Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
43 Tidak Kompak


Sudah dua hari ini salah satu teman sekelas mereka tidak masuk sekolah. Dia adalah Roni.


"Roni ke mana, sih? Kok enggak ada kabar?" tanya Yuri.


"Kayaknya dia di rumah sakit," ucap salah satu teman.


"Roni sakit?"


"Bukan. Kemarin aku enggak sengaja melihat Roni di rumah sakit. Bapaknya masuk rumah sakit. Terus dia harus jualan menggantikan bapaknya, dan bergantian menjaga bapaknya, karena ibunya harus menjaga adik-adiknya yang masih kecil di rumah."


Yuri menunduk, dia termasuk gadis yang perasa. Memang tidak semua yang sekolah di sini kaum elite, kan.


Yuri lalu mengambil uang dari dompet Deo, dan dimasukkannya ke dalam paper bag. Dia juga memasukkan uangnya sendiri ke dalam kantong itu.


"Ayo kita patungan buat Roni. Seikhlas kalian saja, berapa saja boleh."


Deo tersenyum, tidak salah memang dia memilih istri?


Memilih istri?


Kamu kan dijodohkan, Deo!


Yang lain ikut menyumbang. Ada beberapa murid yang malu-malu, karena mereka tidak bisa memberikan sebanyak yang lain. Ada yang memberi lima puluh ribu, seratus ribu, dua puluh ribu.


Bagus memberikan dua ribu.


"Maaf, ya, aku hanya bisa kasih segini."


"Enggak apa. Tapi kamu nanti punya uang jajan, enggak?" tanya Yuri pelan, tidak enak kalau didengar oleh yang lain.


Gitu-gitu juga Yuri masih tahu etika, masih memikirkan hal-hal yang sensitif bagi orang lain.


"Ada."


"Benar, ada?"


"Iya."


"Kamu punya ongkos pulang?"


"Punya, Yuri."


"Ya sudah. Ini aku terima ya, makasih loh sudah mau kompak. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja padaku atau Deo."


Yuri terus mengitari mereka, dan mengumpulkan uang itu. Tiba giliran Emily.


Bilang saja nggak mau patungan! Batin beberapa murid.


Yuri segera menghitung uang itu. Jumlahnya ada sembilan ratus dua puluh tujuh ribu. Yuri kembali mengambil uang Deo.


"Lo lempengin ya Deo, biar genap satu juta."


"Yuri, lo enggak boleh kaya gitu, dong. Tadi kan kamu sudah ambil banyak dari dompet Deo. Lo kok enggak ada sopan-sopannya jadi perempuan, main ambil uang orang aja. Kaya pencuri tahu, enggak!" ucap Emily.


"Sembarangan saja kalau ngomong! Kalau gue mau nyuri, enggak di hadapan Deo, kali!"


"Eh, emi, kenapa lo yang sewot? Gue aja enggak apa kok Yuri pakai uang gue. Kalau perlu uang gue buat dia semua."


"Kenapa kamu membela dia? Aku kan enggak mau kamu dimanfaatin, Deo."


"Enggak usah ikut campur, lo enggak tahu apa-apa!"


"Tahu nih cewek. Kerja kelompok ribet, patungan enggak mau. Enggak bisa diajak kerja sama, nih," ucap Rizky.


"Iya, mendingan pindah saja sana ke kelas lain."


"Tahu, kelas kita mah harus kompak. Masih bagus Yuri punya inisiatif patungan buat nolong teman. Kamu boro-boro mau nolongin, diajak kompak saja enggak bisa!"


Emily diam tidak berkutik, saat teman-teman satu kelasnya memojokkan dia. Emily jadi tidak menyukai Yuri.


Kenapa mereka semua membela Yuri? Padahal Yuri selalu bersikap seenaknya, sok, dan suka memerintah.


Yuri cantik?


Dia juga cantik


Yuri kaya?


Dia juga kaya


Emily langsung keluar dari kelasnya dan menyenggol Yuri, hingga Yuri terjerambab dan membentur meja.


"Yuri, lo enggak apa?" tanya Chia.


"Aduh, kening aku nyut-nyutan."


Mereka meringis melihat kening Yuri yang benjol.