
WARNING! 21+
MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN DAN KATA-KATA KASAR.
HARAP BIJAK!
YANG TIDAK BERKENAN BISA SKIP!
.
.
.
.
Dengan nafas tercekat disertai keringat dingin, Arby membuka pakaian Freya. Kulit mulus itu terasa sangat halus di tangan Arby. Arby melihat tubuh Freya yang hanya memakai pakaian dalam saja.
Sebagai gadis berumur enam belas tahun, bentuk tubuh Freya sangat sempurna, apalagi nanti di usia matang. Arby menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikiran liar mulai bertamu di otaknya, tapi memangnya ada pria yang tidak akan berpikiran seperti itu, jika disajikan pemandangan seperti ini di hadapannya?
Tangan Arby dengan nakalnya mengelus kulit Freya. Tiba-tiba saja dia mengecup bibir Freya.
Cup
Kecupan singkat yang tidak memuaskan.
Cup
Masih belum puas
Cup
Kecupan itu menjadi lu*atan. Tangan Arby sibuk menjelajah ke mana-mana. Bahkan dia me*emas dua gu*dukan empuk dan lembut itu.
Bibir itu kini mengecup seluruh area wajah Freya dengan pelan, tidak ingin membuat Freya terbangun, atau perang dunia ketiga akan terjadi.
Lalu bibir itu turun ke bagian leher, menjelajah di sana sepuas mungkin, lalu turun lagi ke bagian da*a. Selanjutnya turun ke perut.
Freya mendesah pelan dengan gerakan yang bagi Arby justru terlihat sen*ual.
Sekali lagi Arby melakukan aksinya. Bagian bawahnya semakin terasa tak nyaman. Dia sangat yakin bahwa tangan dan bibirnya sudah menyentuh semua bagian depan tubuh Freya, dari atas sampai bawah, meskipun tak menimbulkan bekas.
Pandangannya menggelap disertai deru nafas yang memburu. Meskipin belum puas, Arby terpaksa memakaikan baju untuk Freya.
Setelah baju itu terpakai dengan sempurna, Arby kembali mengecup bibir merah yang lembut itu. Kembali Freya terlihat gelisah. Pria itu lalu buru-buru ke kamar mandi.
Anjir, gak tahan gue.
Freya membuka matanya sedikit.
Cuma mimpi ....
Gadis itu kembali memejamkan matanya, merasa sedikit aneh dengan mimpi yang belum pernah dia alami.
🍁🍁🍁
Freya terbangun sore harinya, dengan tubuh sedikit pegal dan wajah yang sakit. Dia melihat bahwa sekarang dia sudah ada di dalam kamar Arby.
Dia mengingat-ngingat apa yang sebenarnya terjadi. Ya, akhirnya dia ingat tentang perkelahian Mico dengan Arby. Gadis itu mendengkus, merasa kesal dengan perbuatan Arby pada Mico tadi pagi.
Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Arby yang terlihat segar meski wajanya penuh dengan lebam.
Tatapan mata mereka bertemu. Freya mencibir pada Arby.
"Gimana keadaan kamu?"
"Cih, enggak usah sok peduli. Dasar munafik!"
Arby menghela nafas, tidak ingin menyahuti perkataan Freya karena sudah lelah untuk bertengkar.
Freya mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
"Hai Coco, gimana keadaan kamu?"
Coco? Jadi dia menelpon si bre*gsek itu?
Sebelum Freya mendengar jawaban Mico, Arby sudah mengambil alih ponsel tersebut dan membantingnya.
"Kamu apa-apaan, sih?"
"Jangan pernah kamu menghubungi kaki-laki lain!"
"Apa urusan kamu?"
"Aku ini suami kamu, dan kamu istri aku."
"Halah, itu hanya status. Lagian aku saja enggak pernah melarang kamu sama pacar kesayangan kamu itu."
"Mulai hari ini kamu ikuti paraturan dariku!"
"Aku enggak mau."
"Terus mau kamu apa?"
"Aku mau kita pisah. Aku enggak suka sama kamu, aku enggak pernah bahagia sama kamu."
"Enak saja kamu bilang cerai. Dengar ya Frey, aku nikahin kamu itu enggak gratisan!"
Sakit, itulah yang Freya rasakan mendengar perkataan Arby. Dia tahu dirinya hanya dijadikan alat untuk menopang perusahaan, tapi haruskah Arby mengatakan itu padanya.
"Kamu juga tahu kan seberapa banyak mahar yang aku kasih di pernikahan itu?"
Harga diri Freya seperti diinjak-injak.
"Aku enggak pernah minta semua itu."
"Kalau kamu mau kita pisah, kamu harus melunasi semuanya!"
"Oke, ambil saja kembali semua mahar itu, aku enggak butuh. Bahkan aku akan mengembalikan semua uang hasil jual cincin-cincin itu."
"Terus kamu mau apa?"
"Tubuhmu!"
Deg
"Lunasi dengan tubuhmu!"
"Jangan gila, Arby! Lagi pula kamu sudah ada Nuna, jangan serakah!"
