Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 2 Hamil


Hari ini hari pertama ujian tengah semester. Murid-murid terlihat sangat serius. Serius nyari contekan, maksudnya.


Ada di antara mereka saling berbagi tugas, dengan prinsip gotong royong, seperti ....


Yang pintar kimia, akan menjadi dewa/dewi penyelamat untuk yang tidak jago.


Yang jago biologi, akan menyumbang otaknya kepada ahli kimia yang pusing dengan sel, organ, jaringan dan segala yang berhubungan dengan makhluk hidup.


Yang ahli matematika, akan menjadi kalkukator hidup bagi yang lain.


Sedangkan yang bahasa Inggrisnya kacau, akan menunggu kedermawanan bule lokal.


Jangankan bahasa inggris, bahasa Indonesia gue aja berantakan, begitu kata mereka membela diri.


Hanya ada dua manusia yang anteng di dalam kelas itu.


Mereka tidak akan mencontek, tapi bukan berarti mereka tidak pernah memberikan contekan untuk yang lain.


Karena dalam dunia perkelasan, siapa saja yang pelit memberikan contekan banyak musuhnya.


Dasar pelit


Takut banget disaingi


Begitukah kira-kira komentar yang diberikan.


Cara bertanya dan memberikan jawaban pun sangat halus.


Memberikan jari telunjuk, berarti jawaban A.


Telunjuk dan jari tengah, berarti B, dan seterusnya.


Ada juga yang memonyongkan bibirnya. Jika monyong satu kali, berari jawabannya A, jika dua kali, berarti B, dan seterusnya (lama-lama bibirnya bisa monyong beneran, hehehe).


Ya, segala taktik dan trik saat ulangan, terutama ujian semester akan dilakukan. Mereka bagaikan panglima perang yang memiliki berbagai macam strategi untuk memenangkan pertempuran.


Hak yang suatu saat nanti akan menjadi sakah satu kenang-kenangan dan bahan obrolon saat mereka sudah lulus dan menjadi lebih dewasa, dan mengadakan reoni kelak.


.


.


.


Hari terakhir semester ganjil, mereka tidak langsung pulang, melainkan pergi ke cafe dan mall untuk refreshing.


"Ngomong-ngomong, kira-kira antara Yuri dengan Deo, siapa yang akan nilai tertinggi?"


"Harus aku, dong," jawab Yuri.


Memang biasanya jika Yuri ranking satu, maka Deo ranking dua, begitu juga sebaliknha dengan selisih nilai hanya satu poin saja. Padahal jika masuk ke kelas lain, masing-masing dari mereka akan mendapat ranking pertama, jadi tidak perlu berebut. Bahkan saat SMP mereka juga memiliki nilai raport yang sama.


Awal persaingan mereka juga tidak jelas.


Yuri menganggap bahwa Deo itu sok keren, sok ganteng dan terkenal.


Begitu juga dengan Deo yang menganggap Yuri itu sok cantik dan imut.


💕💕💕💕


Persiapan acara pernikahan Yuri dimulai. Hanya akan ada ijab kabul, karena statusnya yang masih sekolah. Yuri akan menikah dengan pria pilihan orang tuanya saat liburan semester ganjil.


"Siapa sih, Mi, calon suami aku? Kenapa aku belum dipertemukan dengannya?"


"Dia sibuk, Sayang."


"Memang kerja apaan sih, Mi?"


"Wakil CEO."


"Wah, berarti kaya dong, Mi? Tapi kenapa enggak nikahin aku sama CEO sekalian? Biar lebih keren gitu, Mi."


Mami hanya mendelik pada anaknya.


"Dasar matre."


"Kan turunan Mami."


"Eh eh eh, berani ya kamu sama mami."


"Hehehe, canda Mi, canda. Lagian kan Mami suka minta beliin barang branded sama papi."


"Ya namanya juga kaum sosialita, wajar dong kalau pakai yang branded-branded. Lagian kalau mami pakai yang biasa-biasa saja, nanti yang ada mami digosipin tuh sama emaj-emak nyinyir. Nati mereka bilang masa istrinya pengusaha, tapi yang dipakai abal-abal, sih. Nanti papimu juga yang malu."


Yuri manggut-manggut mengerti, mungkin dia nanti juga harus seperti itu pada suaminya.


