Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
37 Kebun Binatang


Malam ini hujan turun dengan deras, membuat udara terasa sangat dingin. Deo merapatkan pelukannya pada Yuri saat gadis itu memeluk perutnya seperti guling bantet.


Suara petir menggelegar, membuat Yuri terpekik kaget dan mencengkram tubuh Deo dengan lebih erat lagi. Deo terbangun dari tidurnya saat merasakan kalau Beo sedang berjuang untuk melepaskan diri. Dilihatnya Yuri yang tidur dengan pulas sambil memeluknya. Tanpa pikir panjang, diciumnya istrinya itu.


Bibir Yuri seperti permen karet, yang kalau manisnya belum habis, ya jangan dilepehin dulu. Masalahnya, bibir Yuri itu bukan permen karet, jadi kapan mau dilepehin?


Yuri merasa bibirnya sedang digigit kingkong.


"Sakit, Kong," gumam Yuri.


Kong? Dia manggil aku engkong? Sialan, ganteng-ganteng begini dipanggil engkong.


Lalu Deo menggigit leher Yuri yang putih bersih itu.


Yuri merasa dirinya sedang digigit oleh serigala.


"Apaan sih, Gara!" gumamnya lagi, salah menyebut R dan L.


Gara? Apa dia pikir aku ini Gara? Sialan, jangan-jangan mereka selingkuh di belakang aku.


Lalu tangan Deo menjalar ke mana-mana, dan Yuri merasa tubuhnya seperti diubek-ubek sama buaya yang sudah siap menelannya hidup-hidup.


"Pergi kamu, buaya!"


Deo mendengkus, lalu kembali menjalankan aksinya.


Berkali-kali Yuri bermimpi digigit tawon, anaconda, dinosaurus. Entah kebun binatang seperti apa yang dimimpikan gadis itu, yang jelas Yuri sedang berdoa agar dirinya selamat sebelum ngompol.


"Yuri, bangun, aku pengen." Deo menepuk pipi Yuri.


Yuri merasa seperti ada suara mistis yang memanggilnya.


**Yuri


Yuri**


Yuri


Sialan, sekarang aku dipanggil setan.


Deo lalu mengigit bibir Yuri dengan gemas, karena sejak tadi bibir gadis itu selalu mengeluarkan kata-kata yang membuat dia gemas.


Sekarang Yuri merasa bibirnya seperti dijepit oleh perangkap tikus. Merasa tidak terima, akhirnya Yuri bangun.


"Tikus sialan, awas ya. Gara-gara kamu bibirku jati jontor!"


Deo menghela nafas, sekarang dia disamakan dengan tikus. Tapi biarlah, yang penting sekarang Yuri bangun.


"Yuri, aku pengen ...."


"Aku juga pengen. Aku pengen pipis, habis itu kita harus cari racun tikus."


Deo melihat Yuri yang terburu-buru masuk ke kamar mandi. Setelah itu dia keluar dengan perasaan lega.


Tanpa membuang-buang waktu, takut keburu istrinya itu benar-benar mencari racun tikus, Deo langsung mencium Yuri.


"De ... Deo, tunggu. Kamu mau apa?"


"Aku pengen."


"Kalau pengen pipis, ya sudah sana. Nanti ngompol di sini, bau tahu!"


"Bukan itu, tapi aku mau bikin baby."


Wajah Yuri langsung merah. Petir kembali menggelegar diiringi dengan kilat. Yuri langsung memeluk Deo, dia memang tidak suka hujan yang seperti ini, apa lagi kalau malam hari.


Deo menenangkan Yuri yang gemetaran. Dibelainya kepala gadis itu sambil sebelah tangannya juga melakukan aktivitas yang lain. Yuri terlihat menggigil, tapi matanya melirik jendela yang terlihat menyeramkan. Lalu dia memejamkan matanya, takut kalau tiba-tiba dia melihat hantu di jendela itu. Dia tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukan Deo saat ini.


Suara hujan mengiringi malam mereka saat ini. Deo memandang wajah Yuri lekat-lekat. Wajah cantik yang selalu dia lihat, bukan hanya di sekolah saja. Wajah cantik yang selalu ceria dan kadang menyebalkan dengan segala tingkah usilnya, tapi Deo suka.


"Kamu milik aku, Yuri. Selamanya!" bisik Deo dengan lembut di telinga Yuri.