Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
34 Antara Nyata Dan Ilusi


WARNING!


MENGANDUNG UNSUR KEKERASAN.


HARAP BIJAK!


⚑


⚑


⚑


Freya membuka matanya, berteriak ketakutan dan berusaha melepaskan infus di tangannya.


"Hey, tenanglah!"


Pria berseragam putih itu mendekati Freya, dan mencegahnya untuk melepaskan infusnya dengan cara yang brutal.


"Dok, Dokter ... a ... aku sudah membunuh. Aku membunuh orang!"


Kembali dia berteriak histeris. Suaranya bergetar dengan air mata yang mengalir.


"Membunuh?"


"Iya."


"Siapa yang kamu bunuh?"


"Mereka! Aku memukul bajingan itu dengan vas bunga. Juga menusuk, entah siapa dan berapa orang. Apa orang tua pria itu? Atau orang yang statusnya di kartu keluarga sebagai orang tuaku. Aku tidak tahu. Tapi aku sudah menusuk beberapa orang."


Freya menggigit jarinya, dan sebelah tangannya yang diinfus menjambak rambutnya sendiri.


"Tenanglah, Nak. Kamu tidak melukai atau membunuh siapa pun."


Dokter itu menenagkan Freya yang berusaha memberontak. Kakinya dihentak-hentakkan ke brankar. Dokter dan beberapa perawat nampak kualahan menangani Freya yamg tidak terkendali.


"Tapi, Dok ...."


"Coba lihat, di sini ada mereka. Mereka baik-baik saja, kan?"


Mata Freya kini melihat bahwa ada Arby beserta kedua orang tuanya, juga orang tua Freya. Mereka terlihat baik-baik saja.


"Mereka masih hidup?"


Freya berhenti memberontak, namun sekarang menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.


Dokter dan kedua orang tua Arfrey (Arby Freya) juga Arby saling memandang heran. Bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan Freya.


Freya terlihat syok dan bingung sekaligus.


"Tentu saja mereka baik-baik saja."


Freya lalu menghela nafas, tangannya mencengkram erat lengan dokter itu, membuat sang dokter harus menahan ringisan.


"Sayang sekali, padahal aku berharap mereka memamg telah berkumpul di neraka!"


Mereka kembali saling memandang, terlihat cemas akan keadaan Freya.


Melihat keadaan Freya yang terlihat cukup berbeda, dokter akhirnya memberikan obat bius kepadanya. Reaksinya cukup cepat, karena tidak lama kemudian Freya mulai memejamkan matanya.


"Saya rasa psikisnya mengalami guncangan berat. Dia harus ditangani oleh psikiater yang handal, atau akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain."


🌿🌿🌿


Setiap malamnya, Freya selalu bermimpi bahwa dia telah membunuh atau minimal melukai orang-orang. Terkadang dia mencekik orang itu dengan kedua tangannya. Ada kalanya dia membekap wajah mereka dengan bantal agar kehabisan oksigen. Bahkan dia menjerat leher seseorang dengan selang infus.


Freya sudah tidak tahu lagi mana yang nyata mana yang hanya ilusi, baginya semua sama. Bahkan dalam mimpi itu, dia ingat bahwa dia melukai dirinya sendiri, namu saat terbangun,dia melihat kalau dirinya madih baik-baik saja. Tidak ada luka sedikit pun, membuatnya merasa kecewa.


Namun hati dan pikirannya menolak kalau semua itu hanya ilusi. Dia masih dapat merasakan saat darah segar dan kental mengalir di tangannya, mendengar suara jeritan dan ketakutan orang-orang yang ada di dekatnya.


Freya ingin melarikan diri dari rumah sakit, atau setidaknya menghubungi Nania atau Mico untuk menolongnya. Namun setiap kali ingin kabur, selalu gagal.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Prang


Pecahan-pecahan kaca berhamburan di lantai kamar mandi. Freya memungut salah satunya, yang terlihat paling tajam dan menyakitkan jika pecahahan kaca itu digoreskan pada kulit.


Sret


Tes


Sret


Tes


Sayatan yang kemudian dilanjutkan dengan darah yang mengalir.


Brak!


"Freya!"


Arby menghampiri Freya yang tubuhnya sudah melemah dengan darah berceceran di lantai. Bahkan Freya mengusap darah itu ke wajahnya. Berusaha mencium bau anyir dan merekamnya baik-baik di memori terdalamnya, menyakinkan dirinya bahwa kali ini dia tidak sedang berhalusinasi.