Besok adalah hari pernikahan Yuri, yang akan di adakan di Bali, sekaligus liburan keluarga dan semesteran Yuri.


Malam ini cukup ramai dengan sanak keluarga yang sudah berkumpul. Satu-persatu mereka menguap, begitu juga dengan Yuri.


Dia segera masuk ke kamarnya.


Satu jam kemidian


Yuri perlahan membuka pintu kamarnya, suasana sudah sangat sepi. Dilihatnya security vila yang tertidur.


Keesokan paginya


Orang-orang bangun kesiangan, hal yang seharusnya tidak terjadi di hari pernikahan.


Kehebohan semakin bertambah saat calon pengantin perempuan tidak ditemukan di manapun.


"Bagaimana bisa kaliannsemua ketiduran?" tanya Marteen pada satpam yang bertugas menjaga pintu gerbang.


"Maat, Tuan. Tiba-tiba saja kami semua mengantuk, tidak seperti biasanya."


Marteen mengerutkan keningnya, lalu mulai paham dan menghela nafas panjang.


"Yuriiiiiiii!" teriak Marteen geram.


Di dalam pesawat, Yuri cekikikan sendiri. Tadi malam dia memasukkan obat tidur di dalam air minum dan makanan orang-orang. Setelah mereka semua sudah pada tidur nyenyak, Yuri langsung kabur dan menuju Jakarta dengan penerbangan terpagi.


Setelah sampai di bandara, Yuri menaiki bis yang menuju Bandung dan menginap di salah satu hotel.


Keesokannya


Mall Bandung


Seorang pria tampan berjalan seorang diri. Wajah tampan itu menyita perhatian pengunjung terutama para perempuan.


Yang diperhatikan hanya memasang wajah datar.


Sedangkan tidak jauh darinya, seorang gadis cantik dengan bulu mata lentik sedang menikmati es krimnya sambil berjalan dan tidak memperhatikan sekitar.


Brugh


"Aaaa, es krimku," ucap Yuri


"Kyaaa, bajuku," teriak pria yang bertabrakan dengan Yuri.


"Lu!" geram mereka bersamaan.


"Gantiin baju gue/gantiin es krim gue!" teriak mereka bersamaan.


"Cih, baju doang/cih, es krim doang," lagi-lagi mereka serempak, membuat Yuri manyun sedangkan Deo mendengkus.


"Ayo beli baju!"


Deo langsung menarik tangan Yuri dengan paksa, membuat gadis itu terseret-seret.


"Ih, apaan, sih!"


"Deo!" panggil seorang wanita.


Yuri dan Deo sama-sama menoleh.


"Mom, ini pacarku. Namanya Yuri!"


Yuri berasa sesak nafas. Bisa-bisanha nih cowok ngaku-ngaku pacarnya.


"Bantuin gue, nanti gue beliin apa aja yang lo mau," bisik Deo.


Yuri lalu melihat dua pasang suami istri di hadapannya. Sambil senyum-senyum enggak jelas, Yuri melihat mereka.


"Jadi benar kamu pacar Deo?"


Yuri mengangguk pelan.


"Mommy tetap enggak percaya sama kamu, Deo. Ayo cepat pulang dan lanjutkan apa yang sudah kamu kacaukan."


"Jangan pisahin kami, Mom, Dad. Kasihan yang ada di dalam perut Yuri."


Yuri melotot pada Deo.


Nih cowok mulutnya minta di tampol, ya!


"Hah? Ka ... kamu hamil?" kali ini bukan mommy Deo yang bertanya, tapi pria paruh baya yang ada di sana melihat sepasang remaja yang bergandengan tangan dan salah satu tangan pria itu mengusap perut Yuri.


Pria paruh baya itu tiba-tiba saja memegang dadanya, dan ambruk di lantai.


"Aaa ... Papi, Papi!"


Yuri langsung berlari ke arah Marteen dan maminya yang sudah menangis sambil memangku kepala sang suami.


"Papi!"


"Papi!"


What? Papi Yuri? Mati aku!


Deonjuga ikut menghampiri kedua orang tuanya dan orang tua Yuri.


"Cepat telepon ambulans!"


"Marteen, bertahanlah!"


Shane menggenggam tangan Marteen. Dia tak kalah panik melihat Marteen yang tiba-tiba saja tumbang karena perbuatan anak laki-lakinya.