Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
41 Say Goodbye


Akhir-akhir ini Freya susah untuk tidur, dan saat itu dia menghabiskan waktunya untuk membaca buku, seperti malam ini. Sudah jam dua malam dia masih membaca buku kedokteran.


Mico tak pernah lagi datang ke sekolah, pria itu menghilang bak ditelan bumi. Freya berdecak kesal, jujur saja dia merasa kehilangan. Lebih tepatnya kehilangan teman seperjuangan dalam kenakalan remaja.


Freya memutar lagu, mencoba mengalihkan perhatiannya. Terkadang dia merasa jenuh saat selalu mengalihkan perhantiannya kepada buku-buku, yang sudah dia hafal isinya.


Otak cerdas tak selalu membuatnya bahagia. Entahlah, dia juga bingung.


Secara perlahan matanya mulai terpejam, membawanya ke alam mimpi.


Arby membuka pintu kamar Freya. Dilihatnya tubuh Freya yang tertidur di kursi meja belajar. Arby menggendong Freya dan membaringkannya di atas kasur. Tangannya tergerak untuk mengusap perut rata itu.


Freya bergerak gelisah dalam tidurnya. Seperti biasa, setiap malam dia akan bermimpi buruk, mimpi yang sama. Mimpi dimana dia memukul, menusuk, mencekek, bahkan tindak kekerasan lainnya.


Arby mengelap peluh di kening perempuan itu. Ya, setiap kali dia menyelinap ke kamar Freya, dia selalu melihat kegelisahan dalam tidur Freya sambil bergumam tak jelas. Hal itu jugalah yang membuat Freya sulit, bahkan takut untuk tidur.


Jam dua malam, sama seperti biasanya, Freya terbangun. Kali ini bukan karena haus atau lapar. Dia merasa sakit yang sangat kuat di perutnya. Dia mencoba bangun, namun merasakan sesuatu yang berat di perutnya. Dia melihat Arby yang tidur di sampingnya, ingin marah dan berteriak, namun rasa sakit itu lebih mendominasi.


"Auw ... sakit."


Freya merasa perutnya diremas, diulek, atau apalah dia sendiri bingung untuk menjabarkannya.


Dia mencoba untuk membangunkan Arby, namun pria itu memeluknya lebih erat dan mengusap pelan perutnya. Mendapat usapan dari Arby, matanya kembali terpejam.


Jam lima, Arby terbangun dari tidurnya. Dilihatnya wajah Freya yang sedikit pucat disertai keringat dingin. Tangannya kembali mengusap perut dan kepala Freya dengan pelan, agar tidak mengusik tidur perempuan itu. Setelah melihat Freya lebih tenang, Arby keluar kamar. Tidak lama kemudian Freya bangun namun tidak melihat siapapun di kamar itu. Mungkin mimpi, pikirnya.


Freya merass keram di perutnya, tidak hanya itu, bahkan kakinya ikut gemetaran, membuatnya tidak bisa bangun dari tempat tidur.


.


.


.


Sementara Arby di sekolah, Freya masih terbaring lemah. Dia menggigit bibirnya dan meremas seprai hingga kusut.


Hari ini Arby tidak konsentrasi, diajak bicara dengan Nuna pun dia tidak fokus.


"Ar ... Ar!"


"Eh, apaan Nun?"


"Ck, gimana sih, diajak ngomong dari tadi malah diam saja."


Arby diam saja, karena memang pikirannya sedang tidak fokus. Nania mendekati mereka berdua.


"Cih, istri di rumah lagi hamil, tapi lo malah sibuk pacaran. Awas, kena azab baru tahu rasa!"


🍁🍁🍁


Asisten rumah tangga melaporkan bahwa seharian ini Freya tidak keluar kamar, saat dilihat, perempuan itu sedang tidur meringkuk.


Freya merintih dalam tidurnya, perutnya kembali sakit. Dia membuka matanya, dilihatnya Arby yang tidur di sampingnya. Perempuan itu mengguncang badan Arby.


"By ... By ...."


"Aw ... sakit. By ... bangun!"


Freya mulai terisak kesakitan, tangannya mencubit tangan Arby. Arby terbangun dari tidurnya, bukan karena cubitan yang pelan itu, tapi karena tangisan Freya.


"Sakit!"


"Frey, kamu kenapa?"


"Perutku, sa ... sakit."


Freya mencengkram tangan Arby. Arby merasakan ada yang basah di kasur Freya. Ngompol mungkin, pikirnya. Dia lalu menyalakan lampi dengan remote, seketika kamar itu menjadi terang. Dilihatnya darah sudah merembes di kasur itu.


