
Arby melihat buku-buku yang berserakan di atas meja belajar Freya. Dia membuka buku tulis Freya, dan melihat setumpuk PR.
Keesokannya, saat pelajaran biologi, Pak Amri meminta ketua kelas mengumpulkan buku PR. Danar meminta buku milik Freya, gadis itu memberikannya tanpa kata. Selagi murid-murid mengerjakan tugas, Pak Amri mengecek pekerjaan rumah murid-muridnya. Dia tersenyum melihat jawaban milik Freya, muridnya itu memang selalu sempurna dalam menjawab soal-soal yang diberikannya. Sementara itu, Freya sesekali melirik Pak Amri.
"Freya!" panggil pak Amri.
Freya menghampiri pak Amri, ada perasaan sedikit cemas saat mendekati guru itu. Dia sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Bapak bangga sama kamu. Nilai-nilai kamu selalu memuaskan."
"Hah?"
"Sebenarnya saya suka malas memeriksa tugas-tugas kamu, karena sudah tahu hasilnya akan seperti apa."
"Bapak serius?"
"Kenapa kamu kaget?"
"Owh, enggak apa-apa, Pak."
Freya lalu mengambil buku PR-nya dengan sedikit linglung. Yang dia ingat, tadi malam dia tidak mengerjakan PR-nya karena tidur.
Penasaran, Freya lalu membuka buku itu. Ini seperti tulisannya. Sudahlah, mungkin saja tadi malam dia sempat bangun lalu tanpa sadar mengerjakannya, toh pada dasarnya alam bawah sadarnya juga diprogram menjadi murid teladan tanpa cacat.
πππ
Freya mengetik tugas membuat makalah. Jarinya mengetik, namun pikirannya entah ke mana. Di layar monitor itu hanya bertuliskan:
madn ejnsd dkaldn end dmeks labdjsks msk ekfnsks
sekd nns jeoek eklekwk jdoe knsk. dkelsks lslsmsms.
dnsodke lwppej wkdns djspsld dkel wppsksl. dlwp dkwpd fkdp dkeld kels dkds.
Freya menatap laptopnya lalu menghela nafas. Sudahlah, sepertinya pikirannya memang sedang kacau. Tanpa pikir panjang dia lalu merebahkan dirinya, mungkin nanti malam dia akan mengerjakan makalah itu.
Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, Arby masuk ke kamar. Sampai sekarang hubungan keduanya tidak membaik, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Jika sebelumnya mereka bagaikan Tom and Jerry, maka kini hubungan keduanya layaknya dua orang asing yang tidak pernah bertegur sapa, meski hanya berupa sindiran, tidak sama sekali.
Freya memperlakukan Arby bagai hantu, makhluk tak kasat mata.
Arby melihat laptop Freya yang monitornya bertuliskan kata-kata tanpa makna itu, lalu matanya beralih pada gadis yang tidur nyenyak.
Tumben nih cewek enggak over dosis belajarnya. Biasanya dia maniak buku.
Tak ingin ambil pusing, dia lalu merebahkan badanya di kasur.
Pagi harinya
Freya merasakan kepalanya yang sedikit pusing. Tadi malam dia bangun jam satu lalu kembali tidur jam tiga, dengan terhuyung dia melangkah ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.
Satu menit menjelang bel, Freya tiba di kelasnya.
Tugas makalah di kumpulkan saat Freya izin ke toilet. Seperti biasa, guru-guru akan selalu memilih tugas Freya yang lebih dulu diperiksa karena tidak memerlukan waktu yang lama.
"Freya!"
Freya berjalan lunglai.
Bu Heny memberikan tugas Freya sambil tersenyum puas. Freya mengambil makalah itu dengan bingung.
"Ini punya saya, bu?"
"Tentu saja, memangnya punya siapa lagi?"
Kembali lagi Freya linglung. Seingatnya dia tidak mengerjakan makalah itu, apalagi membawanya. Dia ingat tadi malam dia bangun, mungkin saja saat itu tanpa sadar dia mengerjakannya dan setelah itu memasukkannya ke dalam tas.
Sudahlah, yang penting sekali lagi dia selamat. Mungkin dia harus pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya.
π»π»π»
Freya menatap lembar soal ulangan di hadapannya. Sedari tadi matanya hanya lurus le depan. Lembar jawaban itu masih kosong, belum ada jawaban satu pun. Akhirnya dia mulai menjawab soal-soal itu.
