
"Awas kalau malam ini berani macam-macam."
"Yuri cantik ...."
Yuri langsung tersenyum saat dibilang cantik, wajah gadis itu langsung menghadap Deo dengan tatapan yang membuat Deo gemas.
"Kamu tahu kan berbuat baik itu pahalanya gede."
"Tahu lah, masa gitu aja enggak ngerti."
"Jadi apa salahnya kalau Nuri berbuat baik pada Beo."
Dan dengan akal bulus plus plus, Beo kembali menunaikan pekerjaan mulianya yang nantinya entah menjadi baby Beo atau baby Nuri.
Deo sudah memasang empat alarm di kamar itu. Jangan sampai mereka bangun kesiangan lagi. Bisa-bisa Beo disetrap oleh Nuri selama satu tahun ke depan, sampai mereka lulus SMA.
"Anjrit, apaan tuh!"
Yuri dan Deo terbangun karena kaget. Mereka sama-sama tiarap dan meletakkan tangan di atas kepala. Akhirnya suara alarm itu berhenti serentak, dan Deo baru sadar dengan bunyi yang dia dengar tadi.
"Itu suara alarm."
"Kenapa kamu pasang alarm sebanyak itu? Mana nyaring banget, lagi!"
"Biar kita enggak kesiangan lagi, Sayangku."
Cup
Deo langsung mengecup kening Yuri dan mandi. Sedangkan Yuri kembali tidur, dia enggak peduli mau kesiangan atau tidak, yang penting tidur.
Dengan susah payah Deo membangunkan Yuri.
"Aku enggak mau sekolah, ah."
"Sekolah, nanti anak-anak kangen sama kamu."
Akhirnya Yuri pergi ke sekolah, karena memikirkan anak-anak yang kemarin dia telantarkan tanpa kabar.
Dia khawatir salah satu dari mereka ada yang kangen cilok!
Yuri kembali tidur di dalam mobil mereka. Sesampainya di sekolah, Deo membangunkan Yuri. Deo menggandeng tangan perempuan itu dan dilihat oleh orang-orang.
"Mereka gandengan?"
"Tipu muslihat apa lagi yang akan terjadi?"
"Apa sudah terjadi gencatan senjata?"
Sepanjang koridor, mereka menjadi pembicaraan murid kelas tiga dan dua yang sudah lama mengenal mereka. Berbeda dengan para murid baru, mereka menatap kagum pasangan itu.
Para cewek terpesona melihat ketampanan Deo. Rasanya ingin sekali dibawa pulang. Begitu juga dengan Yuri yang berwajah imut dan menggemaskan.
Deo kesal melihat mata para pria terus saja memandang istrinya itu.
Enggak tahu apa, kalau Yuri ini istri gue?
Enggak, mereka kan memang enggak tahu.
"Yuri, lo sakit?"
"Jadi benar kamu panuan?" Yuri yang tadinya ngantuk, langsung membuka lebar matanya.
"Panuan?"
"Iya, kamu enggak masuk karena panuan, kan?"
"Enak saja, aku ini mana mungkin panuan. Enggak lihat apa, muka aku cantik putih mulus seperti ini?"
"Terus, kenapa kemarin kalian berdua enggak masuk sekolah?"
"Aku lagi sakit."
"Deo?"
"Aku juga sakit."
Dan dengan polosnya mereka semua percaya.
"Kenapa kalian gandengan?"
"Ya buat jaga-jaga aja. Kalau Yuri pingsan, nanti ada aku yang mapah."
"Kalau Deo pingsan, kamu papah juga, Ri?"
"Ya aku seret, lah. Kalau enggak aku tinggalin saja dia."
Deo melirik Yuri dengan kesal.
Mereka mengangguk, ini bukti kalau mereka ada manusia asli, bukan alien yang turun ke bumi menyerupai wajah keduanya.
"Deo, kamu sakit apa memangnya?" tanya Emily.
"Ituku sakit."
Ituku?
"Yuri, kamu sakit apa?" tanya Emily, basa-basi.
"Iniku sakit."
Iniku?
"Apa sih, maksudnya ini itu?" Kembali Emily bertanya.
"Artinya anu," jawab Gara asal.
"Anu? Anu apaan sih, Chia?"
"Anu itu ono."
Emily mengacak rambutnya, dia berpikir apa dia yang paling bodoh di kelas ini?