Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 56 Video


Sejak kejadian itu, Yuri menjadi pendiam, padahal ini sudah tiga hari dia dirawat di rumah sakit. Hari ini Yuri sudah boleh pulang.


Sesampainya di rumah, Yuri meminta untuk tidur bersama maminya. Rasa takutnya membuat dia tidak berani lagi sendirian, meski itu di rumahnya sendiri.


Deo yang melihat Yuri seperti itu, benar-benar sedih. Yuri melihat dia seperti orang asing, dan sama sekali tidak pernah bicara padanya.


"Kamu yang sabar ya Deo. Yuri pasti akan kembali ceria seperti dulu."


Psikolog dan psikiater dipanggil secara pribadi untuk membantu menyembuhkan trauma Yuri.


Dalam tidur, Yuri selalu memeluk maminya, bahkan untuk ke kamar mandi saja, dia sangat takut.


🌸🌸🌸


Seorang gadis memegang ponselnya erat-erat. Dia berkali-kali menghembuskan nafas berat, dan mengingat banyak hal. Lalu, dengan langkah mantap, dia pergi ke ruang kepala sekolah.


Dia mengetuk pintu dengan tangan gemetar, tapi hatinya sangat yakin.


"Ya, masuk."


Gadis itu bernama Delima.


"Maaf Pak, mengganggu. Ada hal penting yang mau saya sampaikan pada bapak."


"Ya, apa yang mau kamu katakan?"


Delima mengeluarkan ponselnya yang jadul, lalu membuka satu aplikasi dan menyerahkannya pada kepala sekolah.


Kepala sekolah langsung melotot lebar saat melihat isi video. Lalu dia menelepon polisi dan keluarga Yuri.


"Kamu dari mana dapat video ini?"


"Sa ... saya tidak sengaja merekamnya. Saya takut, Pak. Jadi, baru berani mengatakan sekarang."


"Apa ada yang tahu tentang ini?"


"Saya rasa tidak."


"Bagus. Jangan ceritakan pada siapa pun, dan berpura-pura saja tidak tahu apa-apa. Oya, polisi pasti ingin menanyakan beberapa hal padamu. Jangan takut, katakan saja semua yang kamu tahu dengan jujur, kami pasti akan melindungi kamu."


Tiga puluh menit kemudian, keluarga Yuri, Deo, dan beberapa orang polisi tiba di sekolah. Mereka langsung menuju ruang kepala sekolah.


Kapal sekolah memberikan bukti video yang Delima berikan.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya papi Yuri.


"Dari salah satu murid yang ada di sini."


"Kenapa bari sekarang dia memberikannya?"


"Aku rasa ia ketakutan. Dia bukanlah murid yang menonjol di sekolah ini, dan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, pasti banyak hal yang dia cemaskan."


"Panggil anak itu sekarang."


Kepala sekolah langsung memanggil Delima. Anak perempuan itu masuk dengan wajah pucat. Apa dia akan ikut disalahkan karena baru sekarang memberi tahu kebenarannya?


Dia benar-benar takut. Takut akan dikeluarkan, takut terjadi sesuatu yang berbahaya untuk dia dan keluarganya, takut dipenjara karena sejak awal tidak mengatakan kebenarannya.


"Permisi, Pak, Bu."


"Silahkan duduk."


"Benar kamu yang merekam ini sendiri?"


"Be—benar. Ini ponsel saya."


Mereka melihat ponsel jadul yang sudah retak-retak itu.


"Kenapa sejak awal kamu tidak bilang semuanya?"


"Saat itu, saya tidak masuk sekolah karena adik saya sakit. Orang gua saya harus jualan di pasar, jadi saya mengurus adik saya di rumah. Saya juga bukan anak yang aktif di kelas, jadi kurang update dengan yang terjadi."


"Setelah saya kembali sekolah, saya mendengar berita tentang Yuri. Tapi saya takut menceritakan semua itu. Saya ini hanya anak miskin yang bisa sekolah di sini karena beasiswa. Sedangkan pelakunya ...."


"Seharusnya kamu tetap menceritakan semuanya. Apa kamu tidak tahu, kalau kamu pasti akan dilindungi."


"Maafkan saya." Delima menahan isak tangisnya.