
Deo terbangun dari tidurnya, dilihatnya Yuri yang tidur dengan gelisah sambil memegangi perutnya. Dipeganginya kening Yuri yang terasa dingin.
"Ri, Yuri!"
Yuri membuka matanya sambil meringis.
"Lo kenapa?"
"Perut gue sakit."
Deo langsung mengambil minyak kayu putih dari dalam laci. Dioleskannya minyak itu ke perut rata Yuri yang terasa lembut, dan tentu saja putih. Mendapat sentuhan dari tangan Deo, membuat perutnya terasa lebih nyaman dan akhirnya kembali tidur.
Sekarang gue yang enggak bisa tidur.
Deo menghela nafas panjang saat saudara kembarnya yang bernama Beo itu bangun. Gara-gara tangannya ngelus perut Yuri, si kembar ngiri, minta ngelus-ngelus juga. Tapi masalahnya mau ngelus-ngelus yang mana?
Di sisa malam ini akhirnya Deo tak dapat kembali tidur. Bibirnya terus manyun melihat Yuri tidur sambil menggeliat ke sana, menggeliat ke sini, kan jadi kelihatan erotis. Membuat Beo jadi mupeng ingin menunjukkan pesonanya dan segera melakukan grand opening.
Deo menghela nafas berat, lalu turun ke bawah untuk membuat susu.
Sesampainya di dapur, salah satu asisten rumah tangganya yang sudah berumur kepala empat bernyanyi
...🎵🎵🎵...
Makan duren di malam hari paling enak dengan kekasih dibelah bang dibelah enak bang silahkan dibelah.
Jangan lupa mengunci pintu nanti ada orang yang tau pelan pelan dibelah enak bang silahkan dibelah ....
Ah ah ah ... yeah yeah yeah yeah
Semua orang pasti suka belah duren apalagi malam pengantin sampai pagi pun yoo wiss ben
Yang satu ini duren nya luar biasa
Bisa bikin bang ngak tahan
Sampai sampai ketagihan
Kalo abang suka tinggal belah saja
Kalo abang mau tinggal bilang saja
Jangan lupa mengunci pintu nanti ada orang yang tahu
Pelan pelan dibelah
Enak bang silahkan dibelah
Ah ... ah ... ah ... yeah yeah yeah yeah
Semua orang pasti suka belah duren
Apa lagi malam pengantin sampai pagi pun yoo wiss ben
Yang satu ini duren nya luar biasa
Bisa bikin bang ngak tahan
Sampai sampai ketagihan
Kalo abang suka tinggal belah saja
Kalo abang mau tinggal bilang saja
Makan duren di malam hari
Paling enak dengan kekasih
Dibelah bang dibelah enak bang
Silahkan dibelah
...🎵🎵🎵...
Deo memandang sinis asisten rumah tangga itu.
Pasti nyindir, nih. Tahu aja gue belum pernah belah duren.
"Eh, Den Deo, mau bibik buatin apa, Den? Susu?"
Deo menggeleng lesu, dia jadi enggak selera minum susu.
"Teh aja deh, Bik."
"Oke, Den. Aden kok sudah bangun? Habis olah raga pagi, ya?"
"Enggak, Bik. Aku lagi malas olah raga."
"Kenapa, Den?"
"Lagi lemes, Bik."
"Wah, bahaya itu, Den. Nanti deh bibik bikinin jamu, biar Aden staminanya tetap kuat dan tidak mengecewakan non Yuri. Jadi bisa cepat-cepat ngasih kanjeng raja dan ratu cucu."
Deo mengernyitkan keningnya.
Apa hubungannya sama Yuri, kalau aku lemes? Mana bawa-bawa cucu, lagi.
Terjadi kesalah pahaman dalam obrolan ini, saudara-saudara. Deo kan lemes karena kurang tidur, akibat Beo tegang semalaman dan tak tersalurkan dengan baik.
Sedangkan maksud bibik olah raga pagi, ya itu, adegan 21+, dan berpikir bahwa itunya putra mahkota lemes.
"Jangan sampai impoten, Den. Mana masih muda, lagi."
What? Impoten? Apa segitu sakit hatinya Beo, sampai-sampai gugur sebelum berperang?
Deo langsung menatap Beo yang sejak tadi menahan rasa sakit hatinya karena ditelantarin.
Di dalam balutan celana panjang Deo, Beo memang sedang bobo cantik.
Enggak, enggak bisa begini. Enggak boleh!
Deo langsung berlari ke kamarnya, untuk memastikan sesuatu.
"Dennn, ini gimana tehnya?"
"Buat Bibik aja, aku ada tugas negara yang lebih penting. Demi masa depan bangsa dan ketentraman dunia," teriak Deo.
Deo membuka pintu kamarnya, dilihatnya Yuri yang masih tidur. Deo mendekati Yuri.
Mumpung masih tidur.
Cup
Deo mengecup bibir Yuri.
