Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
24 Ruang Kepala Sekolah


"Freya!" bentak Nuna.


"Apa? Memang benar kan, mamamu itu seorang pelakor!"


Plak!


Nuna menampar Freya dengan kencang. Tak ingin kalah, Freya membalas tamparan Nuna dengan lebih kencang.


"Berhenti!" teriak Arby.


"Apa? Mau membela jalangmu ini? Mungkin saja dia juga mengobral dirinya untuk memikat cowok, sama seperti yang mamanya lakukan."


Nuna langsung menjambak rambut Freya. Freya memiting tangan Nuna, menekannya badannya hingga membentur tembok, bahkan jidat Nuna berdarah.


"Kamu duluan yang bermain kasar, maka rasakan sendiri akibatnya."


Arby berusaha melerai dua gadis itu. Bagi Freya, Nuna tidak ada apa-apanya.


Di koridor yang lain, Nania mencari Freya, karena sejak istirahat tadi gadis itu tidak lagi kelihatan, bahkan belum kembali ke kelasnya. Begitu pun dengan Marcell, Ikmal dan Vian yang ingin ke toilet dan mencari Arby.


Mereka berdua berpapasan dengan Nania yang langsung menunjukkan wajah tidak sukanya. Mendengar keributan di dekat toilet, mereka berempat langsung ke arah sana.


Mata mereka terbelalak saat melihat Freya dan Nuna yang sedang melakukan adegan baku hantam dengan Arby sebagai penengahnya.


"Freya!" teriak Nania.


Gadis itu langsung berlari untuk menolong Freya. Mereka yang melerai ikut terluka, karena ketendang atau tercakar.


"Cepat panggil guru!"


Nania diam saja. Melihat Nania yang tidak merespon, Vian akhirnya yang langsung mengambil tindakan.


Pintu ruang guru dibuka begitu saja.


"Bu, ada yang berantem!"


Guru-guru langsung berlari mengikuti Vian yang penampilannya sudah acak-acakan.


"Freya!"


Para guru mulai melerai.


"Ada apa ini, kenapa kalian bertengkar?"


"Ayo, kalian semua ke ruang kepala sekolah!"


Di ruang kepala sekolah, semuanya menunduk, kecuali Freya. Kepalanya tetap tegak dengan pandangan tajam tanpa rasa takut.


"Apa yang kalian ributkan?"


Tidak ada yang menyahut. Kepala sekolah didampingi dengan guru BK menghela nafas.


"Saya akan memanggil orang tua kalian."


Tetap tidak ada yang menjawab.


Setengah jam kemudian, hampir di waktu yang bersamaan, para orang tua murid itu datang.


Kedua orang tua Freya datang dan langsung menatap anaknya. Begitu juga dengan orang tua Arby yang menatap Arby dengan pandangan bertanya.


Setelah mereka lengkap, kepala sekolah kembali berbicara.


"Jadi, ceritakan semuanya dengan jelas."


"Dia yang mulai," Freya menunjuk Nuna dengan dagunya.


"Jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain, Freya," bela Nuna


"Kalian bisa lihat CCTV." Freya tersenyum puas.


Mereka mulai memutar CCTV di dekat toilet itu. Terlihat Nuna yang menyusul Arby, lalu mereka berbicara cukup lama. Kemudian Arby yang memegang pundak Nuna dan menepuknya. Tidak lama kemudian Freya datang lalu Nuna menampar Freya.


"Kalian lihat sendiri, kan?"


"Itu karena dia mengatakan kalau ...."


Nuna langsung diam, tidak melanjutkan kata-katanya.


"Apa yang Freya katakan sampai kamu menamparnya?"


"Dia ... dia bilang ...."


"Freya, apa yang kamu bilang ke Nuna sampai dia menampar kamu?"


"Aku hanya bilang kalau ...."


"Freya!" potong Nuna. Dia tidak ingin Freya mengatakan itu di depan orang-orang.


"Aku hanya bilang mamanya itu pelakor."


Bahkan kedua orang tua Nuna membisu mendengar perkataan Freya yang luwes tanpa beban.


"Freya!"


"Apa? Memang benar, kan? Bahkan mamanya empat kali kawin cerai dengan pria-pria kaya. Tidak peduli ada anak istri orang yang tersakiti. Cih, tampang sok polos tapi mewarisi sikap mamanya yang seorang ******!"


Suasana semakin panas.


"Kamu tahu dari mana, Ya?" tanya Nania pelan, namun masih bisa di dengar oleh orang-orang.


