Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 52 Takut


Deo mulai panik, lalu menghubungi yang lain untuk menanyakan Yuri. Tidak ada yang tahu di mana Yuri. Hari mulai gelap, udara yang semakin dingin disertai sayup-sayup suara petir di kejauhan, membuat Deo semakin panik.


Dia lalu menghubungi Gara dan Qavi lagi, meminta tolong agar mereka ikut mencari keberadaan Yuri. Deo juga langsung menghubungi keluarga mereka. Keluarga langsung menyuruh para orang suruhan mereka untuk mencari Yuri.


Hujan mulai turun, disertai guntur dan kilat. Deo merasa sangat cemas, tidak tahu di mana Yuri berada.


Di lain tempat, Yuri sedang menangis ketakutan.


"Deo, papi, mami, mommy, daddy, eyang, grandma, grandpa." Yuri berteriak histeris meski suaranya sudah sangat serak.


"Chia, Airu, Qavi, Gara ...!"


Teman-teman sekelasnya juga dia panggil semua. Dengan sisa tenaganya, dia menggedor-gedor pintu. Ruangan itu sangat gelap dan sempit. Yuri merasa kehabisan nafas. Tubuhnya yang tadinya basah kuyup, kini sudah kering disertai bau busuk. Belum lagi para tikus yang sejak tadi mencicit dan bergerak-gerak menggerayangi kakinya.


Polisi sudah dihubungi, meski belum dua puluh empat jam, tapi mereka langsung bergegas untuk mencari Yuri, karena tentu saja kedua keluarga itu punya rekan di sana.


Para murid di sekolah itu juga sudah tahu kabar tentang menghilangnya Yuri. Dari ponsel Yuri yang dilacak, gadis itu terakhir berada di pinggiran kota.


Para pria ikut mencari, meski mereka tidak satu kelas dengan Yuri, tapi mereka ingin ikut membantu. Walau bagaimana pun juga, Yuri adalah mantan ketua OSIS mereka yang galak, tapi berhati baik.


Maminya Yuri sudah menangis. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan anaknya itu. Yuri bukan tipe anak yang akan kabur begitu saja. Dulu waktu mau dinikahkan dengan Deo, memang dia kabur, tapi itu kan masih bisa dilacak.


Sedangkan sekarang, mereka kehilangan jejak sama sekali.


Sebagian polisi lalu datang ke sekolah, memeriksa CCTV yang ada di sana. Terlihat kalau Yuri berjalan ke toilet, lalu pergi.


Malam semakin larut, belum ada kabar juga dari Yuri. Deo sangat ketakutan, kalau ada apa-apa dengan Yuri bagaimana?


"Kalau Yuri kenapa-kenapa, gimana? Baru saja kami kehilangan calon anak kami, sekarang Yuri menghilang. Maafkan Deo, yang belum bisa menjaga Yuri dengan baik."


Orang tua Deo dan mertuanya mengusap punggung Deo dengan lembut, sama sekali tidak menyalahkan pria muda itu.


"Apa ini perbuatan saingan bisnis kita?" tanya maminya Yuri. Kalau saingan bisnis keluarga Deo, rasanya tidak mungkin. Tidak ada yang tahu pernikahan mereka selain keluarga, ditambah orang-orang tentu yang bisa dipercaya.


Hujan semakin deras, disertai angin kencang. Deo mengusap air matanya. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Dia baru saja kehilangan calon anak, kenapa sekarang Yuri menghilang? Bagaimana kalau hal terburuk terjadi pada Yuri?


Di sana, Yuri sudah berhenti berteriak. Tubuhnya menggigil kedinginan. Dia benar-benar ketakutan. Dia meringkuk, ditemani tikus-tikus. Yuri menggigit bibirnya kencang-kencang sampai berdarah, perutnya terasa sangat sakit. Bayang-bayang yang menakutkan hadir dalam pikirannya. Dia mulai mencakar-cakar tangannya sendiri, dengan air mata yang terus mengalir.