Awalnya hanya kecupan, namun lama-lama menjadi gigitan kecil dan *******. Dia merasakan Beo mulai sedikit bangun.
Hanya sedikit, berarti harus dibangunkan lagi.
Enak aja lo mau impoten, protesnya pada sang kembaran.
Tangan Deo lalu mengarahkan tangan Yuri ke Beo. Mengelus-ngeluskan tangannya ke situ. Lalu bibirnya kembali mencium bibir Yuri.
Dalam keadaan masih tidur, Yuri melenguh pelan. Lalu bibirnya monyong sendiri, mungkin dia lagi mimpi disosor ikan ******.
Hal itu semakin memudahkan Deo untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Tak lama kemudian, Gadis itu membuka matanya.
"Aaaaa, Deodoran, lo lagi ngapain?"
"Lagi belajar biologi."
"Aaaaa, Deodoran, kenapa tangan gue di itu, lo?"
"Tangan lo ngelindur, kali."
Lagi-lagi jawabnya ngasal, tapi dia bernafas lega, ternyata Beo masih sehat walafiat.
"Yuri, kapan gue boleh ketemu sama Nuri?" tanyanya dengan suara serak.
"Nuri? Siapa Nuri?"
"Kembaran lo, lah."
"Gue enggak punya saudara kembar."
"Punya."
"Enggak."
"Punya."
"Enggak."
"Itu, Nuri," tunjuk Deo pada bagian bawah Yuri.
Yuri melotot saat mata pria itu memandang bagian bawahnya.
"Nih, kalau saudara kembar gue, namanya Beo. Ingat, jangan sampai salah nyebut, Deo dan Beo, bukan CEO."
"Deo, apa-apaan, sih. Enggak usah dikasih nama segala, kali."
"Ya biar lebih gampang. Masa gue bilang PUNYAKU, PUNYAMU, PUNYAKU, PUNYAMU. Kan punyaku punyamu bisa apa aja. Cerdas, kan gue? Pastinya, dong!"
Nanya sendiri, jawab sendiri, dia.
"Terserah lo, deh. Dasar sarap."
"Nih, coba deh, lo rasakan. Beo sudah siap meluncur."
Deo kembali mengarahkan tangan Yuri ke Beo.
"Aaaa, tangan gue, nggak suci lagi. Tangan gue ternoda. Tangan gue sudah enggak perawan. Tangan gue ...."
"Stop woy, stop."
"Gara-gara lo, nih."
"Kan nyicil, Ri. Tangan dulu, baru mata, baru Nuri."
Yuri masih loading saat Deo menyebut Nuri. Akal sehatnya masih belum menerima kalau miliknya itu diberi nama sepihak oleh Deo. Kan dia yang punya, kenapa orang lain yang ngasih nama?
Beo dan Nuri? Dia kira punyaku, burung? Kenapa enggak Devil dan Angel aja, sekalian, itu lebih enak didengar. Awas lo, Devil, jangan harap Angel mau bekerja sama begitu saja. Ahahaa ... Hahaha ... wkwkkwkwk ....
Yuri cekikikan sendiri.
"Mikirin iya iya, ya?"
"Sembarangan! Aku ini gadis polos yang tak tahu apa-apa tentang nganu-nganu."
"Polos, mbahmu? Tiap hari juga ngegosip soal roti sobek sama Airu dan Chiat-Chiat."
Chia maksudnya, dikira adegan kelahi, apa, chiat-chiat.
"Mendingan ngomongin roti sobek, daripada pisang keju."
Tuh, kan. Otak cerdas Deo fast respon soal yang begituan.
"Pisang keju yang ini gurih, loh."
Deo menaik turunkan alisnya.
"Pisang masih sepet gitu aja, bangga. Jangan-jangan kejunya juga basi."
Sebelum Deo sempat membalas, Yuri sudah ngacir duluan ke kamar mandi.
"Yuri, tanggung jawab, lo. Si Deo protes nih, dibilang sepet."
"Yuri ... Kate ... Nuri ... Woy, cantik! Jelek!"
"Berisik! Gue lagi sabunan nih. Gila, kulit gue mulus banget, cuy."
Deo menggeram kesal mendengar jawaban Nuri. Eh salah, maksudnya Yuri. Jadi ketukar sendiri kan, dia. Padahal dia yang ngasih nama. Kan dia jadi tambah tegang mendengar dan membayangkan kulit Yuri yang katanya mulus itu.
Tapi iya juga, sih. Perutnya aja tadi malam gue elus-elus, mulus. Aaaaaa ... jadi pengen! Mommy, daddy, tolongin Deo dan Beo!
Dipandanginya Beo yang sepertinya frustasi.
Gara-gara bibik nih, ngehasut gue, pakai segala ngomong kalau Beo impoten. Ujung-ujungnya gue juga yang harus ngebujuk Beo biar enggak ngambek. Amit-amit dah kalau dia layu sebelum berkembang.