
"Ini susu hamil untuk kamu, diminum, ya."
Freya mendungkus melihat Arby dan segelas susu hamil berwarna putih.
"Aku enggak mau."
"Harus mau."
"Aku enggak suka susu."
"Jangan egois. Ini bukan soal kamu suka apa enggak, tapi ini kebutuhan untuk calon penerus keluarga Abraham. Sekarang minum!"
Freya mengalihkan wajahnya, merasa mual saat aroma susu itu tercium di indra penciumannya.
"Minum!"
Freya mendorong tangan Arby hingga gelas itu jatuh ke lantai. Arby mengepalkan tangannya, lalu ke luar. Tidak lama kemudian asisten rumah tangga datang untuk membersihkan pecahan gelas dan susu, disusul oleh Arby yang membawa susu yang baru.
"Minum!"
Freya merapatkan mulutnya, membuat Arby kesal. Pria itu lalu mencengkram kedua pipi Freya, Freya kembali ingin mendorong tangan Arby, tapi tangannya menggenggam gelas susu dengan erat. Lalu Freya berusaha melepaskan tangan Arby yang mencengkram pipinya. Arby terus menekan tangannya, membuat mulut Freya terbuka, lalu dia meminumkan susu itu.
Belum sempat susu itu masuk ke dalam perut Freya, gadis itu langsung muntah, lagi-lagi di dada Arby.
"Ini gara-gara kamu, sudah aku bioang aku enggak bisa minum susu."
"Ya dipaksain dong Frey. Ini bukan buat kamu, tapi anak itu. Ngapain aku repot-repot maksa kamu kalau bukan karena calon penerus keluarga Abraham."
"Yang kalian pikirin cuma anak ini, kan? Kalian enggak pernah mikirin perasaan aku."
.
.
.
.
Setiap hari selalu seperti itu, Freya tidak pernah meminum susu hamilnya. Bukan hanya karena tidak suka susu, tapi saat susu itu masuk ke mulutnya, dia selalu muntah hingga menyebabkan perutnya merasa keram karena terlalu sering muntah. Berbagai macam rasa susu dari yang original sampai yang rasa buah-buahan, dari yang hangat sampai dikasih es batu, tetap saja susu itu ditolak oleh tubuhnya.
Jangankan susu, air putih saja dia muntah. Dari yang air putih biasa, hangat, hingga dingin. Namun tetap saja satu keluarga itu memaksanya minum susu, membuat Freya semakin benci karena keegoisan mereka.
Apa mereka tidak tahu bagaimana rasanya harus menahan sakit saat isi perut kita harus selalu dikeluarkan hingga habis?
"Jangan pernah muncul di hadapanku, aku mual melihat dan mendengar suara kalian."
Bukannya mengada-ada, Freya juga selalu muntah tanpa mengenal tempat jika sudah melihat Arby dan keluarganya, juga keluarga Freya. Mungkin anak dalam kandungannya juga sudah membenci mereka, karena merekalah sumber dari semua masalah yang dihadapi oleh Freya.
Selama tiga hari ini Freya selalu di rumah. Dia bosan dan ingin ke sekolah. Setidaknya di sekolah dia tidak selalu mendengar petuah sok bijak dari mertuanya itu.
"Freya jangan ini, ya."
"Freya jangan itu, ya."
"Freya harus ini, ya."
"Freya harus itu, ya."
"Freya begini, Freya begitu ...."
Semakin membuatnya pusing dan sakit kepala.
Tapi apa daya, jangankan pergi ke sekolah, berdiri beberepa detik saja matanya sudah berkunang-kunang dan mau pingsan.
"Kandungannya lemah, kalau seperti ini terus, dia bisa keguguran," ucap dokter di ruang tamu setelah selesai memeriksa keadaan Freya.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan?"
"Membuat hatinya senang, jangan menambah beban pikirannya, makan dan minum yang sehat ...."
Dokter terus memberikan arahan kepada satu keluarga itu.
Membuat hatinya senang ....
