
Ujian telah selesai. Murid kelas tiga kini duduk-duduk santai sambil ngemil kuaci. Makanan yang membuat mereka Haris bersabar karena susah kenyangnya itu.
Sampah dari kulit kuaci itu sudah berserakan di mana-mana.
"Kulit kuaci ini mengingatkan aku pada seseorang," celetuk Yuri.
"Siapa, cowok?" tanya Deo sewot.
"Sama Rizki."
"Kenapa dia?"
Rizki yang mananya disebut, langsung menoleh pada Yuri. Apa hubungan dia dengan kulit kuaci?
"Kulit kuaci yang berantakan ini, seperti hati Rizki yang berantakan dan hancur berkeping-keping karena baru ditolak oleh Davia."
Wajah Rizki langsung merah. Malu dan kesal.
"Sudah Ki, jangan sedih. Setidaknya kamu harus bersyukur karena ditolak oleh Davia."
"Emangnya kenapa?"
"Itu berarti Davia normal. Kalau dia sampai nerima kamu, berarti dia enggak waras."
Mereka lalu tertawa. Rizki mendelik kesal pada Yuri. Calon mantan teman satu kelasnya selama bertahun-tahun yang entah kapan akan insyaf.
"Sebentar lagi kita akan lulus, kapan kita akan berkumpul lagi?" Chia mulai mengusap sudut matanya. Mereka terdiam.
Benar, masa sekolah adalah masa yang paling indah. Saat kuliah nanti, mereka akan bertemu dengan orang baru, yang entah akan memiliki sifat yang menyenangkan atau tidak. Mereka juga pasti akan banyak kesibukan dan dituntut untuk lebih dewasa.
Semua memang ada masanya.
Guru akan berbeda dengan dosen.
Mau menjadi mahasiswa abadi pun, tidak masalah yang penting uang bayaran lancar. Asal enggak malu, saja. Mau nilai anjlok dan IPK kecil, tidak akan dipanggil orang tua. Semua akan ditanggung sendiri. Setelah lulus, mau langsung dapat kerja atau menikah atau pengangguran, menjadi urusan sendiri.
Mereka saling berangkulan, mengenang masa-masa sekolah selama tiga tahun ini.
"Siapa ya, di antara kita yang akan nikah duluan?" tanya Cindy.
"Deo sama Yuri," jawab Chia, Airu, Gara dan Qavi serempak, yang dinagguki oleh Rizki.
Pulang sekolah, satu kelas itu langsung ke mall. Mereka sudah membawa pakaian ganti, dan rencananya mau langsung memborong semua tiket nonton di satu studio.
Keceriaan anak-anak sekolah itu menarik perhatian para pengunjung lain. Suara tawa bahkan terdengar sampai lantai atas, padahal mereka baru memasuki pintu mall.
Deo menggenggam tangan Yuri, takut gadis itu mencari pria tampan yang ada di mall.
Di mall itu, bukan hanya murid sekolah mereka yang ada, tapi juga murid dari sekolah lain. Mereka saling memandang, karena sejak dulu sekolah mereka itu selalu bersaingan.
Kalau sekolah Yuri, semua muridnya pintar, tidak peduli apakah mereka dari kalangan atas atau bawah.
Tapi kalau dari sekolah lawan, mau pintar atau enggak, yang penting punya uang untuk sekolah di sana. Jadi sudah bisa dipastikan bagaimana kayanya mereka dan penampilan mereka yang selalu menggunakan barang bermerek.
Mereka saling cibir.
Murid dari sekolah lain lain menatap Deo. Sekolah mereka pernah mengadakan pertandingan basket, di mana Deo ikut bertanding dan selalu berhasil memenangkan pertandingan. Jadi sudah pasti mereka sangat mengenal Deo.
Para gadis itu merapihkan penampilan mereka.
"Cih, mencela sekolah kita yang katanya sekolah abal-abal. Tapi lihat pria tampan dari sekolah kita tuh biji mata langsung mau ke luar. Memangnya di sekolah mereka yang katanya elit itu, enggak ada cowok tampan? Kasian, deh!" cibir Yuri.