
Suasana di club malam sangat ramai. Lampu kelap kelip dengan musik yang mengalun kencang, suara teriakan juga tawa, bau asap rokok dan minuman yang bercampur menjadi satu ditambah keringat akan membuat orang-orang yang tidak terbiasa dengan itu menjadi pusing dan mual. Tapi tidak dengan Freya, gadis itu terlihat sangat menikmatinya, tidak perduli apakah akan ada orang yang mengenalnya atau tidak.
Karena sekali lagi baginya, enjoy your live.
Mico memperhatikan Freya yang merokok namun tidak didampingi minuman apapun. Pria itu lalu memberikannya air mineral kemasan yang masih tersegel.
"Hati-hati, di sini banyak hidung belang."
Freya mengangguk, tentu saja dia sangat paham itu meski pun umurnya masih enam belas tahun.
"Perhatikan minuman kamu, jangan sampai ada yang mencampurnya dengan obat.
"Seperti ini?"
Freya langsung mengkekep minumannya, membuat Mico menoyor gadis cantik itu.
"Ya enggak gitu juga, kali."
Freya terkekeh, lalu menepuk lengan Mico dengan kencang.
"Wis, siapa Mic, pacar?"
"Temang, bang. Kalau dia ke sini, jagain ya, bang. Jangan sampai digangguin siapa-siapa."
"Beres. Hai, kenalin, aku Gibran."
"Freya, bang."
Gibran menelisik Freya, lalu tersenyum. Dia cukup yakin bahwa Freya hanyalah gadis remaja yang sama seperti Mico, mencari makna hidup dengan caranya sendiri. Dia mengenal Mico cukup lama, meskipun Mico sering ke tempat ini dan minum-minum, namun dia bukan pemuda brengsek yang akan menjerusmuskan orang, jadi sudah pasti Freya ke sini karena keinginannya sendiri.
Bahkan dia melihat Mico yang tidak menawarkan minuman alkohol pada Freya.
"Hai, bro!"
Seorang pria menepuk pundak Mico, dia adalah Aidan. Beda Mico, beda lagi Aidan. Aidan terkenal dengan sifat playboy dan brengseknya. Dia hobi mabuk-mabukan dan free s**.
Aidan menatap Freya, wajah cantik Freya yang sangat alami langsung memikat hatinya.
"Jangan ganggu dia."
Mico berkata dengan tegas, tidak ingin Freya menjadi santapan seorang Aidan.
"Oke, santai bro."
Di kediaman keluarga Abraham
Arby berjalan mondar-mandir. Sudah jam dua malam, namun Freya belum juga pulang. Freya memang sering seperti ini, menghilang begitu saja tanpa bisa dihubungi. Dia sudah menghubingi Nania, namun setiap dia bertanya tentang keeradaan Freya, Nania malah marah-marah dan mengatakan bahwa dia tak pantas bersama Freya, membuat Arby mendengkus tanpa hasil apa-apa.
πππ
Freya termenung mengingat kejadian tadi sore di cafe. Percakapan antara mamanya dan mami Arby terus mengusik hati dan pikirannya. Dia kini berada di apartemen yang dia beli belum lama ini dari hasil pekerjaan rahasianya. Unit apartemennya bersebelahan dengan milik Mico, itu terjadi dengan tidak sengaja.
Freya sudah sedikit mabuk. Di club tadi dia memang minum, tapi sesampainya di apartemen, dia langsung melampiaskan semuanya dengan bermabuk-mabukan.
Keluarganya tidak mengharapkannya, begitu juga dengan Arby, suami statusnya itu. Andai saja Arby berusaha untuk membuka hati untuknya, mungkin dia juga akan berusaha membuka hatinya.
πΏπΏπΏ
Arby menatap sisi kasur yang kosong. Gadis cantik namun cara tidurnya sangat urakan itu selalu membuat dia geram. Kamar dengan aroma yang akhir-akhir ini berpadu antara aroma minyak wanginya dan minyak wangi milik Freya terasa kosong saat tak ada Freya di sana. Biasanya dia melihat buku yang berserakan di meja belajar dan kasur, bahkan di lantai.
Arby mengela nafas.
Ini bukan pernikahan impiannya.
Hingga pagi menjelang, Arby tak dapat memejamkan matanya, namun dia tetap pergi ke sekolah, ingin melihat gadis pujaannya yang selalu membuatnya merindu.
Di sekolah
Mata Freya terlihat kuyu dengan kantong mata yang membengkak dan hitam. Sekali lagi, Freya melihat pemandangan sepasang murid, siapa lagi kalau bukan Arby dan Nuna.
Freya melihat mereka tanpa *****.
