Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 24 Rusuh


"Lo jangan lupa bawa pembalut yang banyak, sama obat keram."


Peringatan itu bukan berasal dari mami, mommy atau para oma, tapi dari Deo, si suami perjaka.


"Bawa bra sama CD-nya juga yang banyak. Bawa yang merah kuning hijau biru ungu pink hitam abu-abu, coklat, biar gak kelupaan kalau ada yang ketinggalan."


"Deoooo ... bra gue jangan diremas-remas gitu, napa."


Yuri langsung menarik bra dari tangan Deo yang memasang wajah polos namum mesum.


"Lagian lo ngapain ngurusin dalama gue, urus sana dalaman lo sendiri yang warnanya hitam semua. Jangan-jangan si Beo hitam juga?"


"Ck, jangan mesum!"


Mereka kini sedang sibuk mengepak barang-barang yang akan mereka bawa untuk liburan ke Bali satu sekolah."


"Deo, ini bagus, enggak?"


Yuri menunjukkan baju renang yang baru dia beli, yang membuat Deo langsung kesal.


"Jangan pakai pakaiann yang seksi, napa!"


"Nama baju renang ya seksi, lah."


"Pokoknya enggak boleh, nanti kalau ada cowok mesum, gimana?"


"Cowok mesum itu ya, lo."


"Sembarangan."


"Anak-anak, sudah belum nyiapin baju-bajunya?"


"Sudah, Mi," jawab Deo dan Yuri kompak.


"Ayo makan siang dulu."


Mereka lalu ke ruang makan, dan di sana sudah ada opa dan oma Yuri.


"Yuri, jangan lupa kamu bawa ban."


"Ban? Ban buat apa, Oma?"


"Ya buat kamu berenang, lah."


"Oma! Memangnya aku bocah?"


"Ya kali, kamu keenakan lihat roti sobek tahu-tahu sudah ada di tengah laut."


Waja Yuri seketika berbinar saat omanya mengatakan roti sobek.


Deo langsung mengusap wajah Yuri dengan telapak tangannya yang baru saja memegang ikan asin.


"Bau Deo!"


"Biarin, biar nanti muka lo dicium mpus."


"Padahal gue baru perawatan, biar nanti kalau lo nyosor berasa enaknya."


Yuri mengedip-ngedipkan mata genitnya.


"Aaaa ... co cwit. Oma jadi ingat waktu masih unyu kaya kalian."


🍁🍁🍁


Hari keberangkatan murid-murid ke Bali, liburan mereka akan berlangsung selama sepuluh hari, karena perjalanan ke Bali menggunakan bis, bukan pesawat.


Namanya anak muda, kalau liburan pasti heboh dan ribet sendiri. Ada yang sampai membawa dua koper besar hanya berisikan baju dan alat kecantikan. Namun berbeda dengan Yuri dan Deo, mereka hanya membawa masing-masing satu koper kecil.


"Jangan kaya orang susah, deh. Yang penting bawa kartu sakti, tinggal beli di sana," ucap Yuri dengan sombongnya namun wajanhya menggemaskan.


"Deo, titip Yuri, ya. Jangan sampai dia dibawa kabur sama bule-bule," ucap opa.


"Kalau sama oppa-oppa, boleh gak, Opa?" tanya Yuri sambil cengengesan.


Yuri dan Deo akhirnya ke sekolah dengan dikawal oleh keluarga lengkap.


Sesampainya di sekolah


"Woy, red karpet mana, red karpet?" teriak Yuri heboh saat turun dari mobil.


"Enggak ada yang mau ngasih karangan bunga?" oma Yuri ikut berteriak.


Keluarga heboh itu benar-benar menarik perhatian, bahkan kepala sekolah sampai geleng-geleng kepala.


Wildan lalu mengeluarkan banyak kantong dari dalam bagasi.


"Yuri, ini buat bekal kamu selama perjalanan."


"Wah ...."


Teman-teman Yuri memandang takjub pada makanan-makanan itu.


"Anak sultan kalau liburan memang beda, ya. Banyakan bekalnya daripada baju yang dibawa."


"Chia, Airu, om titip Yuri, ya."


"Tenang saja."


Wildan lalu memberikan beberapa lembar uang buat Chia dan Airu, yang tentu saja diterima dengan maya berbinar.


"Woy, bantuin napa ini."


Teman-teman sekelas Yuri lalu membantu membawa perbekalan Yuri, bahkan orang tua Deo juga ikut memberikan bekal yang bisa dimakan ooeh satu sekolah.


"Ini bekal buat piknik atau buat jajatan, sih? Banyak banget," ucap Gara.