Nomor satu, dia melingkari jawaban A, padahal seharusnya B.
Nomor dua, dia melingkari jawaban C, padahal seharusnya A.
Nomor tiga, dia melingkari jawaban B, padahal seharusnya C.
Begitu terus hingga dua puluh soal pilihan ganda. Untuk soal essay, dia menulis asal, yang penting terlihat penuh.
Hingga sepuluh menit menjelang bel, dia mengganti semua jawabannya dengan yang benar. Freya menghela nafas, merutuki kebodohannya.
Keesokan harinya, ulangan bahasa Inggris. Dia diam melihat soal-soal itu.
Soal nomor satu, dia pilih C, padahal seharusnya D.
Soal nomor dua, dia pilih A, padahal seharusnya C.
Begitu terus hingga dua puluh soal, lalu soal essay dia juga menjawab asal-asalan.
Sepuluh menit
Lima menit
Tiga menit
Hingga bel berbunyi, dia tidak mengganti jawabannya, membiarkan dirinya mendapat nilai nol besar. Tidak ada rasa penyesalan dalam dirinya.
πΈπΈπΈ
Di ruang guru, mereka dihebohkan dengan lembar jawaban Freya yang hasilnya benar-benar tak pernah terjadi sepanjang sejarah Freya bersekolah di sana.
"Untuk murid bernama Freya Canaya dari kelas dua, harap ke ruang guru sekarang juga!"
Pengumuman dengan loudspeaker itu menghentikan aktifitas murid-murid yang ada di kantin. Tidak seperti biasanya Freya dipanggil seperti ini.
Sedangkan si tersangka, masih duduk manis menikmati roti bakar dan kentang goreng dengan segelas jus apel.
"Ya, kamu dipanggil ke ruang guru," Nina mengguncang lengan Freya.
"Iya dengar, tapi tanggung, aku kan masih makan."
Sebelum pergi, Freya membisikkan sesuatu di kuping Marco, membuat pria itu tertawa nyaring. Lalu tangannya mencubit gemas pipi mulus Freya dan mengacak rambutnya.
Freya mencebik kesal, lalu memukul lengan Mico.
"Minggir, murid teladan mau lewat."
Di meja lain, beberapa pasang mata memandang mereka.
Marcell yang kesal karena tak bisa lagi meneror Nania dengan kejahilannya.
Vian yang menatap aneh pada Mico.
Ikmal yang juga menebak-nebak.
Lalu Arby yang terlihat datar namun pikirannya penuh dengan spekulasi.
Sedangkan Aruna dan Nuna, yang berada di tempat yang berbeda-beda, merasa hampa namun juga tak ada niat untuk saling menegur.
Entah gengsi atau egois, namun itulah yang terjadi dengan para remaja labil yang masih mencari jati diri itu.
Freya mengetuk pintu ruang guru lalu membukanya.
Pandangan mata guru-guru beralih kepada dirinya.
"Freya, ayo duduk sini!"
Freya duduk dengan patuh.
"Apa ada masalah, kenapa nilai ulangan bahasa Inggris kamu salah semua?"
"Saya kurang fokus."
"Kenapa bisa begitu?"
"Akhir-akhir ini banyak tugas. Saya kadang lupa apa saya sudah mengerjakan tugas atau belum. Saat saya berpikir saya belum mengerjakannya, tenyata sudah dikerjakan."
Guru itu melihat keseriusan di wajah Freya.
"Ya sudah, sekarang kamu jawab ulang ya soal-soal ini. Jangan sampai nilai kamu jelek meski hanya satu mata pelajaran saja."
Freya mengangguk patuh, lalu dia mulai mengerjakan soal-soal itu.
πΏπΏπΏ
Sepuluh menit menjelang bel pulang, Freya kembali ke kelasnya, namun sebelum itu dia ingin ke toilet. Matanya menangkap sepasang remaja yang sedang berbicara dengan suara pelan.
Arby sedang memegang pundak Nuna.
"Gak di mall, gak di sekolah, pepet terus!"
Arby dan Nuna tersentak kaget melihat kehadiran Freya. Gadis itu melewati keduanya dengan seringai yang menunjukkan kejijikan dan benci yang tentu saja dapat dirasakan oleh Nuna dan Arby.
"Mamanya pelakor, begitu pun dengan anaknya yang masih muda sudah mendalami karakter pelakor. *****!"