
"Jangan asal nuduh, aku sama Nuna enggak ada hubungan apa-apa."
"Heleh, mana ada maling mau ngaku. Enggak ada hubungan tapi selalu mojok!"
.
.
.
"Buka pintunya, sampai kapan kalian mau mengurungku seperti ini?"
Freya terus menggedor, menendang dan berteriak, namun tidak ada yang peduli. Dia pergi ke balkon, lalu melihat pot bunga berukuran besar. Dia mengangkat pot bunga itu dan menjatuhkannya ke kepala salah satu penjaga.
"Aaarrgg ...."
Kepala penjaga terluka dan langsung pingsan. Penjaga yang lain membantu yang terluka, dan saat itulah Freya meloncat dari balkon lantai dua kamarnya.
Freya mengendap-endap melalui garasi, dia melihat seorang pelayan yang mengeluarkan barang-barang dari bagasi salah satu mobil Elya. Setelah pelayan itu pergi, Freya mendekati mobil itu dan mengangkat pintu bagasi yang ternyata tidak ditutup dengan rapat.
Freya langsung masuk ke dalam bagasi dan menutup pintunya namun tidak rapat, agar ada celah untuk udara keluar masuk.
Petugas melaporkan kejadian yang menimpa temannya kepada Arlan. Saat itu jam sepuluh pagi, dan keadaan rumah memang tidak ramai karena Arlan dan Elya bekerja, Arby sekolah, dan para pelayan sibuk melakukannpekerjaan mereka. Ada yang memasak, mencuci, menyetrika dan membersihkan rumah.
Arlan langsung menghubungi Elya dan menyuruhnya pulang. Begitu juga dengan Arby yang langsung pulang dengan wajah yang lelah.
"Apa yang terjadi?" tanya Arlan
"Pot bunga dijatuhkan dari atas balkon dan mengenai salah satu penjaga," jelas salah seorang penjaga
"Siapa yang melakukannya?"
"Siapa lagi kalau bukan Freya. Hanya dia orang yang paling berambisi membuat kekacauan di rumah ini, lagi pula itu balkon kamarnya, kan."
"Ayo kita lihat Freya."
Arlan, Elya dan Arby menuju kamar Freya dan mengambil kunci kamar itu. Arlan memutar anak kunci namun pintunya tidak dapat dibuka.
"Freya!"
Kali ini Arlan, Arby dan Elya yang menggedor-gedor dan berteriak meminta Freya membuka pintu, sama seperti yang sering Freya lakukan, berteriak, menggedor, menendang agar pintu dibukakan.
"Sepertinya pintu ini diganjal oleh benda berat dan besar."
"Panggil para penjaga untuk mendobrak pintu ini."
Tidak lama kemudian empat pria berbadan besar datang.
"Dobrak pintu ini!"
Empat pria itu mendobrak pintu dengan kaki mereka, bukannya pintu yang hancur, malah kaki mereka yang sakit. Tentu saja, selain karena pintu itu memang ditahan oleh benda berat, bahan pintu itu juga memang dibuat dari bahan khusus agar tidak mudah hancur.
Lalu pengawal kembali mencoba mendobrak dengan menghantamkan tubuh mereka, dan tetap gagal.
Arlan menghela nafas.
Mereka mengambil tangga dari gudang, lalu mengambil meletakkannya di bawah balkon kamar Freya.
Salah satu penjaga naik lebih dulu, disusul Arlan, Arby dan tiga pengawal berikutnya.
Pintu dan jendela kamar Freya terkunci.
"Ck, menyusahkan saja."
"Panggil seluruh pria yang ada di rumah ini!"
Pengawal, security, tukang kebun, sopir semua berkumpul.
"Dobrak pintu ini dan pecahkan jendela."
Semua siap dengan alat tempur mereka.
Kaca yang juga memang dibuat dengan alat khusus itu todak mudah hancur. Jangankan hancur, retak saja tidak.
"Freya!"
Jendela itu pun sulit dicongkel. Arlan terlihat frustasi. Semua bahan di rumah ini memang dibuat dengan bahan khusus. Tidak mudah terbakar, lapuk, hancur, dicongkel dan sebagainya. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti perampokan dan kebakaran. Siapa sangka semua itu kini menjadi boomerang bagi pemiliknya sendiri, yang disebabkan oleh remaja perempuan bernama Freya Canaya Zanuar yang masih berusia 16 tahun.
"Panggil tukang kunci terbaik!"
Tiga puluh menit kemudian tukang kunci datang dan membutuhkan waktu dua jam hanya untuk membuka satu jendela saja.
Byurrr
Bughh
Plentang
"Aduh!"
"Auwww!"
"Arrgghh!"
Saat mereka ingin melangkahi jendela, teko air yang diikat di atas terbalik dan menumoahkan isinya, mengenai kepala Arlan.
Guling juga langsung menghantam salah satu wajah penjaga, lebih tepatnya sarung guling yang isinya adalah buku-buku, dan kamus-kamus dengan ukuran yang besar dan berat.
Lalu sarung tinju yang ada per-nya pun menonjok wajah Arby dengan sangat keras.
Tukang kunci itu ingin tertawa, tapi dia tidak punya nyali untuk menunjukkasnnya, apalagi melihat para bodyguard yang berbadan besar-besar.
"Cepat masuk!"
Bugh
Bugh
Bugh
Entah berapa banyak bunyi deguman, karena semua orang kini sedang memegangi pinggang dan bokong mereka karena sakit.
Lantai itu sangat licin, Arby mencium lantai yang basah dan lengket itu.
"Ini sabun dan sampo."
Mereka mencoba berdiri dan berjalan, namun kembali terjatuh.
Saling berpegangan tangan layaknya anak kecil yang bermain ular tangga. Mereka kini memperhatikan bahwa pintu kamar ditahan oleh sofa dan meja belajar.
"Coba lihat ke kamar mandi!"
Salah satu penjaga menuju kamar mandi walaupun dalam hati sangat enggan.
Blugh
Blugh
Kembali penjaga itu terjatuh. Genangan air sabun dan sampo memenuhi kamar itu.
"Kosong," ucapnya.
Arby dan Arlan melangkah, namun mereka juga tejatuh.
"Biiiiii, panggil tukang uruut!" teriak Arlan.
"Freyaaaaa ... awas kamu ya, istri kecilku yang nakallllll!"
Sementara itu, Freya yang sudah kabur kerena orang-orang sibuk berada di dalam, terutama di kamarnya, tertawa terbahak-bahak membayangkan yang terjadi.
Rasain, tuh!