
Deo melihat Yuri yang terlihat lemah. Sejak tadi gadis yang mengaku polos sepolos kertas HVS yang baru keluar dari pabrik itu tak banyak bicara. Kepalanya bersandar di meja, dengan tangan yang mengusap perut.
Deo mendekati Yuri.
"Kate, lo enggak lagi hamil, kan?" bisik Deo.
Yuri tak ingin menanggapi perkataan Deo, meskipun mulutnya sangat gatal ingin membalas. Tapi apalah daya, sakit di perutnya sangat menyiksa.
"Yuri, ayo kami antar ke UKS," ucap Chia.
Yuri mengangguk, Chia dan Airu langsung memapah Yuri ke UKS, setelah itu mereka berganti baju untuk mengikuti pelajaran olah raga.
Pelajaran olah raga di mulai, kali ini mereka olah raga basket.
"Gue ke toilet dulu."
Deo pergi begitu saja, namun bukannya ke toilet, dia malah ke UKS. Dilihatnya Yuri yang memejamkan mata namun terlihat meringis.
"Yuri, lo enggak apa?"
Yuri membuka matanya.
"Ayo pulang."
Deo ingin menggendong Yuri.
"Lo mau gue gendong kaya gimana? Koala, pengantin baru, karung beras, atau bakul jamu?"
"Deo, jangan mulai deh. Pulangkan saja aku pada ibuku, atau ayahku ...."
"... Dulu segenggam emas kau pinang aku ...
Dulu bersumpah janji di depan saksi, uwo-uwo ...
Namun semua hilanglah sudah ditelan dusta, uwo-uwo ... Namun semua tinggal cerita hati yang luka ...." sambung Deo menyanyikan lagu jadul berjudul Hati Yang Luka milik Betharia Sonata.
"Ish, Deodaran. Jangan nyanyikan lagu itu. Itu lagu galaunya mami gue kalau lagi berantem sama papi."
"Sama, mommy gue juga doyan sama lagu itu. Terus lagu kebangsaannya daddy gue nih,
...🎵🎵🎵...
Sudah bertahun-tahun
Aku hidup di perantauan
Meninggalkan cintaku
Jauh dari kampung halaman
Aku galau, aku galau
Jauh dari dirimu
Oh ...
Karena nasib belum menentu
Pada siapa aku mengadu?
Karena nasib belum menentu
Pada siapa aku mengadu?
Sudah bertahun-tahun
Aku hidup di perantauan
Aku terus berjuang
Pantang pulang sebelum menang
Oh ....
Tapi 'ku galau, aku galau
Jauh dari dirimu
Oh ....
Karena nasib belum menentu
Pada siapa aku mengadu?
Karena nasib belum menentu
Pada siapa aku mengadu?
Tak pulang rindu
Sudah lama kutinggalkan kampung halaman
Pergi pagi pulang pagi kulakukan
Wahai kawan rekan seperjuangan
Yang bernasib sama, joget yuk, nikmati aja
Rindu
(Mau pulang malu, mau pulang malu)
Mau pulang, malu, tak pulang rindu
Karena nasib belum menentu
Pada siapa aku mengadu?
Karena nasib belum menentu
Pada siapa aku mengadu?
Tak pulang rindu
(Mau pulang malu, mau pulang malu, tak pulang, lang, lang)
Tak pulang rindu
...🎵🎵🎵...
Deo bernyanyi, sedangkan Yuri joget-joget di atas brankar UKS.
"Emang gaya-gayaan tuh, Daddy gue. Bertahun-tahun hidup di perantauan gimana? Tiap siang juga pulang ke rumah, terus minta dikelonin sama mommy."
"Ck, orang tua kita kenapa sifatnya sama gitu, ya?"
"Jangan-jangan ...."
"Mereka kembar yang terpisahkan."
Di empat tempat yang berbeda, mommy dan daddy Deo, juga mami dan papi Yuri lagi bersin-bersin.
Emang dasar anak durhaka, doyannya ghibahin orang tua.
Kembali ke Deo dan Yuri
Perut Yuri tiba-tiba sakit kembali.
"Ya udah yuk, pulang."
"Dari tadi ngajakin pulang tapi malah nyanyi," ucap Yuri sambil memanyunkan bibirnya.
