
Tepat jam empat pagi, seorang pelayan berteriak membangunkan seisi vila. Mereka tergopoh-gopoh keluar dari kamar. Freya yang kakinya masih sakit, berjalan dengan terpincang.
Di bawah tangga, orang-orang sudah berkerumun di depan seseorang yang sudah tergeletak.
Tubuh Nuna terbaring lemah dengan kening berdarah dan tak sadarkan diri. Dokter Anwar langsung menggendong Nuna menuju kamar tamu yang ada di lantai bawah.
"Apa yang terjadi?"
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Saat saya ingin memulai pekerjaan, saya melihat nona itu sudah seperti itu kondisinya."
Mereka kembali melakukan aktivitas selagi dokter Anwar memeriksa kondisi Nuna. Sedangkan Freya yang hanya melihat dari atas, kembali masuk ke kamar bersama dengan Nania dan Aruna.
Jam lima tiga puluh mereka sudah bersiap untuk olah raga pagi bersama, sedangkan Freya hanya duduk santai di teras vila karena kakinya masih sakit.
Selama berada di sini, mereka memang dididik untuk disiplin dalam berbagai hal.
Jam tujuh tiga puluh mereka sarapan setelah sebelumnya berolah raga selama tiga puluh menit. Sejak tadi Arby terlihat gelisah, sekujur tubuhnya terasa gatal.
"Ada yang mendorongku," ucap Nuna setelah sadar.
Mata orang-orang kini menatap Freya.
"Apa? Kalian menuduhku mendorongnya?"
"Tidak ada yang mengatakan seperti itu, Freya."
"Tapi kenapa kalian langsung menatapku?"
Nania dan Aruna yang baru saja tiba setelah menyiapkan buku-buku pelajarannya, menghampiri Freya.
"Kenapa, Ya?"
"Bukan aku yang mendorongnya."
Arby menatap Freya.
"Tapi memang Freya sih, yang punya motivasi buat melakukannya," seru Vian.
Ikmal langsung membekap mulut Vian. Freya, Nania dan Aruna menatap tajam Vian.
"Heh, Arby ... waktu Freya jatuh, kamu enggak percaya kan kalau Nuna yang mendorong Freya? Apa sekarang kamu percaya kalau Freya yang mendorong Nuna?" tanya Aruna.
Secara logika apa yang dikatakan Vian tadi memang benar.
"A ...."
"Aku bilang bukan aku, ya bukan aku."
Freya benci melihat tatapan Arby itu. Dia mulai terisak dan memeluk seseorang di sebelahnya.
"Bisa saja dia sengaja mencelakai dirinya sendiri untuk mengkambing hitamkan aku dan menarik simpati kalian."
"Jangan sembarangan kalau ngomong, Freya. Untuk apa dia melakukan itu?" tanya Arby
"Enggak usah pura-pura enggak tahu, kalian memang janjian kan ketemuan di sini ngumpet-ngumpet."
"Jangan asal nuduh!"
"Freya, apa kamu punya bukti kalau mereka memang diam-diam ketemuan?"
"Kalau memang apa yang aku katakan benar, apa konsekuensinya?"
"Papi akan melakukan apapun yang kamu mau, kecuali berpisah dengan Arby."
"Oke, aku pegang ucapan, Om."
Freya langsung mengambil ponselnya ... send.
Drrrttt
Drrrttt
Drrrttt
Ponsel mereka serempak berbunyi. Foto-foto Arby saat bertemu Nuna diam-diam kemarin sore kini tersebar. Freya masih ingin mengirimkan bukti screenshoot pesan Nuna dan Arby, tapi dia tidak ingin mengeluarkannya sekaligus.
Hikssss
"Sudah aku bilang, aku tidak bohong, aku juga tidak mendorong Nuna. Bagaimana pun dia dulu sahabatku, hubungan kami rusak karena Arby ... hikss hiksss."
Orang-orang kini menatap Arby, sedangkan si tersangka tidak dapat mengelak, walaupun ingin.
Sial!
Ikmal yang ternyata dipeluk oleh Freya mengusap lembut bahu Freya.
"Iya, aku percaya ko' sama kamu," ucap Ikmal.
"Benar kamu percaya sama aku?" mata Freya tampak berbinar menatap Ikmal, dia merasa senang ada yang percaya padanya.
Plak plak plak
Arlan menampar wajah Arby.
"Kenapa kamu selalu membuat masalah, Arby? Sepertinya papi terlalu memanjakan kamu."
