Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
33 Grup Baru Membawa Bencana


Mereka hanya bisa menghela nafas dengan sikap Yuri yang masih ngambek karena gagal liburan ke luar negeri. Selain itu tentu saja ada hal lain yang membuat Yuri kesal tapi idak mengatakannya pada siapa pun, kecuali pada tersangka utama yang menjadi dalangnya.


"Kamu sudah melihat aku naked."


"Kan sama, kamu juga sudah lihat aku naked." Deo tidak mau kalah.


"Kan kamu duluan yang mulai."


"Karena aku yang mulia, jadi aku yang duluan udahan."


Yuri yang kesal melempar Deo dengan boneka gorila.


"Maaf, Yuri. Aku sama sekali tidak bermaksud mempermainkan kamu. Lagian kan kita sudah menikah, bukannya pacaran. Kalau pacaran, bolehlah kamu merasa terhina."


Tentu saja kejadian malam itu membuat Yuri malu. Dia yang sudah naked tapi malah gagal melakukan malam pertama karena bingung. Lebih tepatnya mereka berdua yang sama-sama bingung.


"Nanti deh, aku tanya dulu sama teman aku yang pernah nonton film 21+, gimana caranya."


"Gara dan Qavi?"


"Hmmm ... enggak tahu juga deh, coba aku tanya dulu."


Tapi Deo yang super simple itu, malah membuat grup baru yang isinya hanya kaum cowok saja. Semua cowok di kelasnya dia masukkan ke grup.


[Woi, siapa yang sudah pernah nonton film 21+]


[Aku polos, aku enggak tahu apa-apa]


[Gue gue gue ... gue belum pernah.]


[Gue hampir, tapi keburu emak gue datang.]


[Kenapa tanya-tanya? Mau bikin layar tancap film 21+, ya?]


[Taubat woy!]


[Halah, sok polos.]


[Yuk, nonton.]


[Enggak ah, takut ketahuan bunda aku.]


Deo membaca satu persatu pesan dari teman-temannya. Sampai yang terakhir dia baca, tidak ada yang bilang kalau mereka sudah pernah nonton. Entah memang belum pernah nonton, atau terlalu malu untuk mengakui aib sendiri.


Akhirnya grup dadakan itu menjadi sarana untuk menjadi curhatan kaum cowok kelas itu. Deo menghela nafas, kenapa jadi seperti ini.


Tidak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi, sebuah notifikasi dan pesan baru masuk.


Rizki telah menambahkan anda ke dalam grup CuMi GoReng SamBal BaLado


Cumi goreng sambal balado? Apa itu?


Pembicaraan di grup itu kembali dimulai, membuat Deo geleng-geleng kepala. Beberapa menit kemudian, sebuah video masuk ke ponselnya.


Video film anak-anak.


Deo mendengkus melihat video itu, lalu meletakkan ponselnya di atas kasur, kemudian pergi ke kamar mandi.


Yuri yang baru saja masuk ke kamar, melihat ponsel Deo yang sepertinya ada suara-suara. Dilihatnya ponsel itu, dan langsung dilemparkannya kembali dengan kencang sampai mengenai kaki Deo dan ....


krak ....


Ponsel itu terinjak dan pecah


"Aaa ... Yuri! Apa-apaan sih, ponsel gue kenapa dilempar, keinjak, kan. Hancur, kan!"


"Aaa ... Deo, berani-beraninya kamu nonton film bokep. Mataku ... mataku ternoda!"


"Film bokep? Enggak ada. Jangan asal nuduh, deh."


"Tuh, yang ada di grup Jengkol Balado Tumis Pete."


"Cumi goreng sambal balado, kali."


"Enggak tahu, ah. Nanti gue kasih tahu papi mami mommy daddy, loh."


"Jangan Yuri, aku kan memang enggak tahu apa-apa. Orang lagi di kamar mandi."


Yuri diam sja, melewati Deo dan ....


Krak


Kembali terdengar suara ponsel yang terinjak.


Deo memandang pasrah pada ponselnya yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi itu.


Mungkin saja ponselku sedang kena azab, karena sudah tidak suci lagi.