Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
78 Awal Baru Menjadi Orang Tua


Mereka tiba di rumah sakit, di depan pintu loby, Freya berteriak histeris.


"Aaaa, sakit perut aku ... udah mau keluar ini. Gimana nih?"


"Toilet di mana, sih?" tanya Ikmal


"Ko toilet?"


"Kan sakit perut, mau keluar. Mau pub, kan?"


Nuna langsung menoyor Ikmal.


"Babynya yang mau keluar, bukan pub."


Perawat langsung mendorong brankar Freya. Dia masuk ke ruang bersalin didampingi oleh Arby.


"Mi, aku mules nih, gimana dong?"


"Ya udah, mami bantu doa."


Memangnya mau bantu apa lagi? Ngejan? Nyakar?


"Kamu bisa, Sayang," Ami memberikan dukungan pada putrinya.


Sementara Freya dan Arby di ruang bersalin. Nania, Aruna, Nuna, Ikmal, Vian dan Marcell duduk selonjoran di lantai sambil menikmati makanan dan minuman yang tadi dipesan oleh Freya.


"Tuh kan bener kata aku, piknik kita di sini."


"Makan Om, Tan."


Dua pasang suami istri itu menahan senyum melihat keenam remaja tersebut. Mereka jadi mengingat masa muda mereka.


Sate Madura dan Padang, tongseng, rawon, dan berbagai jenis makanan dan minuman sudah tersaji di koridor depan ruang bersalin.


Tongseng dan rawon itu dimasukkan ke dalam mangkok.


"Ini dapat peralatan makan dari mana, sih?"


"Tadi ambil di rumah, aku kan cepat tanggap."


Vian memuji dirinya sendiri.


"Jangan lupa simpanin buat Arby, kali aja dia nanti lapar habis lahiran."


"Yang lahiran itu Freya, bukan Arby."


"Tapi dari tadi dia ikut ngejan, tuh. Kali aja tenaganya ikut terkuras."


Sementara itu di dalam


Arby mengelus-ngelus perutnya yang mulas. Dia merasa kakinya lemas dan telapak kakinya keram.


"Ayo Frey, kamu bisa."


"Kalau saya kasih aba-aba, mengejan ya.”


Errrgghhh ... Freya yang mengejan.


Errrrrrrggggghhhh ... Arby mengejan lebih lama.


Errrrgggghhhhhhhhh ... Freya


Errrrrrrggggghhhhhhhhhhh ... Arby


Perawat setengah mati menahan tawa.


Ini lahiran woy, bukan parodi mengejan.


Dari arah samping, seorang perawat merekam proses persalinan tersebut atas permintaan keluarga. Bagaimana pun juga, ini adalah cucu pertama di kedua keluarga itu, jadi harus memiliki kenang-kenangan.


Mereka yang sibuk makan, langsung tersedak.


"Itu mengejan apa mendesah, sih?"


"Itu proses ngeluarin anak, apa bikin anak?"


"Sekali lagi ngomong, aku colok mata kalian pakai tusuk sate!"


Koridor itu memang sepi karena sudah diamankan oleh pihak keluarga, agar tidak ada orang luar yang tahu akan hal ini.


"Dah jangan pada bawel, doa dong moga lancar."


"Dari tadi juga dah doa."


"Doa apa?"


"Makan, lah."


"Bisa diam enggak, sih?"


"Arby ngejannya fals, amat."


"Seharusnya pakai suara tenor."


"Bass."


"Bariton"


Tanpa sepengetahuan ketiga pria itu, Aruna memasukkan banyak sambel ke tongseng mereka.


"Huuu."


"Huuu."


Rasain, kepedesan kan, tuh.


Di tempat Freya


"Ayo, dorong terus. Kepalanya sudah keluar."


Errrgggggghhh


Freya dan Arby akhirnya berkolaborasi, dan lahirlah baby mereka.


"Alhamdulillah, lega aku. Mulesnya hilang." Arby mengusap peluh di keningnya, lalu di kening Freya yang ditepis oleh Freya. Bukannya kenapa-kenapa, keringat Arby di telapak tangannya saja masih ada, malah diusap lagi ke kening Freya, kan meper itu namanya.


Dokter dan perawat terus saja menahan tawa akibat tingkah mommy daddy muda itu.


Seharusnya dulu aku nikah muda, pikir salah satu perawat yang masih lajang di usia 23 tahun.


