
Sebelumnya, aku mau ngucapin kepada semua yang sudah membaca cerita Akibat Pernikahan Dini hingga tamat dan berlanjut ke seri kedua.
Thanks buat yang sudah dan masih menjadikan cerita ini favorit, kasih like, komentar, vote, hadiah, bintang lima.
Tolong dukung juga Jarak dan Arrogant Wife (status: tamat), ya.
❤Tanpa kalian, apalah aku❤
Happy reading
.
.
.
.
"Papi, bertahanlah," isak Yuri di luar pintu kamar operasi.
"Puas kamu Yuri, sudah membuat papi dan mami kecewa dan malu?" bentak maminya.
"Maafkan Yuri, Mi."
"Tan, aku juga minta maaf."
Deo benar-benar merasa bersalah dan kasihan melihat Yuri yang dimarahin habis-habisan oleh maminya.
"Puas kamu sudah merusak anak saya?"
"Tolong maafkan saya, Tan."
"Berdoa saja semoga suami tante bisa selamat, agar kalian bisa meminta maaf langsung kepadanya."
"Saya janji, Tan, akan melakukan apa saja agar om dan Tante mau memaafkan saya."
"Kamu puas, Deo, sudan membuat mommy dan daddy malu? Apa selama ini mommy dan daddy terlalu memanjakan kamu hingga kamu berbuat seenaknya, memberi aib untuk keluarga hingga melakukan pergaulan bebas? Sekarang om Marteen harus masukmrumah sakit!"
Ray sangat marah pada putranya itu.
"Bukan begitu, Dad, mom, Tan, sebenarnya Deo ...."
Pintu ruang operasi terbuka, dokter laki-laki seumuran Marteen ke luar dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Bagaimana, Dok?"
"Operasinya berjalan dengan lancar, hanya saja tuan Marteen ...."
"Papi saya kenapa, Dok?"
"Kondisinya sangat lemah. Berdoa saja semoga beliau bisa segera pulih. Kalian bisa membesoknya nanti setelah dipindahkan ke ruang perawatan."
Ara (istri Marteen) menangis, tubuhnya terguncang, merasa berat menghadapi ujian yang sedang menimpa dirinya dan suami tercinta.
.
.
.
"Ini semua gara-gara lo, papi gue sampai kena serangan jantung."
"Maafkan gue, Kate."
"Jangan panggil gue, kate."
"Iya, iya, Yuri."
Yuri masih menangis di taman rumah sakit. Maminya masih mohok bicara dengannya, sedangkan papinya juga belum sadar.
"Kita makan dulu, yuk."
"Lo kira gue masih selera makan?"
"Lo tetap harus makan, kalau lo sakit, nanti gimana sama mami lo? Siapa yang akan membantu merawat papi lo?"
Akhirnya Yuri mau juga makan. Deo mengajak Yuri makan di kafe dekat rumah sakit. Deo juga membelikan Yuri es krim, agar gadis itu bisa sedikit merelakskan dirinya.
.
.
.
.
Mereka kini ada di dalam ruang perawatan. Tadi malam mereka menginap di rumah sakit. Ruang VVIP ini seperti hotel yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan tempat tidur untuk keluarga pasien.
Perlahan mata Marteen terbuka.
"Pi, Papi sudah bagun?"
Mereka mendekati Marteen dengan perasaan lega. Ray menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Pi, apa yang Paoi rasakan?"
"Biar pak Marteen saya periksa dulu."
Dokter mulai melakukan pemeriksaan.
"Kondisi pak Marteen sudah mulai stabil. Di jaga terus emosinya, ya. Jangan samlai drop lagi. Juga jangan biarkan pak Marteen berpikir terlalu keras dan mengguncang perasaannya. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Pi, tolong maafkan Yuri, Pi. Maafkan Yuri yang sudah mengecewakan papi."
"Yu ... Yuri ...."
"Iya, Pi?"
"Yuri mau kan, nurut apa kata Papi?"
"Iya, Pi."
"Me ... menikahlah dengan pria ini sekarang. Papi mau dia bertanggung jawab dengan kamubdan bayi kamu. Papi tidak ingin kamu nanti menanggung malu. Kasihan bayi ini jika lahir tanpa ayahnya."
"To ... tolong Yuri. Papi tidak tahu sampai kapan Papi hidup. Papi ingin menikahkan kamu."
"Yuri, tolong penuhi keinginan papi kamu!"
"Deo, kamu harus bertanggung jawab. Ingat kan apa yang kamu janjikan sevekumnya, kalau kamu akan melakukan apapun yang diminta om Marteen agar beliau mau memaafkan kamu?"
"I ... iya, Dad. Deo akan menikahi Yuri."
Duh, kenapa jadi begini, sih?"
"Yuri?"
"Ka ... kalau begitu, menikah lah ... sekarang juga!"
"Sekarang?" tanya Yuri dan Deo bersamaan.
"Kalau begitu biar aku yang urus. Aku akan mencari penghulu, dan sebagai saksinya adalah dokter."
