
Freya menatap sinis pada Arby, pria yang menjadi dalang pernikahan dininya.
Sedangkan Arby?
Ada perasaan lega karena dia tak perlu lagi menutupi perasaannya, juga istri kecilnya itu tak perlu lagi menaruh curiga pada perempuan mana pun, termasuk Nuna.
.
.
.
Nania dan Aruna yang mendapat kabar bawa Freya pingsan, langsung datang pagi-pagi dan bolos sekolah. Bertepatan dengan kedatangan mereka, Nuna juga tiba di rumah itu, dia mendapat kabar dari Ikmal.
"Mau ngapain kamu?"
"Nemuin soulmateku, lah."
Kalimat yang ambigu, merujuk pada Arby sebagai soulmatenya Nuna. Sedangkan Nuna tertawa dalam hati melihat wajah kesal Nania dan Aruna.
Di dalam rumah, Freya sedang makan salad sayur dan ikan salmon, tidak lupa juga spageti seafood dan masih ada beberapa menu lainnya.
Arby, Ikmal, Vian dan Marcell yang menginap, hanya melongo melihat Freya yang tak berhenti mengunyah.
"Freya!" teriak Nania dan Aruna, namun mata Freya tertuju pada gadis yang ada di belakang mereka.
Suasana terasa canggung. Nania dan Aruna duduk di sisi kanan dan kiri Freya, sedangkan Nuna duduk di sebelah Ikmal.
Tanpa segan, ketiga gadis itu ikut menikmati sarapan mewah tersebut. Nuna sesekali melirik pada Freya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi bingung. Begitu juga dengan Freya, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi ragu.
Dia memang tak mengingat hubungan antara mareka berempat saat dia SD di Singapura dulu. Lalu tiba-tiba saja mendengar akan masa lalunya, membuat Freya jadi bingung sendiri harus bersikap seperti apa.
"Ya, nanti malam aku dan Aruna nginap di sini, ya?"
"Tanya tuh sama dia, dia kan yang punya rumah."
Freya menunjuk Arby dengan dagunya.
"Pokoknya aku sana Aruna nginap di sini," kata Nania pada Arby.
"Aku juga!" Nuna tak mau ketinggalan, sudah cukup dia dijauhi oleh Freya.
"Enggak tahu malu banget sih kamu, waktu di vila seenaknya, sekarang juga gitu," Nania mendelik kesal pada Nuna.
"Sst, sudah enggak apa. Lagian kan sudah lama kita enggak tidur berempat."
Kali ini Arby yang mendelik kesal, bisa-bisa dia muntah semalaman gara-gara enggak tidur sama Freya.
Nuna tersenyem senang, lalu meledek Arby tanpa mengeluarkan suara.
"Syukurin!" katanya tanpa suara, karena dia tahu dari Ikmal kalau Arbt harus selalu dekat dengan Freya agar tidak mual dan muntah. Sedangkan dia sudah mulai bisa makan sedikit-sedikit yang bukan masakan Freya.
Arlan san Elya tidak melarang mareka menginap, karena mereka cukup sadar bahwa Freya itu memang masih sangat muda, masih butuh kumpul-kumpul dengan para sahabatnya, nonton bareng, ngemall, dan kegiatan remaja lainnya.
.
.
.
Eeerrgghhhh
Itu suara Arby yang baru saja mengeluarkan angin dari mulutnya. Ikmal sedang mengusap minyak telon di tengkuk Arby.
"Buset, dah. Orang ngidam gini amat, ya."
"Kenapa harus minya telon sih, Ar? Minya telon kan buat bayi."
"Dah jangan bawel, kalian mending bikin rujak sana. Cabenya lima ya. Oya, bengkoangnya di potong bentuk bintang, terus pepayanya dipotong memanjang, nanasnya bikin dadu, tali harus sama ukurannya, jangan lupa kasih strawbery, kedondongnya cari yang manis."
Mereka melongo, lalu menghela nafas.
"Katanya nanas enggak bagus untuk wanita hamil, Ar."
"Yang hamil itu Freya, bukan aku."
"Tapi kamu yang ngidam."
"Dah jangan bawel, bikin aja sana. Bumbunya kasih topping buah chery."
Jam sembilan malam, mereka bertiga sibuk di dapur untuk memenuhi keinginan papa ngidam itu.
