
"Freya, kamu gimana sih, Chiro nangis gini kamu malah diam saja!" Arby yang hari ini pulang cepat karena dosen tidak masuk, langsung masuk ke kamar begitu mendengar Chiro menangis.
"Kamu dong yang urus gantian. Aku tuh capek tiap hari pagi siang sore malam ngurusin dia. Dia kan buka hanya anak aku, tapi anak kamu juga. Bawa ke luar sana, pusing aku. Percuma punya baby sitter tapi enggak bisa bantu buat ngurus Chiro."
Setiap hari Freya selalu menangis, stres karena mendadak jadi mama muda tentu bukan hal yang mudah, apalagi menikah bukan karena keinginan sendiri.
.
.
.
Baby Chiro sedang menyusu kepada Freya, yang sebenarnya membuat Freya geli bercampur risih.
"Aw." Freya meringis saat baby Chiro menyedot dengan kencang pu**ngnya, menyebabkan Freya menghentikan secara sepihak pemberian ASI itu, yang selanjutnya menyebabkan Chiro menangis kencang.
"Kamu yang benar dong, Frey."
"Jangan nyalahin aku terus. Kamu aja sana yang ngurus kalau memang merasa lebih pintar dan jago ngurus Chiro."
.
.
.
Selama dua hari selanjutnya Freya mengurung dirinya di kamar. Chiro hanya diberi susu formula dan ASI yang masih ada yang sempat dipompa oleh Freya.
"Baby blues disebabkan oleh perubahan hormon setelah melahirkan. Pada saat hamil, hormon estrogen, progesteron dan sebagainya itu meningkat, namun setelah melahirkan, hormon itu langsung menurun drastis. Itu yang menyebabkan moodnya juga mengalami perubahan.
Ciri-ciri baby blues sendiri umumnya yaitu:
👉Suasana hati gampang berubah
👉Cemas
👉Sedih
👉Gampang tersinggung
👉Merasa kualahan
👉Seting menangis
👉Tidak konsentrasi
👉Mengalami gangguan makan
👉Susah tidur
Cara menanganinya denfan makan makanan yang sehat, berjemur dan sebagainya. Baby blues ini masih tergolong wajar.
Selanjutnta, baby blues bisa berkembang menjadi Postpartum Depression (PPD) atau Depresi Pasca Maelahirkan. Gejalanya lebih intens dan dapat berlangsung hingga satu tahu setelah melahirkan.
Ciri-cirinya yaitu:
👉Depresi/mengalami perubahan suasana hati yang parah
👉Menangis berlebihan
👉Mengalami kesulitan membangun ikatan dengan bayi
👉Menarik diri dari keluarga dan teman
👉Mengalami gangguan makan
👉Susah tidur atau tidur terus
👉Kelelahan luar biasa atau kehilangan daya untuk beraktifitas
👉Mudah marah
👉Putus asa, malu, merasa bersalah tidak mamou menjadi ibu
👉Tidak bisa konsentrasi atau berpikir jenih
👉Gelisah
👉Cemas dan mengalami serangan panik
👉Punya pikiran untuk melukai diri sendiri dan bayi
Jika baby blues disebabkan okeh perubahan hormon, maka PPD ini disebabkan oleh kombinasi masalah fisik, psikologis dan psikososial.
Penangannya juga lebih serius, dengan cara pemberian obat oleh dokter dan konseling.
Lalu yang terakhir adalah gangguan cemas. Ciri-cirinya:
👉Sulit konsentrasi
👉Mengkhawatirkan semua hal
👉Mengkhawatirkan kehidupan jangka panjang, bahkan yang masih bertahun-tahun lamanya sudah dicemaskan
👉Memiliki rasa cemas berlebihan terhadap banyak hal
👉Mencemaskan diri sendiri tidak bisa mengurus anak
👉Rasa khawatir yang sampai mengganggu aktifitas sehari-hari
Itulah tiga gangguan yang bisa terjadi pada wanita yang baru melahirkan," terang dokter Gani.
Apakah kini mereka merasa bersalah atau tidak dengan memaksa pernikahan ini, karena ternyata lebih banyak hal negatif yang terjadi. Ya, mereka cukup mengatakannya dalam hati saja, karena mungkin malu untuk mengakui jika mereka memang salah, atau merasa tindakan mereka tetap benar, atau ingin saling menyalahkan?
Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.
Arby kembali kuliah online.
Elya dan Ami mengurus pekerjaan mereka dari rumah (Ami, Wildan, Anya dan Vanya untuk sementara waktu ini tinggal di rumah Arlan).
