
Setiap kali ada tempat yang bagus, berhenti ... ada tempat yang bagus, berhenti ... kapan sampainya di Bali?
Seperti saat ini, Yuri sedang sibuk berfoto-foto. Mereka baru tiba di sekitar Jogja pagi ini. Yuri memberikan list pada kepala sekolah.
Candi Borobudur
Candi Prambaanan
Parangtritis
Kaliurang
Malioboro
Dan sederet nama lainnya yang ada di Jogja dan sekitarnya.
"Kita ini mau ke Bali, bukan liburan ke Jogja, Yuri."
"Sekalian, Pak. Kan buang-buang uang dan waktu kalau gak sekalian mampir."
"Justru kalau singgah ke mana-mana, malah buang-buang uang dan waktu, Yuriiiii binti Wildan."
"Emang? Ya sudah, kan menyenangkan murid-murid dapat pahala. Siapa tahu saja Bapak bisa jadi kepala sekolah selama lima periode."
"Siapa yang akan menanggung biaya tambahannya? Bensin, sopir, tambahan biaya penginapan karena kita tidak tepat waktu?"
Yuri mengetuk-ngetuk dagunya sambil berpikir.
"Bapak saja deh yang nyari solusi, saya bingung."
Yuri langsung kabur setelah seenaknya dia membuat kepala sekolah pusing.
Teguh lalu menghubungi seseorang.
"Halo?"
"Marteen, anak kamu itu lagi liburan di Jogja."
"Terus?"
"Terus, terus ... terus ini siapa yang mau ngasih dana tambahan untuk bensin dan sebagainya?"
"Aku transfer, orang kaya seperti aku, tinggal pencet beberapa nomor juga beres."
"Heleh, sombong. Pantas saja Yuri seperti itu, nurunin sifat bapaknya!"
"Masa nurunin sifat bapakmu!"
"Capek ngomong sama orang seperti kamu."
"Hahaha ... kesal gak, kesel gak, kesel lah ... masa enggak!"
"Tau, ah."
"Ya sudah, hati-hati kalian semua. Aku langsung transfer sekarang."
Mereka kini ada di pantai Parangtritis. Ratusan anak sekolah itu kangsung berhamburan ke pantai sambil berteriak heboh.
Belum sampai Bali, sudah capek duluan ini. Keamanan dompet pun terancam.
Para guru itu mengeluh dalam hati, tapi juga ikut senang-senang.
Tentu saja berliburan seperti ini membutuhkan biaya yang mahal, sebenarnya banyak yang tidak bisa ikut karena masalah ekonomi, karena meskipun itu sekolah elit, tidak semua orang kaya. Mereka masuk dengan jalur beasiswa.
Namun Yuri diam-diam meminta pada opa omanya untuk membantu biaya liburan mereka yang kurang mampu, karena kalau mau bersenang-senang, ya harus sama-sama, biar tidak ada yang iri hati.
Deo teringat perkataan opa dan oma Yuri yang meminta dia menjaga Yuri, takut dibawa Putri Duyung atau bule mesum.
"Jagain cewek-cewek, woy. Jangan matanya aja yang jelalatan!" perintah Dei kepada murid-murid yang lain. Maklum saja, suasana yang ramai seperti ini, ditamvah jumlah murid yang sangat banyak, pastinya akan membuat para guru kualahan. Maka tugas Deo sebagai ketua OSIS untuk mengarahkan teman-temannya agar saling menjaga. Mungkin saja ada yang tidak bisa berenang lalu tanpa sadar main ke agak tengah.
Deo mendengkus melihat Yuri yang lagi tebar pesona ke pria bule.
Gue m**eleng dikit, dia langsung gercep.
Begitu juga dengan Chia, Airu dan murid perempuan lainnya. Mata mereka berbibar cerah melihat turis asing dari berbagai negara.
"Jangan-jangan salah satu jodoh gue adalah bule-bule itu?"
Gara langsung menyentil kening Chia.
"Ngayal jangan ketinggian!"
"Ya masa gue harus ngayal lo jadi jodoh gue?"
Wajah Gara tiba-tiba memerah.
K**enapa gue hadi salting?
Sudah hampir dua jam mereka bermain di pantai, dengan Yuri yang terus menguras isi dompet Deo.
Ish, ngasih jatah ke Beo saja belum pernah, tapi uang gue dikuras terus. Ini gue yang terlalu baik, apa bodoh, sih? Kenapa mommy dan daddy nyari menantu yang gak mau rugi kaya gini? Tapi kalau bukan buat Yuri, buat siapa lagi uang gue? Anak saja belum punya.
Deo terkekeh geli saat menyebut kata anak dalam hatinya. Dirinya yang masih bocil tapi sudah mikirin anak.
"Deo, jangan ketawa-ketawa enggak jelas. Enggak ingat, apa? Kemarin Beo ketempelan."
Deo mendengkus mendengar perkataan Yuri.
"Ayo ganti baju dulu, nanti kamu sakit."
"Bajuku ada di koper. Kopernya kan ada di bagasi. Ribet ah kalau harus bongkar barang di sini."
"Terus?"
"Kita beli aja."
"Iya, deh."
Dei juga malas kalau harus membongkar kopernya.
"Yang mau beli baju ganti, ayo woy! Kita beli kodian aja biar murah," teriak Yuri.
Mereka langsung menghampiri Yuri dan belanja bersama. Ini Yuri lakukan juga untuk membantu mereka yang mungkin membawa uang pas-pasan.
Dengan jiwa enggak mau ruginya, Yuri berhasil membeli banyak baju ganti denfan harga yang cukup murah.
"Bagi-bagiin ke yang belum dapat. Enggak usah pilih-pilih, semuanya sama. Biar kita juga gampang dikenali jadi enggak ada yang hilang."
Para guru dan kepala sekolah yang mendengar itu tersenyum. Meskipun sering membuat rusuh dan heboh, tapi Yuri memang baik. Makanya tidak ada yang bisa benar-benar kesal dengannya.
Mereka dipaksa kembali ke bis setelah makan di pantai. Di absen satu-satu agar tidak ada yang ketinggalan.
"Yang merasa tidak enak badan, jangan lupa minum obat atau vitaminnya, ya."
"Chia, olesin minyak dong di punggung aku," kata Airu.
Chia langsung mengoles minyak kayu putih di tengkuk Airu, begitu juga dengan beberapa murid lain.
"Yuri, lo juga mau gue okesin minyak gak, depan belakang?" bisik Deo.
"Boleh, gantian ya? Nanti gue yang olesin Beo dengan bensin."
Deo langsung menutup Beo dengan tangannya.
Sadis banget istri gue.