"Langsung bagi-bagi aja, deh. Biar gak penuh."


"Bagi ke mana?" tanya Qavi.


"Ya ke teman-teman sekelas, lah. Sama anak kelas lain juga, kan banyak, ini. Masa semuanya mau gue sama Deo doang yang makan," ucap Yuri.


"Yey!"


Mereka bersorak gembira dan langsung mengambil jatah masing-masing. Sedangkan sang ratu di sekolah itu hanya ongkang-ongkang kaki, sambil makan coklat. Deo pun sama, dia juga sibuk makan apel.


"Kita kaya lagi bagi-bagi sembako, ya?"


"Iya, kita harus memakmurkan rakyat jelata seperti mereka, agar tahun depan kita tetap terpilih menjadi ketua dan wakil OSIS."


"Jangan lupa, coblos gambar berwajah Yuri cantik. Singkirkan Deo menjadi ketua OSIS. Hidup Yuri, hidup Yuri, hidup Yuri ... awww!"


Deo menyentil kening mulus Yuri.


"KDRT, woy. Pulangkan saja ... aku pada mamiku, atau papiku ...."


"Mulai deh, mereka ngerusuh lagi!"


"Enggap apa, lah. Yang oenting kita sudah dikasih cemilan banyak."


Guru-guru dan kepala sekolah juga tidak ketinggalan mendapat bekal.


"Semoga aja, tiap hari bisa liburan kaya gini."


"Kalau tiap hari liburan, kapan sekolahnya?"


Mereka mulai memasuki bis masing-masing sesuai kelas.


"Papi, Mami, Mommy, Daddy dan para opa oma ... Yuri jalan-jalan cari bule ganteng dulu ya. Jangan sibuk buat dede bayi, karena Yuri gak mau punya adik atau tante baru. Jangan ngiri sama Yuri. Bye bye ... see you. Jangan rindukan Yuri ... Ja ...."


Deo langsung membekap mulut Yuri dan membawanya ke dalam bis, karena teriakan gadis itu sungguh menggelegar.


"Yuri, ayo kita balapan, siapa duluan yang punya dede bayi. Oma, mami atau kamu," balas oma Yuri berteriak.


Kali ini kepala sekolah benar-benar tepok jidat, kenapa ada keluarga oleng seperti itu.


"Kami pergi dulu ya," ucap kepala sekolah kepada keluarga Yuri dan Deo.


Mereka memang saling kenal, karena kepala sekolah yang tidak lain ayahnya Rizki teman sekelas Yuri itu, adalah teman sekolah orang tua Yuri dan Deo.


"Jaga anak-anak kami, ya," ucap Ray.


Dony, kepala sekolah itu mengangguk lesu, karena harus menjaga dua anak biang rusuh yang apesnya malah jadi ketua dan wakil OSIS.


Deretan bis mulai berjalan meninggalkan pekarangan sekolah.


"Sekarang saatnya kita liburan juga," teriak mami.


"Bali, kami datang!"


Ya, mereka memang ikut liburan ke Bali tanpa sepengetahuan Deo dan Yuri. Namun bedanya mereka ke sana naik pesawat.


Di dalam bis, kelas paling rusuh itu membuat sang sopir pusing, padahal perjalanan baru dimulai dan mereka masih ada di dalam kota Jakarta.


Ada yang menyetel lagu dangdut, keroncong, rock, jazz, India, Korea, Jepang, Barat.


Kan pusing mendengarnya, apalagi ada yang ikut-ikutan nyanyi dengan modal suara kaleng ditendang, alias cempreng.


Ya Allah, hamba ingin ganti bis, saja.


"Kamu kenapa, pusing?" tanya Deo saat melihat wajah Yuri yang lesu.


"Aku hanya terharu, ternyata seperti ini merasakan perjalanan rakyat jelata yang menggunakan bis."


Gara langsung menoyor Yuri.


"Jangan kumat napa, Ri."


"Gara, jangan noyor-noyor Yuri, nanti dia pusing terus muntah gimana?" ucap Deo sambil mengelus kepala Yuri.


Gara dan Qavi saling pandang.


"Kayanya Deo suka sama Yuri, deh."


"Tapi kayanya Yuri suka sama gue, deh."


Kini giliran Gara yang ditoyor oleh Qavi. Jadilah mereka berdua gelut yang membuat bis itu semakin berguncang.


Ya Allah, kalau seperti ini malah aku yang muntah, bukan penumpangnya, batin si sopir yang terus mengeluh tapi mulut tak berhenti ngunyah makanan dari Yuri.