"Ck, tahu lah, Nan. Otakku ini bukan hanya hapal sama pelajaran, tapi juga bisa menampung informasi lainnya."


"Berarti selama ini kita berteman dengan anak pelakor, dong?"


"Ho'oh."


"Dih amit-amit. Untung sekarang sudah enggak, ya."


"Makanya kamu jauh-jauh dari dia, kalau punya pacar apalagi suami, jangan sampai dikenalin ke dia."


Nuna merasakan nyeri di hatinya. Itu bukan bisik-bisik, tapi percakapan yang memang disengaja agar orang lain mendengarnya.


"Jaga bicara kamu!"


Itu adalah mamanya Nuna, sang pelakor, namun Freya tak akan gentar.


"Saya mau anak ini dihukum."


"Gak masalah, tapi yang lain juga harus dihukum dong, Pak."


"Bagaimana kalau kita selesaikan ini dengan kekeluargaan saja?" Kepala sekolah menengahi. Selain karena Freya murid yang berprestasi, dia juga merupakan menantu dari pemilik sekokah ini, dan kepala sekolah ini masih memiliki hubungan keluarga dengan orang tua Arby.


"Kalau begitu saya mau dia meminta maaf kepada saya dan Nuna."


Kepala sekolah mengangguk mengerti. Freya melirik kedua orang tuanya dan orang tua Arby yang diam saja tanpa membelanya. Sebenarnya dia juga tidak ingin dibela.


"Freya, sekarang kamu minta maaf kepada Nuna dan orang tuanya. Juga berjanji tidak akan membuat keributan lagi."


"Saya Freya Canaya tidak akan pernah meminta maaf kepada mereka."


"Freya, sekarang kamu minta maaf kepada mereka," kali ini papanya yang bicara.


"Saya Freya Canaya tidak akan pernah meminta maaf kepada mereka."


Ternyata butuh kesabaran menghadapi gadis ini.


"Kalau begitu kamu pilih hukuman. Meminta maaf, membersihkan toilet selama dua minggu, atau skorsing selama satu minggu!"


"Skorsing satu minggu."


Jawaban yang di luar dugaan.


Gadis berprestasi dengan nilai yang selalu memuaskan, tidak pernah absen meski sakit, tidak pernah terlambat atau melakukan kesalahan kecil lainnya selain ulangan bahasa Inggris tadi yang sudah diperbaiki, kini memilih skorsing selama satu minggu.


Tidak kah dia takut ketinggalan pelajaran?


Tidak kah dia cemas nilainya akan jelek?


Bahkan selama ini mereka berpikiran konyol bahwa Freya itu phobia nilai jelek.


"Kamu yakin?"


"Tentu saja. Bahkan nilai saya bisa tetap bagus meski tidak belajar."


Bukannya sombong, tapi memang kenyataan. Selama ini Freya belajar bukan untuk pintar, tapi mengalihkan pikirannya dari sikap keluarga yang tidak hangat kepadanya. Bahkan selama ini dia lebih sering membaca buku-buku di luar pelajaran, seperti buku biografi para tokoh terkenal, buku kedokteran, bisnis dan sebagainya. Bahkan sebenarnya dia sering membaca novel berbagai genre dan komik.


"Kalau begitu mulai besok kamu diskorsing selama satu minggu."


"Mereka berdua juga harus diskorsing, atau saya akan menyebarkan berita kalau kepala sekolah di sini bertindak tidak adil kepada muridnya."


Sejak kapan ada murid yang mengancam kepala sekolahnya di depan orang tua murid?


Freya menahan seringainya, melihat kepala sekolah yang kini terlihat tak berwibawa karena perkataannya, juga wajah-wajah yang memerah karena malu dan kaget.


Rasakan, ini belum apa-apa.


Kepala sekolah berdeham pelan sebelum akhirnya mengambil keputusan.


"Kalau begitu, Freya dan Nuna saya skorsing selama satu minggu. Arby saya skorsing selama tiga hari. Nania, Marcell, Ikmal dan Vian saya bebaskan dari hukuman karena sebenarnya mereka hanya berusaha melerai pertengkaran."


"Kalau begitu saya akan bersiap-siap untuk liburan saya selama satu minggu. Terima kasih atas waktu yang diberikan," gadis itu tersenyum puas.


Freya langsung ke luar begitu saja tanpa menatap orang tuanya atau berpamitan, namun dia hanya mengedipkan matanya kepada Nania yang tentu saja bisa di lihat oleh mereka semua.


"Hey Freya, kamu jangan liburan sendiri, aku juga ikut," teriak Nania.