Begitu pun dengan pasangan itu, melihat Freya yang wajahnya pucat dan lemah. Dari belakang ada yang menepuk punggung Freya.
"Kamu sakit?"
Freya menggeleng, lalu menggandeng lengan Mico dan melewati kedua orang itu.
"Aroma kamu enak banget, Mic. Pakai parfum apa sih?"
"Menyan."
Freya tertawa, hal yang tidak bisa dia lakukan bersama Arby.
"Lengan kamu kekar banget, olah raga apaan, sih?"
"Kan sering gendong kamu, beb."
Sekali lagi Freya tertawa.
Perkataan dengan maksud becanda, namun telah membuat orang-orang yang mendengarnya salah paham.
Nania, Aruna, Marcell, Vian, Ikmal, bahkan Nuna menahan nafas saat melihat kemurkaan di wajah Arby.
Arby menghampiri Mico dan langsung menonjoknya.
Bugh
Bugh
Bugh
Freya langsung membantu Mico berdiri. Tidak terima atas perlakuan Arby, pemuda itu langsung membalas tonjokkannya.
Terjadilah aksi saling tonjok itu.
"Woy, jangan diam saja. Bantuin, be*o!"
Ikmal, Marcell dan Vian menahan badan Arby, sedang murid laki-laki lainnya menahan tubuh Mico.
"Lepas, jangan ada yang ikut campur."
Kekuatan dua murid laki-laki itu memang besar, bahkan yang lain sampai kuwalahan.
"Apa saja yang kamu lakukan ke Freya, hah?"
"Bukan urusan, lo."
"Dasar breng*ek."
"Arby, kamu apa-apaan, sih?"
"Kamu ngebela dia, iya?"
"Kamu urus saja sana pacar kamu. Ngapain repot sama urusan orang. Aku aja masa bodo sama kalian."
"Seharusnya kamu sadar kamu itu siapa, Frey."
"Kamu yang seharusnya sadar. Pergi sana, jangan gangguin aku sama Mico."
Merasa tidak terima kalau Freya lebih memilih Mico, Arby kembali memukul Mico. Freya menarik tangan Arby, namun Arby langsung menepisnya dengan kuat, sehingga Freya terjatuh.
"Nuna, jangan diam saja dong, urusin tuh pacar kamu yang kaya preman."
Nuna bingung, dia ingin melerai tapi sadar diri bahwa bisa-bisa dia yang jadi korban, Nania dan Aruna juga tidak ada yang mendekat. Freya saja yang jago bela diri sampai kuwalahan, termasuk murid laki-laki yang ikut kena pukul.
Ketiga gadis itu saling merepet dengan tubuh gemetar.
"Cepat panggil guru!"
Salah satu murid berlari ke ruang guru.
"Jangan dekati Freya, lagi!"
"Memangnya kamu siapa? Freya saja enggak pernah anggap kamu siapa-siapa, kok. Bahkan sebagai teman juga tidak."
Arby mengepal tangannya, dengan sekuat tenaga dia menonjok Mico.
"Freya!"
Bukannya mengenai wajah Mico, tapi Freya lah yang menjadi sasaran. Arby tercengang dengan wajah yang pias. Darah segar mengalir dari wajah pucat Freya.
Nania, Nuna dan Aruna langsung mendekati Freya.
"Dasar ban*i, kenapa kamu mukul Freya?"
Mico kembali menonjok Arby.
"Gue enggak sengaja, An**ng. Ini semua juga gara-gara lo."
"Lo kira, karena lo ganteng semua cewek harus suka sama lo? Untungnya Freya bukan cewek seperti itu."
"Freya itu milik aku."
"Sadar diri, se**n, Freya bebas memilih dengan siapa dia mau. Lo aja punya cewek, urus sana cewek lo, kalau masih kurang, cari di jalan sana, masih banyak!"
Bukannya behenti, mereka malah tetap berkelahi.
Nania membantu Freya berdiri, namun baru saja berdiri, gadis itu sudah jatuh pingsan.
Mico langsung menghampiri Freya dan ingin menggendongnya.
"Lepasin Freya, jangan sentuh dia!"
Mico tak peduli dengan perkataan Arby. Terjadi aksi saling rebut dengan tubuh Freya sebagai objeknya.
"Kalian berdua, berhenti!"
Guru BK datang dengan wajah marah.
"Lepasin Freya!"
"Lo yang Lepasin!"
"Stop! Ikmal, bawa Freya ke ruang UKS!"
"I ... iya, bu."
Ikmal langsung menggendong Freya dengan hati-hati menuju ruang UKS. Ikmal melihat wajah Freya yang pucat dengan darah yang mengotori wajah dan bajunya, membuat pria itu menghela nafas.
"Kalian semua ikut saya ke ruangan!"