Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
37 Masalah Baru


Sudah dua hari ini Freya tidak masuk sekolah, tubuhnya semakin lemah.


Irma dan Surya, sepasang suami istri yang merupakan kerabat dari keluarga Abraham masih menginap di rumah itu.


"Apa tidak sebaiknya Freya dibawa ke rumah sakit saja?" tanya Irma.


"Anak itu selalu mengurung diri di kamar. Jika tidak penting sekali, dia tidak akan keluar," sahut Elya.


"Coba minta keluarganya untuk datang, siapa tahu saja mereka bisa membujuk Freya."


Bukannya membujuk, yang ada malah adu mulut. Namun Elya tetap menghubungi orang tua Freya untuk datang.


Tidak lama kemudian bel rumah berbunyi.


Enam orang pelajar memasuki rumah itu.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Arby.


"Gue mau nengokin Yaya."


Arby mendengkus, merasa kesal dengan kehadiran Mico.


"Ngapain sih kalian ngajak dia?"


Nania dan Aruna tidak menjawab, sedangkan Marcell, Vian dan Ikmal menggeleng.


"Di mana kamar Freya?"


"Di lantai dua, pintu warna coklat muda."


Nania, Aruna dan Mico langsung menuju atas, tanpa minta izin terlebih dahulu.


"Mau ngapain kamu?" cegah Arby saat Mico ikut menaiki tangga.


"Sudah gue bilang gue mau nengokin Yaya."


"Gue enggak butuh izin dari lo."


"Tapi gue suaminya, dan ini rumah gue."


"Ya kebetulan aja lo suaminya dan Yaya tinggal di sini."


"Sudah Mic, mendingan kita nengokin Freya sekarang."


Mereka bertiga melanjutkan langkah. Arby dan ketiga temannya terpaksa mengikuti.


Nania mengetok pintu kamar Freya.


"Freya, ini aku Nania, Aruna dan Mico."


Tidak ada sahutan, Nania kembali mengetok. Cukup lama menunggu, akhirnya kamar itu terbuka. Mereka memasuki kamar Freya. Aroma nano-nano tercium dari kamar itu. Mereka mengendus, merasa aneh dengan aroma ini.


Mico menahan senyum, pria itu tentu cukup tahu kalau ini aroma ini adalah perpaduan dari aroma bir, asap rokok dan berbagai aroma parfum dan pewangi ruangan yang disemprotkan. Freya sendiri saja sebenarnya mual mencium aroma kamarnya ini, namun dia sedang tidak ingin digurui jika mereka tahu kalau dia merokok dan ngebir. Bukannya takut ketahuan dan dimarahai, hanya saja dia memang sedang tidak mood.


"Masuk," perintah Freya dengan suara lemah.


Yang diberi izin hanya tiga orang, tapi yang masuk ada tujuh orang. Freya menatap tajam Arby, Marcell, Vian dan Ikmal.


"Pergi kalian, aku mual melihat kalian."


Arby tak peduli, dia tetap saja masuk dan duduk di sofa.


"Buruan sehat, Ya. Nanti kita happy-happy, lagi." Mico mengedipkan matanya, membuat Freya tertawa kecil, karena dia sangat tahu apa yang dimaksud oleh Mico. Arby menatap geram interaksi itu.


Cih, menjijikkan.


Mereka seperti dua kelompok yang akan melakukan adu otot dan adu mulut. Arby cs sibuk mengobrol sendiri, begitu juga dengan Freya cs. Asisten rumah tangga membawakan cemilan dan minuman ke kamar Freya.


"Keluar kalian dari sini!" Freya berkata ketus kepada empat orang itu.


"Rumah, rumah aku. Kenapa harus aku yang keluar dari rumah ini?"


Freya membuka minuman soda dan meneguknya dengan rakus. Matanya menatap tajam Arby, begitu juga Arby menatap Freya, yang bagi Freya seperti tatapan mengejek, membuatnya ingin mencekik dan mencakar wajah sok tampan itu.


Freya cs akhirnya menonton film thriller di laptop Freya.


Di rumah orang tua Freya


"Kita diminta ke rumah Elya sekarang," Ami memberitahu suaminya yang sibuk dengan berkas-berkas.


"Elya bilang Freya sering sakit dan mengurung diri di kamar. Dia tidak mau dibawa ke rumah sakit. Saat dokter datang, dia malah marah mengusir dokter itu."


