Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
26 Aset Keluarga


Sekali lagi Freya izin ke ruang UKS, meninggalkan kelas, bukannya ke UKS, gadis itu malah menuju halaman belakang.


Saat itu Arby, Marcell, Ikmal dan Vian yang sedang istirahat setelah bermain basket bersama teman-teman sekelasnya melihat Freya yang berjalan sendirian ke belakang sekolah. Mereka lalu membuntuti gadis itu diam-diam.


"Freya mau ngapain ke halaman belakang?" tanya Marcell.


"Sst, jangan berisik, nanti dia dengar."


Freya melihat tembok yang berdiri kokoh di hadapannya. Di balik tembok ini adalah gang sempit. Di sisi sebelah kanan gang ini adalah jalan buntu, jadi bisa dipastikan tidak ada yang melewati gang ini. Sedangkan sisi lainnya adalah jalan yang langsung menghadap taman yang berbatasn dengan universitas.


Freya mulai memasang ancang-ancang.


Hup!


Dia meloncat, tangannya memegang tali yang sudah dia siapkan, tidak terlalu panjang jadi jika ada yang ke sana, tali itu tidak curigai. Freya mencoba menarik tali itu, kemudian tali tersebut menjadi lebih panjang. Dia menarik badannya ke atas, lututnya sedikit lecet karena tebentur tembok. Tangannya mencoba meraih bagian atas pagar tembok.


"Itu si Freya mau bolos? Gila!"


Mereka berempat tak habis pikir, sejak kapan Freya seperti ini. Dilihat dari gayanya, sepertinya gadis itu sudah cukup sering melakukannya walaupun belum mahir banget.


Freya menaikkan salah satu kakinya untuk mencapai atas tembok. Paha mulusnya tentu saja terekspose. Sebelah kakinya sudah mencapai batas tembok, dia lalu kembali mendorong tubuhnya ke atas, kemudian duduk di atas pagar tembok itu.


Hup


Freya langsung loncat, menghilang di balik tembok.


"Aisss ... bikin kaget saja. Freya?"


"Mico?"


"Dih, bolos!"


"Situ ngaca? Kamu juga bolos, kok."


"Misi, aku mau balik ke sekolah."


"Kamu dulu yang minggir, aku mau lewat."


Terdengar langkah-langkah yang mendekat dari balik tembok. Freya langsung mendorong Mico untuk berlari. Mereka lari dengan terburu-buru.


Di balik tembok itu, keempat pemuda itu juga melakukan hal yang sama. Bedanya, mereka lebih mudah memanjat meskipun tembok itu cukup tinggi.


Satu persatu mereka melompat.


"Ke mana Freya?"


"Buruan kejar."


Tanpa ada yang menyadari, bahwa Freya sudah membuat keempat pria itu ikut membolos.


Freya dan Mico menuju warung kecil yang ada di seberang sekolah. Mereka terlihat santai sambil menikmati minuman dingin untuk menghilangkan rasa lelah karena berlari.


"Gara-gara kamu nih, aku jadi bolos," protes Mico.


Freya menoyor kepala Mico.


"Sono, balik ke sekolah."


"Enggak ah, udah enak bolos, juga."


Freya mencibir, kemudian memesan siomay dua porsi, tapi untuk dirinya sendiri.


"Aku mau latihan band aja, ah. Mau ikut, enggak?"


Freya mengangguk. Setelah menghabiskan siomaynya dan teh botol tiga botol.


Di sisi lain, tidak jauh dari tempat itu.


"Kemana si Freya?"


Mereka celingak-celinguk mencari keberadaan Freya.


Mereka berempat memesan mie ayam pangsit dan minuman soda.


"Hubungan kamu sama Freya sekarang gimana, Ar?"


"Ya enggak gimana-gimana."


"Kamu pernah nafkahin dia lahir batin enggak, sih."


Nafkah lahir batin


Perkataan yang diucapkan oleh pria berseragam sekolah dengan suara standar itu tentu saja membuat mereka menjadi perhatian orang-orang sekitar.


"Maksudnya kucing, om, tante."


Arby mendengkus, jika Freya dibilang kucing, lantas dia apa?


"Ternyata gini ya, rasanya kabur saat jam pelajaran, manjat tembok, lagi."


Sekali lagi, perkataan tanpa filter dan suara lantang itu membuat mereka menjadi perhatian.


Ikmal menoyor kepala Vian.