Ray langsung gerak cepat, kurang dari satu jam kemudian dia sudah datang bersama penghulu dan beberapa orang dokter.
Dia juga memberikan sepasang cincin dan menyebutkan mahar yang harus diberikan oleh Deo kepada Yuri.
Penghulu memulai proses ijab kabul.
"Sah," ucap dokter-dokter yang menjadi saksi.
Proses ijab kabul ini juga telah divideokan untuk bukti bahwa mereka telah menikah sah secara agama.
Deo dan Yuri saling memasangkan cincin.
"Kyaaaa ... Ray, sekarang kita sudahbjadi besan benaran."
"Iya, Mar."
Marteen langsung turun dari di atas brankarnya. Dia dan Ray berpelukan, begitu juga dengan Ara dan Mina (mami Deo), merema loncat-loncat bagai anak perawan yang baru saja ditembak oleh sang gebetan.
"Tu ... tunggu dulu. Ini sebenarnya ada apa, sih?" tanya Yuri.
Dia san Deo berpandangan dengan tatapan bingung.
"Papi bukannya habis operasi jantung?"
"Sejak kapan papi punya lenyakit jantung?" tanya Marteen.
"Kemarin, kan, papi kena serangan jantung di mall."
"Iya, papi kemarin pura-pura kena serangan jantung. Biar kalian bisa kami nikahkan."
"Jadi kalian nipu kami?"
"Lah, kan kalian sendiri yang nyari gara-gara. Segala ngaku kalau Yuri hamil."
"What? Ja ... jadi kalian tahu kalau Yuri enggak hamil?"
"Ya tahu, dong."
"Terus kenapa kalian maksa kami nikah?" tanya Yuri.
"Kan kalian memang sudah kami jodohkan, tapi kalian sama-sama kabur."
"Hah?"
"Jadi calon suamiku itu, Deo?"
"Jadi Yuri yang mau dinikahkan denganku?"
"Iya," jawab mereka berempat.
"Bisa-bisanya paoi bohongin aku, pura-pura serangan jantung."
"Loh, kan papi hanya ngikuti permainan kalian saja."
Empat orang tua yang masih terlihat muda, ganteng dan cantik itu hanya terkikik.
"Jadi kalian semua bersandiwara?"
"Iya," kembali mereka berucap dengan kompak.
"Bisa-bisanya mami pura-pura nangis dan marah-marah sama aku."
"Kan harus totalitas, Sayang."
Yuri manyun, kesal dengan sikap mereka.
"Tapi dari mana kalian tahu kalau aku tidak hamil?"
"Ya tahu lah, mana mungkin Yuri hamil, apalagi karena Deo. Kalian kan di sekolah ribut mulu, saingan terus soal nilai."
"Kok tahu?"
"Ya tahu lah, kan kami mengawasi kalian."
"Kenapa enggak bilang daribawal kalau Deo yang dijodohkan sama aku?"
"Ya kalau mami sama papi bilang dan memlertemukan kalian sebelum hari H, bisa-bisa kalian menolak dan malah kabir dari rumah dan sekolah."
"Pas hari H saja kalian sama-sama kabur," sambung Ray melanjutkan perkataan Marteen.
"Katanya calon suamiku wakil CEO?"
"Loh, benar, kan? Kan daddynya Deo itu, CEO. Deo kan wakil daddynya, berarti wakil CEO, dong."
"Ish, ini semua tuh gara-gara lo, tahu! Coba kemaren lo di mall enggak asal ngomong kalau gue hamil."
"Gue kan enggak bilang kalau lo hamil. Gue hanya bilang yang ada di dalam perut lo."
"Heleh, dari perkataan lo, orang-orang juga bakalan ngira kalaj gue hamil, tahu."
Yuri langsung menarik-narik rambut Deo.
"Aw, sakit. Simpan tenaga lo buat entar malam."
"Emang kenapa entar malam?"
"Malam pertama kita, buat *** *** iya iya nganu-nganu."
"Kyaaa, dasar mesum."
Marteen, Ara, Ray dan Mina tertawa melihat sepasang suami istri dadakan itu.
Bisa-bisanya mereka terjebak dengan akting para raja dan ratu drama itu, yang tidak lain adalah orang tua mereka sendiri. Untung yang ditipu anak sendiri, bukan orang lain.
"Jadi papi enggak operasi?"
"Terus ngapain berjam-jam di ruang ooerasi?"
"Tidur."
"Kamu enak, Mar, tidur. Lah kami harus pura-pura sedih dan nahan lapar."
Marteen hanya tertawa.
"Memang boleh ruang operasi dioakai buat tidur?"
"Ini kan rumah sakit mertua kamu, Yuri. Jadi bebas-bebas saja. Dokter juga sudah diberi tahu oleh Ray."
"Dih, mentang-mentang papi dulu cita-citanya jadi artis tapi enggak kesampaian, sekarang malah berakting buat nipu anak sendiri."
"Biarin. Tadinya papi masih mau pura-pura belum sadar. Tapi papi pengen banget makan ayam goreng."