Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 49 Jadian


Akhirnya kepala sekolah menuruti keinginan murid kelas favorit itu. Bukan langsung menuruti begitu saja tentunya, tapi berunding dengan guru-guru dan wali kelas. Setelah mendengar keluhan dari para guru yang memang membenarkan sikap kurang baik dari Emi. Orang tua Emi juga sudah dipanggil, namun tidak datang.


Emi tentu saja merasa kesal karena dipindahkan begitu saja, namun dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima keputusan kepala sekolah sebelum orang tuanya kembali dari luar negeri.


Suasana di kelas unggulan itu kembali damai. Deo juga semakin posesif pada Yuri. Dia akan selalu mengintili ke mana saja Yuri pergi, kecuali masuk ke dalam toilet. Mau ikut masuk tapi enggak mau digebuk masal.


Yuri juga sudah kembali ceria, meski dalam hati masih bersedih karena kehilangan calon anak. Memang belum menjadi rejeki mereka untuk memiliki baby yang lucu.


"Yuri, apa jadinya kalau Beo bertemu dengan Nuri?"


"Mungkin akan menjadi Kakaktua."


"Masa Kakaktua. Sudah kakak, tua lagi!"


"Kutilang?"


"Dih, masa nanti dipanggilnya Kutil?"


"BH?"


"Dih, mesum!"


"BH itu singkatan dari Burung Hantu."


Deo menepuk jidatnya. Sedangkan para orang dewasa hanya geleng-geleng kepala mendengar percakapan anak mereka yang tidak berfaedah itu.


☘️☘️☘️


Deo dan Yuri bergandengan tangan menuju kelas mereka.


"Mereka jadian?"


"Enggak saingan lagi?"


"Sudah akur?"


"Yuri, lo jadian sama Deo?" tanya salah satu murid dari kelas lain.


"Iya. Habis Deo nembak gue terus. Daripada nanti dia depresi karena ditolak terus bunuh diri, jadi dengan kebesaran hati gue terima saja."


Deo hanya mendengkus mendengar perkataan Yuri. Bisa-bisanya Yuri dengan santai berkata seperti itu di hadapannya.


Anak-anak di kelas mereka lebih heboh lagi.


"Kenapa enggak dari kelas satu saja kalian jadian."


"Iya, pasti kelas kita lebih damai dan sejahtera."


Emi yang mendengar itu dari luar kelas, merasa tidak terima. Belum lama dia dipindahkan ke kelas lain, sekarang cowok dia dia sukai malah jadian dengan cewek yang paling tidak dia sukai di sekolah itu. Dia tidak mau mengalah dan dikalahkan. Selama ini dia sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau.


Dia kaya, cantik, dan pintar. Baginya sangat cocok jika bersama dengan Deo yang ganteng, pintar dan juga kaya. Sedangkan baginya, Yuri hanyalah seonggok debu yang bikin alergi. Tidak sadar diri kalau dirinya yang lebih pantas dianggap debu, sehingga disingkirkan oleh semua mantan teman satu kelasnya.


Lihat saja, Deo pasti bisa menjadi milik gue.


Dia kembali ke kelasnya. Di kelas barunya ini, dia juga tidak memiliki teman.


Jam istirahat, mereka ke kantin. Sekarang Yuri setiap hari membawa bekal. Bekal makanan yang sehat untuk rahimnya. Untung dia bukan pemilih makanan, meski makanan favoritnya tetap saja cilok. Deo juga begitu, makan makanan yang dibawa dari rumah biar Yuri nanti enggak ngiri kalau dia jajan.


"Mentang-mentang sudah jadian, makanan saja kompak."


Deo diam saja, dan malah menunjukkan kemesraan dia dan Yuri dengan cara menyuapi perempuan itu makanan.


"Makan yang banyak Beb, biar kamu cepat sehat."


"Iya Honey, kamu juga makanan yang banyak. Biar tambah kuat dan bisa selalu menjaga aku dan calon anak kita," jawab Yuri kalem.


"Woy, kalau ngomong kira-kira napa!"