Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
32 Gagal


Akhirnya, mereka tiba di Jakarta dengan selamat dan sehat, tanpa kekurangan suatu apa pun kecuali uang mereka yang hanya tinggal recehan saja.


"Aku capek, tapi senang," ucap Yuri.


"Apalagi malam pertama, capek tapi senang," sahut Deo dengan cengiran mesum menyebalkan.


Yuri mengerjap-ngerjapkan matanya, mencerna perkataan Deo.


"Oma, mami, papi, kata Deo, malam pertama itu capek tapi senang. Benar, gak?" Deo langsung mendapatkan pelototan dari mereka, sedang Yuri langsung kabur membawa cemilan yang dia pegang.


"Kate sialan, awas kamu ya. Nanti aku nagih anak baru tahu rasa kamu!" teriak Deo.


Pluk


Deo langsung mendapatkan pukulan di lengannya.


"Jangan teriak-teriak, nanti calon anak kamu malu."


Deo berdecak kesal, melihat istrinya yang malah sibuk ngemil tanpa peduli dengan dirinya.


"Kapan aku bisa punya anak?" gumam Deo.


"Sekolah dukun yang benar, baru mikirin anak," sahut mami yang mendengar perkataan Deo.


"Sekolah dulu yang benar, baru dinikahin."


Mami hanya tertawa mendengar perkataan Deo.


"Kamu kan masih muda, jangan pusing mikirin belum punya anak."


"Aku tuh enggak pusing mikirin anak, Mi."


"Terus?"


"Pusing mikirin buat anaknya. Kan penasaran aku." Deo langsung kabur sebelum kena geplak.


Rencana hanya bisa direncanakan, Deo yang tadinya akan berlibur ke luar negeri bersama Yuri, jadi batal. Kedua orang tua mereka beserta kakek nenek mereka harus pergi ke luar negeri karena ada urusan penting, dan mereka harus tetap ada di Jakarta.


Malam semakin larut, mereka masih sibuk dengan laptop masing-masing. Deo yang sibuk dengan pekerjaannya, karena gitu-gitu juga dia sudah belajar mengurus perusahaan.


Yuri juga sibuk nonton film yang menampilkan banyak oppa ganteng itu. Deo menutup laptopnya, lalu mendekati Yuri. Dilihatnya wajah Yuri yang cantik alami. Tanpa aba-aba, Deo langsung mencium bibir Yuri.


"Apaan sih, Deo." Deo tidak menjawab, dan kembali mencium Yuri. Kegiatan itu terus berlanjut hingga akhirnya mereka akan melakukan hal itu untuk yang pertama kalinya.


"Kok susah, sih?"


"Mana aku tahu? Kamu kali yang enggak benar."


"Dibuka dulu kali ya, jahitannya?"


"Sembarangan, kamu kira baju?"


"Deo msh nyebelin. Tanggung jawab, gak!"


"Kalau dipaksa, nanti kamu berdarah gimana, coba?"


"Kamu bikin aku pusing."


"Lah sama, aku juga pusing."


Akhirnya malam itu gagal karena dua-duanya yang masih sama-sama polos.


"Sudah dong, jangan ngambek lagi. Maaf deh. Atau gini saja, gimana kalau kita nonton film 21+ dulu?"


"Enak saja. Aku enggak mau ya, kamu lihat perempuan lain naked."


"Aku juga enggak mau kamu lihat cowok lain naked."


"Terus kenapa tadi suruh nonton?"


"Hehehe. Gimana kalau gini, besok kan orang tua kita pulang, kamu tanya ke mami, nah aku tanya ke daddy aku. Gimana?"


"Iya deh, aku tanya ke mami, kamu tanya ke daddy."


"Ya sudah, ayo kita tidur."


Deo tidur sambil memeluk Yuri. Meskipun sering bertengkar, tapi Deo sangat menyayangi istrinya itu.


Keesokan harinya, saat bangun tidur, keluarga mereka ternyata sudah ada di rumah. Orang tua Deo juga datang ke rumah besannya itu, untuk mengunjungi anak dan menantu mereka.


Deo memberikan kode pada Yuri untuk bertanya pada maminya, sedangkan di sendiri mengajak ayahnya ke taman belakang.


Saat akan bertanya, entah kenapa tidak ada satu kalimat lun yang keluar. Lalu mereka sama-sama berlari, saling mencari.


"Kamu sudah tanya?" tanya mereka bersamaan.


"Belum," jawab mereka kompak.


"Jangan tanya apa-apa." Lagi-lagi mereka kompak, dan sama-sama bernafas lega.


"Kamu kenapa enggak jadi tanya?"


"Nanti mami aku cerita ke papi dan mommy. Terus papi dan mommy pasti cerita ke daddy."


"Persis. Nanti kalau aku tanya ke daddy, pasti daddy cerita pada mommy dan papi. Mereka kan suka gosip."


"Siapa yang suka gosip?"


Mereka menoleh ke belakang, dan melihat ada papi, mami, daddy dan mommy.


"Bukan siapa-siapa." Deo dan Yuri langsung kabur, sebelum orang tau mereka memotong uang jajan.