Freya langsung menendang Arby, namun pria itu sudah lebih dulu menghindar. Freya melihat wajah Arby yang diliputi amarah. Sadar bahwa kondisinya tidak memungkinkan untuk melawan Arby, gadis itu langsung menuju pintu, namun sekali lagi, pria itu masih lebih cepat. Dia mengunci pintu itu dan melempar kuncinya asal.
Pemuda itu langsung mendekati Freya, mengukung tubuh gadis itu. Freya mendorong tubuh Arby, namun justru badannya yang terbentur pintu dengan sangat kencang.
Kembali Arby mendekati Freya, me***at bibir gadis itu. Freya memukul dada Arby, namun tentu saja itu sia-sia. Arby baru melepaskan tautannya untuk mengambil oksigen. Hal itu dimanfaatkan Freya untuk menggigit dada Arby.
"Arrggghh!"
Pelukan Arby terlepas.
Plak
Plak
Tanpa segan-segan Freya menampar Arby.
"Dasar bre**sek, mati saja kamu!"
"Kalau aku mati, kamu jadi janda, Frey."
"Baguslah, memang itu yang aku harapkan. Jadi aku bisa terbebas dari kamu dan mencari cowok lain yang lebih baik dari kamu."
Perkataan Freya itu kembali menyulut emosi Arby.
"Siapa? Mico?"
"Iya, setidaknya dia jauh lebih baik dari kamu. Dia bukan cowok pemaksa seperti kamu. Hanya dia yang bisa mengerti aku."
Sret
Arby merobok baju tidur milik Freya, membuat bagian d*danya kini terpampang jelas.
Gadis itu langsung menginjak kaki Arby, tentu saja dia tidak akan menyerah begitu saja. Terjadi aksi tarik dan mendorong.
Arby mencengkran erat tangan Freya hingga menimbulkan bekas. Mengarahkan wajah gadis itu ke hadapannya. Freya mendorong dan membalikkan badannya.
Brug
Freya terjatuh, keningnya membentur ujung meja hingga mengeluarkan darah segar, namun tidak ada rasa iba dari pria itu.
"Aarrrgg ... lepas!"
Arby membanting tubuh Freya ke atas kasur, lalu kembali mel***t bibir gadis itu, meskipun ada darah yang mengalir di pipinya.
Freya meronta, ingin mencakar, memukul, dan menjambak. Namun apa daya, tangannya ditahan oleh Arby. Begitu juga dengan kakinya, tertahan oleh tubuh Arby.
Tangan Arby kini mulai menelusuri tubuh Freya. Tangan Freya yang terbebas berusaha mendorong tubuh Arby, namun pria itu tidak bergeser sedikit pun. Saat bibir itu mulai menelusuri tubuh Freya yang dimulai dari leher, Freya lalu menjambak rambut Arby.
"Jangan!"
Mana mungkin Arby mendengar perkataan Freya. Pemuda yang sudah gelap mata karena ditutupi oleh emosi dan ***** itu mulai membuka pakaiannya.
"Mintalah pada Nuna, dia kan pacar kamu."
Memangnya Arby peduli dengan perkataan Freya? Tentu saja tidak!
Bibirnya kembali bersentuhan dengan tubuh Freya. Dia mere**snya dengan tidak sabaran.
Freya mencakar tubuh Arby, mencubit bahkan memukul. Bibir dan tangan Arby mulai menjelajah ke mana-mana.
"Kamu milikku, Frey," bisiknya di telinga Freya.
"Lepas, An**ng!"
"Jaga omongan kamu, Frey!"
Tangan Arby sibuk mengelus, m***mas, tidak peduli dengan rasa perih akibat cakaran dan cubitan Freya.
"Dasar bi****ng. B**i, M**yet, ba**ngan!"
Segala makian dan kata-kata kasar keluar dari mulut gadis yang masih berusaha mempertahankan dirinya itu.
Tubuh Freya sudah penuh dengan kissmark.
Gadis itu masih terus berteriak dan memaki-maki. Membuat Arby harus membekap mulut Freya dengan telapak tangannya. Bukannya takut terdengar hingga luar, karena kamar ini kedap suara, hanya saja dia tidak ingin gendang telinganya pecah akibat teriakan itu.
Tangan Arby terus m*****s d**a Freya kiri kanan.
Freya ingin menangis, tapi dia tidak sudi menangis karena pria seperti Arby.
Kedua tubuh itu penuh dengan tanda. Jika Freya penuh dengan kissmark, maka Arby penuh dengan cakaran hingga berdarah dan biru akibat cubitan Freya. Bahkan rambutnya rontok. Juga ada bekas gigitan.
Tidak ingin menunda lagi, Arby mulai mengarahkan miliknya ke milik Freya.
Tidak mudah, tentu saja.
Beberapa kali Arby berusaha memasukkannya. Tenaga Freya sudah mulai melemah, akibat punggungnya yang sakit terbentur pintu, keningnya yang berdenyut karena terbentur tembok. Apalagi kondisi sebelumnya mamang sudah tidak sehat, namun sekali lagi, gadis itu ingin tetap bertahan.
"Ja ... jangan!"
Lagi-lagi Arby menulikan diri dengan perkataan Freya.
Membutakan mata dengan penampilan Freya yang mengenaskan.
"Sudah aku bilang, kamu milikku."