
FLASHBACK ON
"Freya, apa yang kamu lakukan?"
"Pa! Ma!"
Keadaan saat itu sangat kacau. Arby berjalan tertatih menghampiri tiga orang yang tergeletak tidak jauh darinya. Dia memegang kepalanya yang bersimbah darah dengan rasa sakit yang kuat.
"Freya!"
"Elya!"
"Wildan!"
"Pa!"
"Mi!"
Suara memanggil saling bersahutan, juga dipenuhi rasa kaget dan ketakutan. Dokter dan perawat yang baru datang segera memberi pertolongan.
Freya terbaring di lantai dengan tangan memegang pisau yang berlumuran darah.
Wildan, papanya Freya pun tak sadarkan diri dengan perut tertusuk cukup dalam, begitu juga dengan Elya, maminya Arby yang mendapat tusukan membabi buta dari Freya.
Semua orang terlihat gemetar, tak ada yang berani bertanya, namun sibuk dengan pikiran masing-masing.
Mereka langsung dibawa menuju ruang operasi, sementara Arby menuju ruang UGD. Luka dikepalanya cukup parah, namun masih bisa ditangani. Dokter juga memberikan alat bantu pernafasan karena tadi Freya sempat membekap mukanya menggunakan bantal.
Sementara itu di depan ruang operasi, Ami dan Arlan tidak bisa tenang. Ami menepuk-nepuk dadanya, berusaha untuk menenangkan diri sendiri.
"Aku mau melihat keadaan Arby sebentar, kamu tunggu di sini."
Ami hanya mengangguk, dia lalu duduk di bangku dan memejamkan matanya. Tanpa terasa air matanya keluar.
Kenapa jadi begini?
.
.
.
"Bagaimana keadaan Arby?"
"Saya sudah menjahit lukanya dan memberikan obat bius, saat ini dia masih tidur dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan."
"Lalu bagaimana keadaan Freya?"
"Dokter Gani juga sudah memberikan obat bius padanya. Ada yang harus kita bicarakan mengenai keadaan Freya."
"Kita bisa bicarakan itu setelah operasi Wildan dan Elya selesai, lagi pula Arby juga masih belum sadar."
"Tapi ini sangat genting."
"Nanti saja, aku tidak bisa konsentrasi sebelum tahu keadaan mereka bertiga baik-baik saja."
Dokter hanya bisa menghela nafas, ingin memaksa tapi siapalah dia. Rumah sakit ini milik Arlan Abraham dan akan diwariskan pada Arby. Toh pada dasarnya, pasien atau keluarganya memang punya hak untuk menerima atau menolak apa yang disarankan oleh dokter. Itulah mengapa ada surat perjanjian yang ditanda tangani oleh keluarga pasien sebelum dokter melakukan tindakan khusus.
"Kalau begitu, saya akan mengobati luka Anda dan nyonya Ami."
Arlan dan Ami selamat, bukan berarti mereka tidak terluka. Mereka juga mendapat luka sayatan di lengan dan telapak tangan.
Freya memang tidak main-main saat mengancam mereka dengab pisau buah itu. Dia bagaikan orang kesurupan dan sangat menggila.
Dokter dan perawat terpaksa mengobati Ami di depan ruang operasi, karena Ami tidak ingin meninggalkan tempat itu barang sejenak saja.
Aroma antiseptik langsung menguar di koridor itu. Suasana malam yang sepi menambah keheningan yang ada.
Tidak lama kemudian dokter Adam yang menangani Wildan keluar.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"
"Tuan Wildan selamat meskipun kehilangan banyak darah. Untung saja tusukan tidak sampai mengenai ususnya. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU, setelah kondisinya stabil, baru akan dipindahkan ke ruang perawatan. Untuk saat ini kalian belum bisa melihat keadaannya."
Selang lima belas menit kemudian, dokter Yusuf yang menangani operasi Elya keluar.
"Nyonya Elya kehilangan banyak darah, dia membutuhkan donor darah secepatnya."
"Darah saya saja!"
Arlan dan dokter Yusuf segera melakukan proses transfusi darah. Untung saja Arlan bisa mendonorkan darahnya untuk istrinya itu, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk memberikan pertolongan kepada Elya.