Setelah jadi dan akan ke atas, Nania datang dan langsung mengambil rujak tersebut.
"Eh, itu buat Arby."
"Buat Freya aja, kalian bikin lagi sana."
Ketiga pria itu hanya bisa mengelus dada.
Nania masuk dengan membawa semangkok bumbu rujak dan sepiring penuh potongan buah-buahan.
Dibilang rujak, tapi ada semangka dan tomat cherynya. Dibilang salad, tapi bumbunya bumbu rujak, tapi dikasih topping buah chery.
"Aku jadi ingin makan bihun seafood, tapi mereka yang bikin."
Nania, Aruna dan Nuna berbinar. Mereka langsung menuju kamar tamu untuk menyampaikan keinginan Freya.
Tok tok tok
Vian membuka pintu kamar tamu, di dalamnya ada Arby, Ikmal dan Marcell. Melihat ketiga gadis itu, perasaan Vian menjadi tidak enak.
"Apa?"
"Freya mau makan bihun seafood."
"Salmon bakar."
"Siomay."
"Juga Capcay."
Salmon bakar, siomay dan Capcay itu adalah keinginan ketiga gadis itu.
"Terus?"
"Harus kalian yang bikin."
"Harus enak."
"Enggak pake lama."
"Arrrrrr, nyesel aku nginap di sini!"
.
.
.
Arby sebenarnya mual, tapi karena ada Freya di dapur itu, mualnya langsung hilang. Mereka berempat seperti chef yang mengalami tekanan batin. Sedangkan keempat gadis itu hanya menonton mereka memasak sambil mengemil kacang telur.
Memasak empat jenis makanan untuk porsi delapan orang ditambah dua porsi tambahan untuk yang mau nambah, bukan pekerjaan mudah bagi keempatnya.
My boy, daddy masak demi kamu. Tolong bujuk mommy biar enggak marah lagi sama daddy.
Kalau Freya mendengar itu, bukannya terharu dan merasa bersalah, tapi langsung mendengkus sambil berkata, "Geli banget tahu, enggak!"
Mereka melihat penampilan siomay yang tak manusiawi itu. Freya mulai mengambil satu siomay untuk dia cicipi, bagai juri acara masak memasak.
"Jangan Frey, nanti kamu sakit perut atau keracunan."
Arby menahan rangan Freya dan melihat Vian yang memasak siomay itu.
"Kamu dulu, An, yang makan."
"Nanti kalau aku yang sakit perut atau keracunan, gimana?"
"Ya deritamu!"
"Dasar teman enggak ada akhlak."
Mau enggak mau, Vian makan juga siomay itu. Entah karena lapar atau menghargai hasil masakan sendiri, dia makan dengan lahap. Setelah menunggu selama lima menit tanpa reaksi kejang-kejang, yang lain mulai mencicipi siomay itu yang rasanya ya ... lumayan lah.
Kekesalan Freya terhadap Arby membuatnya selalu merasa lapar. Sulit baginya menerima kenyataan ini.
"Kenyang banget, aku."
Aruna mengelus perutnya. Gimana enggaknkenyang, coba. Mereka sudah makan rujak, bihun seafood, siomay, capcay dan salmon bakar malam-malam begini.
Dapur yang sebelumnya sangat bersih kini seperti kapal pecah dengan peralatan masak dan bahan-bahan yang berserakan.
Belum lagi minuman jus strawbery dan lemon tea yang menemani santap malam mereka.
"Ini enggak ada makanan penutupnya?" tanya Freya.
"Kamu masih mau makan, Ya?"
"Aku mau popcorn manis, dong. Aku mau nonton film korea."
"Ayuuukkk!"
Katanya tadi kenyang, tapi Aruna langsung setuju dengan keinginan Freya.
"Ya sudah, kalian tunggu saja di ruang theater."
Ikmal, Vian dan Marcell melotot pada Arby. Sedangkan Arby hanya cuek. Jika Freya di ruang theater, maka dia bisa berada dalam satu ruangan bersama Freya.
Setengah jam kemudian keempat pemuda itu masuk ke ruang theater dengan membawa berbagai macam cemilan yang dibuat oleh koki.
Sedangkan keempat remaja perempuan itu, sudah nyenyak di alam mimpi mereka.