Arby langsung menggendong Freya. Wajahnya ikut pucat seketika.


"Pi, Mi. Bangun!"


Arby menggedor-gedor kamar orang tuanya dengan kaki, karena menggendong Freya. Untungnya tidak membutuhkan waktu lama, kedua orang tuanya membuka pintu dengan wajah mengantuk.


"Mi, Pi, Freya berdarah."


Elya dan Arlan langsung melihat darah yang menetes dari Freya. Wajah gadis itu sudah sangat pucat dengan bibir yang gemetaran.


"Ayo ke rumah sakit!"


Arlan menyalakan mobil, di sampingnya duduk Elya, sedangkan Arby memangku Freya.


"Sakit!"


"Tahan, ya."


Arby memeluk dan mengecup Freya, tanpa disadari oleh keduanya. Pemuda itu bisa merasakan darah yang meresap di baju dan celananya. Perlahan, cengkraman tangan Freya yang tadi dirasakannya mengendor dan akhirny terlepas.


"Frey, Frey, bangun!"


Arby merengkuh tubuh Freya dalam pelukannya, jantungnya berdetak sangat kencang. Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi otaknya.


Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit. Seperti dejavu, peristiwa saat itu seperti terulang kembali. Langit yang masih gelap dan udara yang dingin menambah suasana yang tak nyaman untuk keadaan ini.


Cukup lama mereka menunggu di luar UGD. Akhirnya dokter keluar dengan raut wajah yang bisa langsung mereka tebak, namun takningin mempercayainya sebelum dokter sendiri yang mengatakannya.


"Maaf, kandungannya tidak dapat diselamatkan."


Arby terduduk di lantai, dia tidak bisa lagi memikirkan apapun.


"Kalian bisa melihatnya setelah dipindahkan ke ruang perawatan, namun dia membutuhkan penanganan karena rahimnya yang lemah dan keguguran di usia muda, untung saja nyawanya masih bisa diselamatkan. Kalian masih beruntung."


Tidak ada yang menyahut. Mereka ingat bahwa dokter sudah berkali-kali mengatakan bahwa Freya kemungkinan besar akan keguguran, karena berbagai macam faktor, dan kini semuanya terjadi.


"Ar, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Aku juga enggak tahu, Mi. Tadi aku lagi tidur, terus tiba-tiba Freya bangunin aku, katanya perutnya sakit. Aku nyalain lampu dan lihat banyak darah di kasur."


"Kamu tidur sama Freya?"


"Iya, aku ketiduran di situ."


Arlan fan Elya menghela nafas, apa mungkin Freya kesal karena Arby tidur bersamanya?


Pagi-pagi sekali keluarga Freya dan sahabat Freya juga Arby tiba di rumah sakit.


"Apa gue bilang? Kena azab kan, lo. Istri lagi hamil lo malah selingkuh sama sahabatnya," ucap Nania dengan lantang.


"Apa?"


"Arby, kamu selingkuh?"


"Enggak, aku sama dia enggak ada hubungan apa-apa."


"Halah, mana ada sih penjahat mau ngaku."


Hingga siang mereka semua masih berkumpul di kamar rawat Freya. Malam harinya Freya baru sadar.


"Kamu sudah sadar?"


Freya mengingat-ngingat apa yang terjadi. Tangannya memegang perutnya, mencoba menarik kesimpulan sendiri di saat semua orang masih bungkam tentang kondisinya saat ini.


"Jangan banyak pikiran, ya."


Nania dan Aruna memeluk Freya bergantian.


"Sabar ya Freya, kamu keguguran. Tapi enggak apa, nanti kalau sudah waktunya juga kamu bisa punya anak lagi, tapi suami yang beda."


Banyak yang harus menahan sabar mendengar perkataan Nania. Bukannya menenangkan malah jadi kompor.


"Kamu jangan mempengaruhi Freya, dong," ucap Ami.


"Coba aja tante semua yang ada di posisi Freya gimana? Dipaksa nikah di usia dini, diper**sa, hamil muda, keguguran. Mending nikahnya sama orang yang dicintai, mending suaminya setia dan enggak selingkuh."


Nania berbicara dengan menggebu-gebu. Aruna, Marcell, Vian dan Ikmal diam saja. Sebagai sesama remaja, mereka sangat paham apa yang dikatakan Nania. Mereka saja suka sebel dengan tugas sekolah, peraturan orang tua, tuntutan untuk mendapat nilai yang bagus, dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Freya yang harus menanggung beban lebih banyak, padahal dialah yang usianya paling muda diantara Nania, Aruna, Nuna, Arby, Marcell, Vian dan Ikmal.