Setelah operasi Elya selesai, dia dipindahkan ke ruang ICU yang ada di sebelah ruang ICU Wildan.
Pagi harinya, Arby terbangun. Dia meringis merasakan sakit di kepalanya. Dia merasakan oerban yang membalut kepalanya, ingatannya kembali kepada kejadian tadi malam, di mana tiba-tiba saja Freya yang sadar langsung memukul kepalanya dengan vas bunga, juga membekap wajahnya dengan bantal. Lalu keluarganya Freya dan Arby datang. Freya mengambil pisau buah yang ada di atas nakas, kemudian mengayun-ayunkan pisau itu kepada orang-orang yang ada di hadapannya.
"Ini semua gara-gara kalian. Kalian menghancurkan masa depanku. Membusuklah kalian di neraka!"
Arlan dan Wildan berusaha mengambil pisau yang ada dalam genggaman Freya. Lengan mereka terkena sabetan pisau Freya, namun masih tetap berusaha mengambilnya.
"Mati saja kalian!"
"Freya, tenanglah! Kita bicarakan baik-baik."
"Bicara saja kalian pada malaikat maut!"
Freya lalu menusuk Wildan, menekan pisau itu lebih dalam lagi. Ami dan Elya berteriak histeris. Elya yang melihat Freya tidak fokus, berusaha mengambil pisau itu, tapi Freya yang sudah terbiasa waspada saat berlatih bela diri, langsung menancapkan pisau itu berkali-kali pada Elya.
Freya menangis dan berteriak, sesekali tertawa, tidak lama kemudian dia pingsan dengan masih teap menggenggam pisau yang telah dinodai darah orang-orang dewasa itu.
Arby langsung mencoba bangkit, karena dia tidak melihat siapapun di ruang rawatnya. Bagaimana keadaaan maminya? Bagaimana keadaan papa Freya? Juga bagaimana keadaan Freya?
Apa mereka selamat?
Apa polisi telah menangkap Freya?
Apa papi dan mamanya Freya juga dirawat karena ikut terluka?
Apa kabar tentang penusukan keluarga Abraham dan Zanuar sudah diketahui oleh orang-orang?
Apa orang-orang telah tahu bahwa dia dan Freya dinikahkan di usia dini?
Apa orang-orang akan menghujatnya karena telah menodai istrinya sendiri?
Apa
Apa
Dan apa
Sebelum kakinya menginjak lantai, pintu kamarnya terbuka. Dokter Amir dan papinya masuk dengan wajah lelah.
"Pi?"
"Arby, kamu sudah sadar?"
"Pi, bagaimana keadaan mami dan papa?"
"Mereka tadi malam sudah menjalankan operasi dan saat ini keduanya masih dirawat di ruang ICU."
"Lalu Freya?"
"Dia masih belum sadarkan diri, dokter sudah memberikan obat bius padanya."
Arby menghela nafas. Dia melihat wajah papinya yang terlihat sendu. Dia juga teringat kejadian tiga malam yang lalu, seandainya dia tidak emosi lalu menodai Freya, mungkin kejadian buruk seperti ini tidak akan terjadi.
Tapi suruh siapa dia memancing emosiku? Apa hebatnya si Coco, Coco itu? Cih! Aku lebih tampan dan kaya. Selama ini mana ada perempuan yang nolak aku. Lihat saja, aku pasti bisa menyingkirkan si Crocodile itu! Ini bukan masalah cemburu, tapi harga diri. Cemburu hanya berlaku untuk mereka yang tidak percaya diri. Lagi pula untuk apa aku cemburu? Bisa besar kepala, dia!
Tetap saja dia tidak mau mengakui kesalahannya. Baginya, apa yang dia inginkan harus dia dapatkan. Sebagai anak laki-laki, apalagi anak semata wayang, mudah bagi dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Pernah saat dia SMP, seseorang membuatnya kesal, lalu hari itu juga orang yang membuatnya kesal itu langsung dikeluarkan dari sekolah. Namun tidak ada yang tahu bahwa dialah yang menyebabkan teman satu sekolahnya itu dikeluarkan.
Begitulah Arby, dengan segala keegoisannya.