Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
2 - 23 Tuyul


"Libur telah tiba ... libur telah tiba ... hore ... hore ... hore ...."


"Libur telah tiba ... libur telah tiba ... hatiku gembira ...."


Yuri dan Deo, pasangan tak pernah akur namun sekarang kompak menyanyikan lagu anak-anak itu, terlihat bahagia.


Entah bahagia karena merasa lega sudah selesai ujian, atau bahagia karena akan liburan panjang.


"Yuri, ko lo senang banget, sih?"


"Iya, dong. Kan jadwal liburan gue tahun ini padat, cuy."


"Memang mau liburan ke mana?"


"Kan sekolah kita mau piknik ke Bali. Pulang dari sana, opa oma gue mau ngajak ke Swiss, nah pulang dari sana, Deo mau ngajak gue honeymoon, dong. Asiikk, honeymoon ... honeymoon ... honeymoon ...."


Teman-teman sekelasnya tersedak, bahkan Deo sampai tepok jidat.


"Gak salah, lo sama Deo mau honeymoon?"


"Iya?"


"Dalam rangka apa?"


Yuri meletakkan jarinya di dagu.


"Hm, lupa gue. Tapi yang jelas gue cuma ingat gue bakalan liburan."


Mereka kini melihat wajah Deo yang belaga polos dengan perkataan Yuri.


"Deo, lo mau honeymoon sama Yuri?"


"Bukan honeymoon!"


"Terus?"


"Babymoon."


"Fix, mereka sarap gara-gara kebanyakan menelan rumus."


"Memang rumus bisa ditelan?"


"Au ah, gelap."


"Kan sekarang masih siang, masih terang loh, mana panas banget lagi."


"Ya Allah, hamba taubat. Semoga kelas tiga nanti bisa mendapat teman yang lurus di jalan-Mu."


"Ya Allah, semoga Rizki nanti kelas tiga dibully sama teman-teman sekelasnya setelah berpisah dari kami," doa Yuri dengan mata berbinar cerah.


"Aamiin," ucap mereka serempak kecuali Rozki tentunya.


Rizki hanya bisa mengelus dada, mau mengelus bokong bokongnya kempes.


"Gak jauh dari kalian juga gue selalu dibully."


"Tapi kan Yuri cantik suka jajanin Rizki cilok."


"Ya elah, Ri. Jajanin cilok dua ribu aja bangga."


"Memang lo bisa jajan cilok lima ribu?"


"Jangan kan lima ribu, sepuluh ribu saja gue sanggup."


"Serius?"


"Iya lah, masa anak kepala sekolah jajan sepuluh ribu enggak bisa."


"Kalau gitu sekarang lo jajanin gue cilok, sepuluh ribu ya, biar kenyang."


Rizki langsung terdiam.


"Sialan, lagi-lagi gue kena jebakan."


Teman-teman sekelasnya hanya menertawakan nasib Rizki yang apes karena berhasil dipalak Yuri. Rizki memang anak kepala sekolah di sekolah ini, tapi itu tidak berpengaruh di kelasnya. Mau anak kepala sekolah kek, anak guru killer kek. Bagi mereka, mereka semua sama, sama-sama murid sekolah yang membutuhkan perhatian saat tidak bisa menjawab soal ulangan.


Deo yang melihat itu langsung cemberut.


"Deo, lo beliin gue mie ayam, ya."


Yuri langsung menggandeng Deo di tangan sebelahnya. Jadilah dia menggandeng dua pria di sisinya.


"Yuri, lo kalau gandeng cowok kira-kira dikit dong!" kata Bian.


"Memang kenapa?"


"Masa yang satu mulus yang satu buluk."


Lagi-lagi Rozki kena bully.


"Nama dong bagus, Rizki. Tapi nasibmu sungguh tak beruntung, Nak!"


Gara menepuk pundak Rizki dengan tatapan kasihan tapi lucu.


"Lagian, Yuri, ko lo tumben mau gandeng tangan Deo?"


"Kan gue lagi ada maunya. Nanti kalau sudah kenyang, baru gue galakan lagi."


Hanya gelengan kepala dari teman-teman mereka. Bagaimana mau marah coba, sikap Yuri yang ceplas-ceplos itulah yang menunjukkan kebaikan yang sesungguhnya dan hati yang polos. Kalau memang matre yang licik, pasti diam-diam saja sok alim dan malu-malu meong.


Deo yang digandeng juga biasa saja.


Mereka satu kelas duduk bergerombol, seperti acara keluarga. Banyak yang iri dengan kelas mereka yang selalu terlihat kompak, mau itu ganteng, cantik, jelek, kaya, miskin, pintar, tidak pintar, mereka selalu akur.


"Yuri, lo gak cacingan, kan?" tanya Deo melihat cara makan Yuri.


"Kenapa, memang?"


"Lo tiap hari makan banyak, tapi gak gemuk-gemuk. Jangan-jangan lo cacingan."


"Enak, saja. Gue sehat tahu."


"Gue jadi pengen bikin lo gemuk."


Gemuk versi Deo tentu saja berbeda, hanya berlangsung selama sembilan bulan saja. Wajah tampannya itu kembali cengar-cengir tidak jelas. Yuri yang melihat dompet Deo tergeletak di atas meja tanpa perhatian dari majikannya, langsung membuka dompet itu dan mengambil uang tiga ratus ribu.


"Woy, gue traktir kalian bakso."


"Yey!"


"Asik."


Sedangkan Deo masih belum menyadari apa yang terjadi.


Gara dan Qavi merasa bimbang, antara mau memberi tahu Deo atau mendapat traktiran.


SaatbDeo tersadar, teman-teman sudah menyantap bakso.


"Kalian kompak banget makan bakso semua."


"Iya, ini ditraktir sama Yuri."


Perasaan Deo menjadi tidak enak, dia lalu melihat dompetnya yang ada di atas meja. Sambil membaca doa dia membuka dompetnya.


"Dih, uang gue diambil sama tuyul."


Yuri langsung memberengut.


"Ayang Deo kejam, masa Yuri cantik dibilang tuyul!"


Tamg lain tidak peduli dengan perdebatan mereka, yang penting mereka kenyang.


"Lagian anggap saja ini acara selamatan nikahan kita."


"Dih, enggak banget deh, masa orang kaya nikahan traktir bakso. Nanti gue bikin resepsi tujuh hari tujuh malam."


Mereka bukannya tidak mendengar perkataan aneh Deo dan Yuri, tapi yang ada dalam pikiran mereka, dua manusia itu masih mabok pasca ulangan.


Apa jadinya kalau mereka tahu bahwa Deo dan Yuri memang telah menikah, bisa gempar mereka.