Mungkin nikah muda enak untuk orang yang sudah siap lahir batin. Tapi kalau secara ekonomi pun belum siap, bisa-bisa tiap hari ada piring terbang. Sudah banyak orang yang berpisah karena masalah ekonomi, walaupun ada juga yang berpikir kalau rezeki itu akan datang dari Yang Maha Kuasa jadi jangan khawatir untuk menikah.


Tetap kembali ke masing-masing orang yang menilai, karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda.


Setelah dibersihkan dan diadzani, bayi tersebut langsung dibawa ke ruang inkubator, karena lahir prematur.


Freya juga sudah selesai dibersihkanndan dibawa ke ruang perawatan.


"Selamat ya, siapa nama baby kalian?"


"Namanya Kichiro Ercan Zanuar Abraham."


"Wah, bagus namanya, punya arti yang baik."


.


.


.


Sudah tiga hari Freya di rumah sakit, hari ini dia sudah boleh pulang tapi tanpa baby Chiro. ASI Freya tak berjalan lancar. Dia juga terlihat murung.


Selama di rumah tanpa kehadiran baby Chiro, Freya disibukkan dengan belajar, juga rutin memompa ASI untuk diberikan pada baby Chiro.


Berbagai makanan dan minuman yang bagus untuk memperbanyak ASI diberikan pada Freya.


"Mau ngapain? Keluar sana!"


Freya langsung menutupi kancing baju bagian atas, untung baru satu kancing yang dia buka.


"Sini, aku bantuin mompa, biar cepat."


Freya melotot, lalu melempar bantal pada Arby.


"Dasar mesum, keluar sana!"


Siapa yang mesum? Aku kan hanya mau bantu. Dia tuh yang mesum.


Tapi Arby jadi ngebayangin juga, kan.


Oke, sepertinya aku memang mesum.


Semburat merah di wajahnya membuat wajahnya memanas. Dia langsung ke dapur untuk meminum air es.


.


.


.


Hari ini kepulangan baby Chiro, tidak selama seperti yang diperkirakan oleh dokter, karena perkembangan baby Chiro sangat baik.


Freya menggendong baby Chiro dengan luwes. Karena kepulangan baby Chiro, Arby dan Freya sepakat untuk berbagi kamar kembali, karena setelah Freya lahiran, mereka pisah kamar karena sudah tidak ada lagi alasan bagi Arby untuk tetap tidur bersama Freya.


"Kita bagi tugas. Kalau aku belajar, kamu yang urus Chiro," ucap Freya.


"Gak bisa gitu dong, kamu kan belajar terus-terusan. Aku juga mau UAS, Frey, harus belajar."


"Kamu kan pintar, enggak perlu belajar juga bisa."


"Kamu juga pintar, Frey, jadi kamu enggak perlu belajar pasti lulus."


"Ck. Gini deh, dari jam enam pagi sampai jam enam sore, aku yang urus. Dari jam enam sore sampai jam enam pagi, kamu yang urus."


"Keenakan di kamu dong, Frey. Bareng-bareng aja, kalau Chiro bangun tengah malam, kita berdua harus sama-sama bangun."


"Heleh, kamu kan kebo tidurnya. Waktu aku mau lahiran aja kamu susah dibangunin sampai aku harus nimpuk itu kamu. Itu sore, gimana kalau malam? Kamu tidur pasti sudah kaya orang mati."


"Dah, pokoknya kita harus bagi rata," ucap Arby.


Yang terjadi justru sebaliknya.


Arby kembali kuliah normal, dari pagi hingga sore. Elya sibuk dengan pekerjaannya. Ada baby sitter, namun baby Chiro hanya mau digendong oleh Freya. Semua Freya lakukan sendiri. Menyusui meskipun ASI-nya tidak lancar. Memandikan, ganti popok, menidurkan, mengajak bermain. Baby sitter fungsinya hanya merapihkan barang-barang Chiro.


Seperti itu setiap harinya.


Jika Arby pulang, baru Chiro diurus oleh Arby, itu pun tak lama karena kembali lagi, baby Chiro hanya mau tidur jika Freya yang menidurkan. Tengah malam pun begitu.


Siang ini, Freya sedang belajar untuk menghadapi ijian akhir yang tinggal dua minggu lagi. Baby Chiro menangis kencang namun tak dipedulikan oleh Freya. Kepalanya sudah mau pecah.


Perlahan air matanya keluar.