Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
30 Ruang BK


"Saya mau melihat keadaan Freya dulu, bu," Arby ingin melangkahkan kakinya menuju ruang UKS.


"Saya juga," Mico tak ingin kalah.


"Jangan dekat-dekat dengan Freya!"


"Lo yang jangan dekat-dekat dengan dia. Yaya seperti ini gara-gara lo!"


Yaya? Cih!


Arby mencibir mendengar Mico memanggil Freya dengan pangglian Yaya.


"Apa lihat-lihat? Yaya juga punya panggilan khusus buat gue, dia manggil gue Coco. Sedangkan lo? Boro-boro punya panggilan khusus, lihat muka lo aja dia eneg."


Mico puas melihat wajah Arby yang semakin kesal.


"Cukup!"


Guru BK menghela nafas sambil menggelengkan kepala.


"Ayo kalian semua ke ruangan saya!"


Di ruang BK


"Apa yang terjadi dengan kalian? Apa yang kalian ributkan?"


Hening, tidak ada yang menjawab.


"Nania, apa yang terjadi?"


Gadis itu juga diam saja, bukannya ingin menutup-nutupi apa yang terjadi, hanya saja dia bingung dengan dua pria yang wajahnya sudah babak belur itu.


"Panggil Ikmal sekarang!"


Salah satu murid langsung keluar menuju ruang UKS.


Di ruang UKS, Ikmal menunggui Freya yang sedang terbaring, masih belum sadarkan diri. Ada perasaan iba dari hati Ikmal untuk gadis itu.


"Mal, dipanggil ke ruang BK."


Ikmal mengangguk pada teman sekelasnya itu, lalu mereka ke ruang BK bersama. Kedua murid itu tiba di ruang BK yang penuh dengan murid yang ada di tempat kejadian perkara (TKP).


"Ikmal, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Hanya salah paham saja, bu."


"Ini sudah yang kedua kalinya, ya, kalian terlibat perkelahian. Apalagi ini lebih parah dari yang sebelumnya. Coba jelaskan yang sebenarnya!"


Hening


"Yang diam saja, maka orang tuanya akan ibu panggil ke sekolah."


"Mico dan Arby rebutan Freya, bu," ucap salah satu murid yang ketakutan orang tuanya dipanggil ke sekolah, namun dirinya semakin menciut saat tatapan-tatapan tajam dari beberapa orang mengarah padanya.


"Rebutan Freya?"


"Eh, anu ... hmmm ... duh, gimana ya? Bujan gitu, bu," mukanya jadi pucat.


Duh gimana, nih? Tahu gini tadi diam saja, toh kalau orang tua dipanggil juga ramai-ramai, kok. Tidak hanya aku sendiri saja.


Melihat murid-muridnya yang kompak menutupi masalah tersebut, akhirnya dia melihat CCTV. Sebenarnya murid-murid itu takut pada Arby cs dan Mico.


Guru BK tersebut melihat bahwa Arby lah yang lebih dulu menyerang Mico, dan itu disaksikan oleh banyak murid. Meskipun Arbyb adalah anak dari pemilik sekolah ini dan masih memiliki hubungan kerabat dengannya, namun dia tidak bisa pilih kasih.


"Arby, sebenarnya ada apa denganmu? Sudah dua kali kamu terlibat perkelahian, bahkan kali ini kamu yang memulai lebih dulu."


"Itu karena dia yang memancing emosi."


Arby menunjuk Mico dengan dagunya.


"Heh, jangan lempar batu sembunyi tangan, a*jing!"


"Emang gara-gara lo, be*o."


"Kam**t lo, ya!"


"Apa lo, se*an!"


"Kalian ini keterlaluan, ya. Saya ada di hadapan kalian tapi kalian malah bersikap seenaknya. Kalian pikir ini ring tinju?"


Bu guru itu menghela nafas dalam-dalam sambil memijat keningnya. Selama dia mengajar di sekolah ini, belum pernah dia mengalami hal seperti ini, karena murid-murid di sini disiplin dan tidak pernah menimbulkan masalah.