Arby memeluk tubuh Freya. Tubuh lemah yang semakin kurus itu tak bereaksi, namun madih tetap sadar. Pemuda itu menggendong Freya, meletakkannya di brankar dan segera memanggil dokter.


"Sebaiknya dia di rawat di rumah sakit jiwa, jika tidak, dia akan terus menyakiti dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya."


Freya masih mendengar percakapan itu, sebelum akhirnya kesadarannya menghilang dengan meninggalkan satu pertanyaan.


Apa aku gila?


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sekali lagi Freya terbangun, dalam keadaan baik-baik saja.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga."


Dokter bernafas lega.


"Apa yang terjadi, Dok?"


"Kamu tidak tidak bangun-bangun selama dua minggu, Frey."


Freya melihat wajah Nania yang sembab.


"Dua minggu?"


"Iya. Bahkan aku tidak diizinkan menjengukmu, karena keadaanmu sempat memburuk. Kondisimu baru membaik tadi pagi, dan aku baru diizinkan melihat keadaamu lagi."


Freya mencoba mencerna, apa selama ini dia koma? Lalu yang terjadi selama ini, itu apa?


"Nan, aku sudah membunuh seseorang."


"Hah?"


"Aku membunuh pria itu dan beberapa orang."


Nania mengernyitkan keningnya. Dia lalu melihat Arby yang keadaannya baik-baik saja tanpa luka sedikit pun.


"Kamu pasti membencinya, aku pun begitu. Dia memang bajingan yang layak dibunuh, tapi sayangnya itu tidak terjadi. Makhluk ini ternyata masih hidup. Ck, semoga saja dia ditabrak mobil."


Marcell, Vian, Ikmal, dan Aruna. Mereka menelan saliva sambil menahan nafas. Bisa-bisanya Nania berkata seperti itu di hadapan orang tua Freya dan Arby.


Freya kembali dibingungkan. Apa benar dia selama ini tidak sadarkan diri dan bermimpi?


Freya melihat pisau buah di atas nakas. Dia langsung memotong urat nadinya.


"Arrrrgg ... Freya!"


Nania menjerit ketakutan. Dia dan Aruna berpelukan, sedangkan Marcell, Ikmal dan Vian berusaha menenangkan kedua gadis itu.


Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu terlihat syok. Untung saja masih ada dokter di sana, jadi bisa langsung melakukan pertolongan.


🌿🌿🌿


Sekali lagi Freya terbangun, dia meringis menahan sakit. Seseorang langsung memeluk tubuhnya sambil menangis dengan tubuh yang gemetar.


"Jangan seperti itu lagi, Freya. Aku takut!"


"Nania?"


"Jangan lukai dirimu sendiri!"


"Jangan takut, Nan. Ini semua hanya mimpi, aku baik-baik saja kok."


Nania menyentil kening Freya.


"Mimpi mbahmu!"


Freya mengusap keningnya yang sakit akibat sentilan Nania.


"Jangan berusaha bunuh diri lagi."


"Memangnya kapan aku bunuh diri? Paling hanya mimpi."


Nania lalu menunjukkan pergelangan tangan Freya yang diperban, membuat Freya membelalakan matanya.


"Ini ... ini nyata?"


"Sebaiknya kamu istirahat saja Freya. Kondisimu belum stabil."


Freya memandang ke sekeliling, melihat orang-orang itu yang masih komplit.


Yang dia pikir nyata, ternyata hanya mimpi.


Yang dia pikir mimpi, ternyata memang nyata.


Freya masih bisa merasakan rasa nyeri di pergelangan tangannya. Matanya terpejam, lalu terbuka, terpejam lagi, lalu terbuka lagi. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini memang nyata, bukan hanya halusinasi.


Tapi kenapa semua mimpi itu terasa nyata? Tapi Arby dan yang lain terlihat baik-baik saja. Bahkan aku terbangun di rumah sakit biasa, bukan rumah sakit jiwa. Nania juga terlihat bingung dengan perkataanku kalau aku telah membunuh.


Nania menatap iba pada sahabatnya itu, lalu menatap benci pada Arby.


"Ini semua gara-gara lo. Kalau sampai Freya kenapa-kenapa, gue yang akan mewakili dia ngebunuh lo. Sayang Freya hanya mimpi. Andai saja semua itu benar, gue orang pertama yang mendukung perbuatannya, bahkan akan menjadi saksi untuk membelanya."