Freya masih tetap berada di kamarnya. Dokter sudah memberikan obat untuk mengurangi depresinya karena ini sudah di atas baby blues.
Irma juga memberikan konseling yang bagi Freya tak ada gunanya.
Sabar dan iklas
Dua kata yang Freya sendiri sudah bosan mendengarnya dari mulut Irma. Freya sudah berusaha menerima takdirnya, namun teori tak semudah praktek.
Di usia yang baru 17 tahun, dia sudah menjadi seorang ibu, statusnya juga masih seorang pelajar. Di mana teman-teman sebayanya sibuk belajar dan jalan-jalan ke mall, dia sudah menanggung tanggung jawab akan seorang bayi laki-laki.
Arby sendiri merasa kualahan, karena baby Chiro memang tidak mudah didekati okeh sembarang orang. Hanya Freya dan Arby saja yang sampai saat ini mampu membuatnya tenang.
Malam-malam Arby akan terbangun, memberinya susu, mengganti popok, mengajak bermain lalu menidurkannya kembali. Sebelum subuh baby Chiro akan kembali bangun. Jam tidur Arby menjadi berantakan. Tugas kuliahnya terbengkalai.
Inilah yang Freya rasakan.
Akhirnya Freya dan Arby sering bertengkar karena saling melemparkan kewajiban.
"Kamu kan mommynya."
"Kamu daddynya."
"Gantian dulu sebentar."
"Kamu kira dari tadi aku angapain pas kamu tidur? Ke mall?"
"Aku mau ngerjain makalah dulu, Frey."
"Aku juga harus belajar, tiga hari lagi ujian nasional."
"Aku juga mau ujian akhir semester, banyak tugas yang harus aku kumpulkan ke dosen."
"Makanya kalau enggak mau ngurus anak, enggak usah bikin."
"Bukan hanya aku yang salah, kamu juga. Suruh siapa kamu salah masuk kamar."
"Kamu yang seharusnya datang belakangan bisa tidur di kamar lain."
"Memangnya aku sadar itu kamu."
Teriakan mereka terdengar hingga ruang tamu. Bany Chiro menangis dalam gendongan Arby.
Para asisten rumah tangga ingin mendekat, tapi takut.
Elya dan Ami datang tergopoh-gopoh.
"Kalian kenapa, sih. Kasihan kan baby Chiro."
"Dia nih, egois banget jadi orang."
"Memangnya kamu pikir kamu enggak egois?"
"Pokoknya jangan ganggu aku, kamu urus saja Chiro."
"Kamu jangan egois dong, Frey."
"Kasihan ini, Chironya masih kecil."
"Halah, kalian bisanya hanya nyalahin aku. Kalau bukan karena keegoisan kalian kan, aku enggak mungkin nikah muda lalu punya anak sekarang. Kalian dong yang seharusya tanggung akibatnya. Tante dan mama kan pengen banget punya cucu, tuh udah aku kasih cucu. Selanjutnya kalian dong yang tanggung jawab, jangan mau enaknya aja. Apa-apa maunya dituruti, apa-apa maunya dituruti. Aku harus begini, aku harus begitu."
Arlan dan Wildan yang baru pulang mendengar perseteruan itu, hanya bisa memijat kening mereka.
Seharusnya dua keluarga ini bergembira mendapat jagoan kecil penerus keluarga Zanuar dan Abraham. Terutama keluarga Zanuar, yang akhirnya memeliki penerus laki-laki.
Tapi pertengkaran dua orang tua muda yang masih labil itu merusak kebahagiaan yang seharusnya tercipta. Belum lagi tangisan baby Chiro yang belum berhenti, memeriahkan suasana rumah akibat pertengkaran yang terjadi.
"Stop, kalian seharusnya bekerja sama mengurus baby Chiro," ujar Ami.
"Dih nih, mau enaknya aja."
"Aku kan sudah jagain Chiro, Frey."
"Kebanyakan juga aku yang jagain."
"Aku sudah bela-belain kuliah online biar bisa bantu kamu mengurus Chiro."
"Gitu doang bangga. Aku juga sekolah online, bukan hanya kamu."
"Terus mau kamu apa sekarang?"
"Aku mau kita pisah!"
"Oke, aku akan kabulin permintaan kamu asal dengan satu satu syarat."
"Paling juga kamu bohong."
"Aku enggak akan bohong."
"Apa syaratnya?"
"Kalau kita pisah, hak asuh Chiro jatuh ke tangan aku, dan kamu enggak boleh ketemu sama dia lagi, gimana?"