Wildan menghela nafas. Dirinya sudah pusing dengan masalah perusahaan, kini semakin pusing dengan sikap anaknya itu.


Di rumah Arby


Marcell sesekali mencuri pandang pada Nania. Dia menghela nafas, karena masalah Arby dan Freya, dia tidak bisa lagi mengganggu Nania, sebab gadis itu kini semakin galak padanya karena dia teman Arby.


Freya menahan kantuknya, kepalanya oleng ke bahu Mico dan akhirnya bersandar di pundak pemuda itu. Sekali lagi Arby mendengkus melihat adegan sok romantis itu. Sedangkan Mico terlihat biasa-biasa saja.


Tiba-tiba saja perut Freya kembali bergejolak disertai dengan keringat dingin. Freya bergegas ke kamar mandi untuk kembali memuntahkan semua isi perutnya.


Hueekk ... huueekk ... hueek ....


Rasanya Freya sudah tidak tahan dengan kondisinya. Air matanya keluar. Rasa pahit di mulutnya sangat tidak menyenangkan.


Mereka terlihat panik saat Freya muntah-muntah di kamar mandi.


"Freya, kamu tidak apa-apa?"


Nania dan Aruna ingin masuk ke dalam kamar mandi, tapi pintunya ternyata di kunci oleh Freya. Nania dan Aruna menggedor-gedor pintu kamar mandi, khawatir terjadi sesuatu dengan sahabat mereka, misalnya saja pingsan.


Tidak ada sahutan, namun samar-samar terdengar suara orang muntah dan suara air keran.


"Apa di dobrak saja?"


Mereka kembali menggedor pintu.


"Iya tunggu."


Mereka sedikit lega mendengar suara Freya.


Freya keluar dari kamar mandi dalam keadaan pucat pasi. Wajahnya sedikit sembab dengan mata merah namun kantong matanya hitam, membuat yang lain menatap iba.


Freya memegang perutnya yang sedikit keram, mungkin efek karena kebanyakan muntah. Kaki dan tangannya gemetaran, matanya berkunang-kunang disertai denyut yang menyakitkan di kepalanya, seperti terkena pukulan.


Belum sempat mereka bertanya, Freya langsung ambruk. Untung saja Mico dengan cekatan menahan tubuh Freya hingga tidak mencium lantai.


"Singkirkan tanganmu darinya!"


Mico tidak peduli dengan perkataan Arby, dia langsung menggendong Freya dan membaringkannya di kasur.


Nania dan Nuna menghampiri Freya, mengusap kening Freya yang terasa panas.


"Badannya panas banget."


Nania dan Aruna mencoba mengompres Freya dengan air hangat dan mengusapkan minyak di hidung dan perut Freya.


Arby langsung memanggil dokter keluarga.


"Sejak sama Arby, Freya jadi sering sakit," gerutu Nania.


Arby mendelik tajam pada Nania, ingin membalas perkataan gadis itu namun dicegah oleh ketiga sahabatnya.


"Sabar, Ar. Freya lagi sakit."


"Kelua sana, kalian mengurangi pasokan oksigen yang dibutuhkan Freya," Nania masih tetap singit saat berbicara dengan Arby cs.


"Enggak tahu malu, kalian saja sana yang pulang!"


"Astagfirullah, kalian bisa diam enggak sih. Enggak lihat apa Freya lagi sakit. Nanti gimana kalau Freya lewat tapi kalian malah berantem di hadapannya?"


Nania dan Aruna serempak menoyor Marcell. Diikuti oleh Arby, Vian, Ikmal dan tentunya Mico.


"Sembarangan kalau ngomong!"


"Makanya kalian berdua diam. Kasihan itu Freya mukanya sudah pucat banget."


Dua puluh menit kemudian dokter datang. Orang tua Arby yang tidak tahu apa-apa bingung melihat dokter datang, mengatakan kalau Freya sakit.


Mereka langsung menuju ke kamar Freya, bersama dengan keluarga Freya yang datang bersamaan dengan dokter itu.


Melihat wajah pucat Freya, dokter itu langsung menghampiri Freya.


Selesai memeriksa, dokter melihat mereka sambil menghela nafas berat. Dia seperti berat mengatakan ini, tapi mereka harus tahu, dan cepat atau lambat juga pasti tahu.


"Freya hamil!"