Di dalam pelukan Ikmal, Freya tersenyum puas.
Mampus, rasain tuh, gimana rasanya disalahkan orang tua sendiri? Ini belum apa-apanya.
Nuna yang melihat Arby ditampar oleh papinya di hadapan orang-orang, merasa tidak tega.
"Pa-padahal, saat aku jatuh kemarin, aku tidak pernah menuduh Nuna. Bisa saja aku bohong dan bilang pada orang-orang kalau dia mendorongku karena ingin bersama Arby, tapi aku tidak ingin menuduh sembarangan."
Freya semakin terisak, Ikmal membelai lembut rambut Freya, merasakan guncangan di diri Freya dan air matanya yang membasahi baju Ikmal. Dia merasa sangat iba dengan remaja perempuan yang ada dalam pelukannya itu.
"Lebih baik aku rehab di pusat rehabilitasi saja, dari pada di sini, dituduh dan tidak dipercaya, hiks."
Gila, jago juga aku acting. Apa ini faktor keturunan, ya? Bodo amat, lah, mau keturunan atau bukan, yang penting aku pemenangnya.
"Freya sayang, jangan seperti itu ya. Kami percaya sama kamu, Arby memang salah," Elya membujuk Freya.
"Jadi, kamu mau papi melakukan apa untuk kamu?"
"Aku mau Nuna dikeluarkan dari sekolah dan tidak diterima di sekolah manapun, setidaknya di Indonesia."
"Freya, jangan kelewatan kamu!"
"Tuh kan, dia lebih mentingin Nuna dari pada aku. Apa pelakor harus lebih unggul dari pada istri sah?"
Arlan berdeham
"Apa tidak ada pilihan yang lain?" tanyanya.
"Kalau gitu nikahkan saja Nuna dengan laki-laki lain, biar dia tidak selalu menjadi benalu dalam hidupku."
"Freya!" lagi-lagi Arby protes, sedangkan Nuna sudah meremas tangannya merasa cemas. Bagaimana jika dia dikeluarkan dari sekolah? Bagaimana jika dia dinikahkan dengan seseorang?
Oh, tidak!
Freya semakin memeluk Ikmal dengan erat.
Gimana rasanya melihat sahabatmu memeluk istrimu? Apa harga dirimu terinjak-injak?
"Baiklah, papi akan menikahkan Nuna dengan Ikmal."
What?
"Om, aku juga mau dinikahkan dengan Nania."
"Aku juga, sama Aruna."
Nania dan Aruna melirik tajam pada Marcell dan Vian.
Sebagian besar dari mereka merasa seperti berada di ruang hampa udara.
Tidak, tidak boleh. Di antara mereka berempat, hanya Ikmal yang kelihatannya paling lurus otaknya.
"Jangan sama Ikmal!" cegah Freya.
"Kenapa?"
"Jika renkarnasi itu ada, entah kenapa aku merasa jika Ikmal itu seseorang yang hadir di masa laluku, masa kiniku, mungkin juga dia menjadi masa depanku," jawab Freya ngasal membuat Ikmal dan Arby memerah wajahnya, sedangkan Nuna melirik Ikmal. Entahlah, mendengar perkataan Freya itu membuat dia senang.
Ikmal tanpa sadar mencubit gemas pipi Freya.
"Duh, sejak kapan Freya yang kutu buku ini bisa jadi unyu. Aku juga mau dong digombalin," kata Aruna sambil senyum-senyum sendiri.
"Dih, kamu mau digombalin sesama jenis?" tanya Nania yang merinding.
"Eh, iya ya."
"Sudah, sudah. Sekarang waktunya kalian sekolah, dan untuk Freya, kamu juga harus memulai pengobatan kamu."
Cih, ngalaihin pembicaraan. Pasti ujung-ujungnya juga enggak nepatin janji.
Freya pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Dia mengarahkan sendiri kursi rodanya yang entah dibawa oleh siapa tadi malam.
Di dalam kamar mandi.
Ck, kalian kira aku sudi menangisi perbuatan kalian? Bodo amat kalian mau pacaran kek, nikah kek.
Freya menghapus air matanya, lalu tertawa pelan saat dia meminta Nuna dinikahkan dengan orang lain.
Kalau Nuna nikah sama orang lain, bisa mati berdiri kali tuh cowok. Baru jatuh kaya begitu aja udah heboh, gimana terjun ke jurang?