Apa jadinya jika orang-orang tahu bahwa empat anggota osis itu malah melakukan pelanggaran. Sudah cukup mereka menjadi pusat perhatian dengan penampilan mereka yang berantakan akibat aksi brutal Freya dan Nuna beberapa waktu yang lalu, ditambah Arby yang diskors selama tiga hari, sekarang malah bolos berjamaah.


"Ngomong-ngomong, gimana sama pertanyaan aku tadi, Ar?"


"ATM sama kartu kredit yang aku kasih enggak pernah dipakai."


"Terus selama ini dia jajan pakai uang dari mana?"


Pikiran Arby menerawang, dia sudah memastikan kalau Freya tidak berjualan kue lagi. Orang tuanya juga sudah tidak pernah mengirim uang ke rekening Freya. Lalu, dari mana Freya dapat uang?


"Mungkin dari uang hasil jual cincin."


"Bisa juga uang dari mas kawin."


Kali ini mereka bicara dengan suara pelan, tidak ingin lagi menjadi pusat perhatian.


Sementara mereka berempat sibuk membahas masalah pernikahan yang sebenarnya cukup aneh dibicarakan oleh murid SMA, Freya dan Mico kini sudah ada di studio musik pribadi milik Mico.


Freya memainkan asal alat-alat musik yang ada di sana. Dia tidak seperti Vanya adiknya, yang memang pintar memainkan berbagai macam alat musik, tapi suara Freya terbilang bagus, bahkan dia bisa saja menjadi penyanyi jika dia mau, sayangnya Freya tidak merasa tertarik menjadi seorang penyanyi.


Bagi Freya, menyanyi hanya untuk menghibur dirinya sendiri, bahkan tidak ada yang tahu bahwa Freya memiliki suara yang indah, termasuk para sahabatnya, apalagi keluarganya yang tidak perhatian itu.


Darah seni berasal dari neneknya, lebih tepatnya nenek dari pihak ibu. Neneknya merupakan model dan penyanyi. Bahkan neneknya juga beberapa kali membintangi sebuah film. Sedangkan saudara kandung neneknya merupakan sutradara dan produser. Kakak laki-laki ibunya juga pemain film laga. Jadi tidak heran kalau kakaknya menyukai dunia model sedangkan adiknya menyukai musik, hanya Freya saja yang berbeda.


Dia lebih dominan mewarisi kemampuan kakeknya. Lebih tepatnya kakek dari pihak papanya.


Kakeknya seorang pengusaha terkenal yang mewarisi banyak aset. Papanya juga mendirikan perusahaan sendiri.


Ibu dari papanya seorang dokter.


Lalu Ayah dari mamanya juga seorang pengusaha, namun masih berhubungan dengan seni. Sedangkan mamanya seorang design terkenal yang memiliki banyak butik.


Jika semua digabungin, entah berapa banyak aset keluarga mereka, itu sudah dibagi-dibagi untuk omnya (dari pihak ibu) sedangkan papanya adalah anak tunggal.


Itulah yang menyebabkan Freya sakit hati saat orang tuanya memaksanya menikah untuk kepentingan bisnis.


Apa harta mereka masih kurang?


Bahkan jika aset itu dibagi untuk dia dan kakak adiknya, nilainya masih tetap fantastis. Anggap saja kakaknya mewarisi warisan dari nenek dari pihak mamanya berupa bisnis agency model (belum termasuk yang lain), lalu adiknya mewarisi warisan dari kakeknya dari pihak mama berupa perusahaan label musik yang melahirkan penyanyi-penyanyi terkenal (belum termasuk yang lain), lalu dia mewarisi aset kakek dari pihak papa yang salah satunya juga bisnis properti (belum termasuk yang lain), lalu apa kabarnya warisan dari nenek pihak papa, perusahaan papanya, juga bisnis mamanya?


Bisa gila orang membayangkannya.


Sakit hati, itu yang dia rasakan. Seperti dijual untuk menambah kekayaan. Ngomong-ngomong, keluarga Arby pun tak kalah kayanya. Siapa yang lebih kaya, Freya tak peduli. Bahkan Freya juga tidak peduli bisnis apa saja yang keluarga itu lakukan. Karena bagi Freya yang terpenting adalah mewujudkan impiannya. Kuliah di luar negeri dan membuka perusahaan sendiri, bahkan menjadi dokter terbaik.


Gen dari pihak papanya memang mengalir deras dalam darahnya, namun sayangnya, papanya tidak pernah peduli dengan dirinya.