Memiliki makna yang berbeda bagi Freya dan keluarga Arby juga keluarga sendiri. Mereka setiap hari setiap saat terus saja memberikannya makanan yang sehat namun tidakndapat diterima oleh tubuh Freya.
"Kamu coba minum ini, Ya."
Nania memberikan air jeruk nipis dengan sedikit gula ditambah es batu yang banyak untuk Freya. Freya meminum itu sedikit-sedikit. Terasa segar dan sepertinya perutnya bisa menerima itu.
"Enak."
"Kok bisa sih kamu enggak bisa minum air putih?"
"Enggak tahu."
"Coba kamu makan ini."
Aruna memberikan rujak kepada Freya. Mangga dan kedondong asam juga potongan buah lainnya itu terasa segar di mulut Freya.
"Apa yang kalian berikan pada Freya?" tanya Arby.
"Es jeruk nipis sama rujak."
Arby langsung mengambil rujak dan minuman itu.
"Ini asam dan pedas, Freya enggak boleh mengkonsumsi ini. Perutnya bisa sakit."
Arby langsung membuang semuanya.
"Apa-apaan, sih. Kenapa dibuang?" Freya marah-marah saat makanan dan minuman yang dibawa oleh sahabatnya itu dibuang begitu saja oleh makhluk yang paling dia benci itu.
"Kamu enggak boleh makan dan minum sembarangan."
"Sembarangan dari mana? Minuman dan rujak itu kami buat sendiri, bukan beli."
"Tapi sudah berapa hari ini Freya gak makan apa-apa, kalau anak dalam perutnya kenapa-kenapa gimana?"
"Jangan anak itu dulu yang dipikirin, tapi kondisi ibunya yang mengandung yang harus lebih dulu dipikirin, yang pentingkan kan Freya bida makan dan minum dikit-dikit."
"Halah, tahu apa sih kalian, memangnya sudah pernah ngalamin?"
Lagi-lagi perbedaan pendapat terjadi. Freya sudah jengah dengan mereka yang hanya peduli dengan anak yang ada dalam perutnya itu.
keesokan harinya, Nania dan Aruna kembali datang, kini bersama Mico.
"Makan ya, Ya. Ini aku masak sendiri," kata Mico sambil membuka kotak makan.
Di dalamnya ada campuran salad buah dan sayur, juga beberapa kotak makan lain yang belum dibuka.
"Kamu bisa masak, Mic?"
"Bisa lah."
"Wah, ini sih calon suami idaman."
Arby mendengkus mendengar perkataan Nania, begitu juga dengan Marcell. Marcell, Vian dan Ikmal pergi ke rumah Arby saat mendengar kalau Nania mengajak Mico ke sana.
Mico membuka kotak bekal yang lain, isinya ada roti tawar (ada juga yang dibakar) dengan berbagai rasa dan isi.
Mico menyuapi Freya yang membuat Arby semakin kesal.
"Apa-apa sih, lo. Itu kan sayuran mentah."
"Lo diam aja deh, enggak usah bawel. Ini juga semuanya pakai pupuk organik dan tidak ada bahan kimianya sedikit pun."
Freya memakan makanan yang disuapi oleh Mico.
"Kamu mau roti yang mana?"
Freya menatap roti itu, lalu menunjuk roti selai kacang.
"Aku juga mau, ya."
Nania dan Aruna ikut menikmati semua makanan yang dibawa oleh Mico, yang isinya memang banyak."
Arby kembali ingin membuang makanan itu, namun langsung dicegah oleh Ikmal.
"Jangan egois, Ar. Yang penting Freya bisa makan dan sehat, kamu enggak kasihan apa sama anak kamu?"
Arby mendengkus, matanya mendelik tajam menatap piknik dadakan yang terjadi di kamar Freya itu.
"Kalau mau cepat-cepat sekolah, kamu harus makan, Frey."
Sayang Freya nikah sama Arby, kalau belum pasti aku jodohin Freya sama Mico.
Nania menatap sinis empat sekawan yang saat ini menonton mereka. Dia tersenyum mengejek kepada Arby sambil menurunkan jempolnya, membuat Arby mengumpat kesal.