"Bisa enggak, tuh bibir dilaminating. Tadi pagi aja, enggak mau diajak kenalan sama Beo."
Deo menggendong Yuri dengan cara bridal style. Yuri melingkarkan tangannya di leher Deo sambil senyum-senyum.
"Awas, jangan raba-raba dada gue!"
"Aaaa, senangnya, akhirnya gue bisa ngerasain juga digendong bridal style kaya drama-drama Korea itu."
"Dasar norak!"
Padahal dalam hati Deo, dia juga berpikir ternyata begini toh rasanya gendong cewek.
Deo memasukkan Yuri ke dalam mobil.
"Tunggu di sini, gue mau ambil tas lo dulu."
Sekitar sepuluh menit Deo baru tiba di parkiran.
"Lama amat?"
"Kan gue harus ngurus surat perizinan dulu."
"Gaya lo, surat perizinan."
Dua puluh menit kemudian mereka tiba di rumah. Deo kembali menggendong Yuri yang tertidur di dalam mobil.
Perlahan ditaruhnya tubuh Yuri yang cukup berat, kebanyakan dosa ghibahin orang tua mungkin, pikir Deo. Padahal dirinya sendiri sebelas dua belas dengan Yuri.
Gue gantiin aja kali, ya, bajunya? Eh, tapi nanti Beo ngambek lagi. Beo yang ngambek, gue yang stres.
Akhirnya, dengan setengah hati, Deo meminta bibik yang gantiin baju Yuri.
Siang harinya, mertua perempuan satu-satunya Deo datang.
"Mami mertua semata wayangku yang paling cantik, gimana kabarnya, Mi?"
"Ih, Deo, muji-muji, pasti ada maunya, ya?"
"Mami mertua memang paling the best deh, tahu aja."
"Kamu mau apa, ganteng? Mami pasti ngasih apa yang kamu mau," tanya mami sambil mencolek dagu Deo.
"Deodoran, lo kaya berondong yang digodain tante-tante."
Mina, mommynya Deo langsung tertawa mendengar celetukan Yuri yang tengah memperhatikan suami dan maminya itu.
"Sudah Deo, jangan dengerin Yuri. Dia memang istri durhaka."
Deo serasa mendapat angin segar karena dibela oleh mertuanya.
"Ngomong-ngomong, ini mami bawa obat buat kamu. Maaf ya, mami kelupaan."
Mami mengusap wajah putri cantiknya itu.
"Deo?"
"Iya, Mi?"
"Tolong ya, kamu rawat Yuri. Tiap bulan Yuri memang seperti ini."
"Maksudnya?"
"Setiap bulan, sebelum datang bulan, Yuri pasti keram. Bukan hanya perutnya saja, tapi juga paha, betis, lutut dan telapak kakinya pasti sakit. Sakitnya bisa sampai satu minggu dan hilang timbul, hilang timbul."
Deo jadi ingat, Yuri terkadang memang suka tidak masuk sekolah tiap bulannya.
"Oya, Mi. Tadi malam juga dia kesakitan."
"Terus kamu kasih apa?"
"Ya aku kasih doa, Mi. Semoga dimudahkan jalannya."
Yuri langsung menoyor Deo.
"Lo doakan gue ko'it? Kalau gue ko'it, lo jadi duda. Duda perjaka lagi, kasihan banget."
"Ya udah yuk, kita bikin baby dulu."
Mina dan Ara cekikikan melihat lasangan muda itu.
"Dah, ini mami sudah bawakan makanan dari rumah."
Mereka makan bersama, sambil sesekali diselingi canda tawa.
Setelah makan, mareka berkumpul di ruang keluarga.
"Minum dulu obatnya, Ri," kata mami.
Yuri meminum obat itu, lalu meletakkan gelas air putihnya di atas meja, kemudian mengusap pelan perutnya. Deo yang tak tega melihat Yuri, langsung mendekatiny.
"Dede, yang baik, ya. Kasihan bunda kesakitan, kamu jangan nakal di dalam perut bunda," ucap Deo sambil mengelus-ngelus perut Yuri, dan kepalanya di tempelkan di perut itu.
"Perut gue lagi keram datang bulan Deodoraaannn, bukannya lagi tekdungggg. Mami, aku pulang ke rumah mami aja, ah. Kesabaranku selalu diuji di sini."