"Arby, kamu seharusnya bisa menjadi contoh yang baik untuk teman-teman kamu, karena kamu berprestasi dan anggota OSIS."


"Dan kamu Mico, ibu juga tahu sebenarnya kamu itu pintar, hanya saja kamu tidak peduli," lanjutnya.


Guru BK itu menatap kedua murid laki-lakinya.


"Saya akan memanggil orang tua kalian."


"Tidak perlu, bu. Mereka tidak akan datang, ibu bisa langsung memberikan saya hukuman," jawab Mico santai.


"Kasihan banget lo, enggak diperhatikan oleh orang tua sendiri."


"Heh, mon*et, mereka itu sibuk kerja. Lagian urus saja urusan lo sana. Lo juga gak pernah dianggap apa-apa kok sama Yaya. Cih, gue kasihan sama lo. Eh, salah deh, gue kasihan sama Yaya, harus tersiksa gara-gara cowok macam lo, anak mami!"


"Apa lo bilang!"


"Lo, anak mami papi!"


"Cukup! Kalian saya skors selama dua minggu! Dan saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi."


Cukup memahami situasi yang ada, akhirnya dia memanggil orang tua Arby dan Freya, karena dia yakin mereka pasti akan berebutan lagi untuk membawa Freya pulang.


Murid-murid di ruangan itu sudah dibubarkan, yang tertinggal hanya Arby. Orang tua Arby dan Freya kembali dipusingkan oleh sikap anak mereka, apalagi sekarang Freya pingsan karena kena tonjok Arby.


Sebenarnya Freya tidak akan pingsan jika saja kondisi tubunhnys yang memang kurang sehat, karena saat berlatih karate, kena pukul atau tendangan memang sudah biasa, namun tidak pernah menyebabkan dia pingsan.


Akhirnya Arby dan orang tua mereka membawa Freya pulang.


"Kamu kenapa sih bikin masalah terus, Ar?"


"Bukan aku, tapi tuh cowok."


"Seharusnya kamu fokus sama sekolah kamu. Sebentar lagi kamu lulus sekolah dan akan sibuk kuliah dan kerja di perusahaan."


"Ingat janji kamu kepada kami, Arby."


"Iya pi, mi, Arby ingat banget kok hanji Arby ke papi mami. Tapi semua ini juga enggak akan terjadi kalau dia enggak mancing duluan."


"Kamu seharusnya lebih bijak dalam menyikapi masalah, bukannya malah langsung main tangan. Ingat, kamu tuh sudah punya istri, mungkin sebentar lagi akan punya anak."


Wajah Arby memerah saat mendengar kalau dia akan punya anak, reflek dia melihat wajah Freya yang tidur di atas pangkuannya.


"Kalau istri dan anak kamu bikin salah, memangnya kamu mau langsung main tangan?"


"Iya enggak lah, pi, mi."


"Makanya mulai sekarang harus lebih dewasa lagi dalam menyikapi masalah. Gimana Freya mau suka sama kamu, kalau kamu emosional begitu."


Gara-gara Mico nih, kenapa malah aku yang disalahkan?


Entah sadar atau tidak, Arby mengelus rambut dan wajah Freya. Wajah cantik itu kini terlihat memar akibat tangannya. Freya melenguh dalam tidurnya saat tangan Arby mengusap bekas lukanya.


Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah. Arby menggendong Freya hingga ke kamar dan membaringkannya.


Dia bimbang ingin menggantikan pakaian Freya. Ingin meminta tolong pada maminya, tapi maminya juga sudah pergi lagi. Meminta tolong pada asisten rumah tangga juga tidak mungkin.


Akhirnya Arby memutuskan untuk menggantikan baju Freya.


Dibukanya almamater Freya, ekspresinya masih biasa saja.


Dibukanya dasi Freya, nafasnya mulai tertahan.


Dibukanya kancing Freya satu demi satu, wajahnya mulai merona dan terasa panas.


Dilihatnya kulit Freya yang putih mulus.


Dia lalu membuka seragam Freya dan melemparnya begitu saja.


Freya masih menggunakan tengtop putih, namun lekuk tubuhnya sudah terlihat jelas.