
“Belajarlah untuk mengikhlaskan ....”
Irma mengelus rambut Freya di pertemuan selanjutnya, masih di rumah sakit.
“Ngomong sih gampang, Tan. Tan ....”
"Hm?"
“Tante punya anak perempuan?”
“Punya, umurnya masih sembilan belas tahun.”
“Sembilan belas tahun tante bilang masih, nah apa kabar aku yang masih enam belas tahun.”
Irma dan Surya terdiam. Benar juga, pikir mereka.
“Om dan tante tidak ada niat untuk menjodohkan anak kalian?”
Pertanyaan menjebak, lagi-lagi mereka berpikir serempak.
“Kok diam, takut ya sama jawaban kalian sendiri?”
Mereka sadar tidak boleh memberikan jawaban yang asal-asalan.
“Sebagai psikiater dan psikolog, mungkin kalian ingin menjawab bahwa tidak ingin memaksakan kehendak ke anak kalian ... atau dia berhak memilih pasangan hidup sendiri ... atau tidak ingin mereka tertekan dan merasa terpaksa menjalani semuanya dan sebagainya. Masa depan itu bagai teka-teki. Orang yang pacaran hanya ada dua kemungkinan, terus lanjut hingga ke pelaminan, atau putus dengan berbagai alasan. Begitu juga yang menikah, bisa terus lanjut hingga maut memisahkan, bisa juga cerai dengan berbagai alasan. Om dan tante tahu, salah satu alasan kenapa aku menolak pernikahan dini ini?”
Surya dan Irma diam, ini merupakan hal yang baik karena Freya mau menceritakan keluh kesahnya walau hanya sedikit.
“Karena aku tidak ingin berspekulasi tentang pernikahan ini. Aku yang sangat tahu bagaimana sifatku. Aku tidak ingin dikekang. Ada saatnya seseorang akan jatuh cinta. Lalu bagaimana jika nanti aku jatuh cinta pada orang lain, bukan Arby? Memangnya keluarga akan senang hati membiarkan kami berpisah? Ujung-ujungnya aku pasti akan selingkuh, karena aku tidak akan mengorbankan perasaan dan kebahagiaanku hanya untuk orang-orang seperti itu. Sorry dorry morry ... aku tidak sebaik itu. Bila Arby yang selingkuh, aku juga tidak akan pura-pura tidak tahu lalu meratapi nasib. Sok sabar tapi diam-diam nangis, bego amat perempuan yang seperti itu, memangnya ini sinetron atau novel? Sok sabar dengan kekuatan doa, tapi retap saja nangis di kamar mandi, terus suami kena azab baru nyadar dan merasa bersalah, ngemis-ngemis meminta maaf, eh si istri dengan tololnya memaafkan. Cih, jijik kalau aku, sih.”
“Kalau mereka tetap maksain aku sama Arby, ya sudah, itu hanya status. Baru nikah saja dia sudah selingkuh, gimana nanti? Dikiranya aku cewek lemah yang enggak bisa melawan, apa? Ngarepin punya istri soleha bukan berarti pasrah memiliki suami dzolim.”
Terjadi keheningan. Memang pernikahan harus dijalani bagi mereka yang telah siap lahir batin, dan Freya belum memenuhi semua kriteria itu. Menikah dini juga bukan karena kesalahan Freya, seperti hamil di luar nikah.
Semua permasalahan ini bukan Freya penyebabnya. Dia hanyalah tokoh utama yang terjerumus akan keeogoisan orang-orang di sekitarnya. Ada sebab pasti ada akibat.
🌸🌸🌸
Hari ini Freya keluar dari rumah sakit. Dia tidak pulang, melainkan ke puncak, ke villa keluarga Arby. Tidak hanya ada Freya, bahkan Nania, Aruna, Arby, Vian, Marcell dan Ikmal juga ikut. Mereka akan sekolah online untuk mendampingi Freya menjalani pengobatan.
Udara puncak yang sejuk dengan pemandangan yang sangat asri. Di belakang villa ada air terjun dengan aliran sungai yang dingin dan jernih. Di samping kanan ada perkebunan teh milik keluarga Arby.
Lalu di sebelah kirinya ada kebun bunga. Berbagai jenis bunga ditanam di sana. Di halaman villa juga terdapat kolam renang dengan gazebo yang terbuat dari bambu dan batang pohon kelapa dengan warna alami. Pinggiran kolam terbuat dari batu alam.
“Jangan bengong, Ya. Mikirin apa, sih?”
“Mikirin gimana caranya semua kekayaan mereka jatuh ke tanganku, terus aku tendang mereka.”
Nania, Aruna, Marcell, Ikmal dan Vian tertawa.
“Racunin, Ya,” ucap Vian ngasal.
“Dih, dikira aku bego. Aku orang pertama yang yang akan dicurigai, kecuali aku ikut minum racun itu.”
Candaan itu memang tidak dianggap serius oleh mereka, juga tidak peduli ada Arby di situ.
Freya, Nania dan Aruna heboh sendiri. Freya tidak seperti orang yang akan menjalani terapi.
“Aku sudah bawa bikini, kita bisa berenang nanti.”
“Aku juga.”
“Enggak boleh!” serempak keempat pria itu.
Arby tentu saja tidak akan membiarkan Freya memakai bikini, yang nantinya akan dilihat oleh sahabat-sahabatnya. Mungkin ini yang namanya harga diri seorang suami.
Sedangkan Marcell juga tidak rela mantannya itu menggunakan bikini yang akan dilihat oleh yang lain juga. Meskipun status mereka hanya mantan, namun ada ego dalan diri Marcell untuk Nania. Sedangkan Vian juga lagi ngincar Aruna, yang kelihatannya kalem, namun kalau ngomong suka bikin orang salah tingkah dan malu.
“Aku mau majang foto di sosial mediaku, ah. Aku kan temenan sama banyak bule,” ujar Nania dengan semangat.
“Yakin bule asli, siapa tahu saja itu akun fake yang pakai muka orang.”
“Iya juga sih. Bahasa inggris kan bisa dipelajari atau pakai translate, ya.”
“Aku pernah dikirimin foto akun sosialku, sama orang asing, gilaaaaa ....” Freya berkata heboh.
“Apa apa apa?”
“Aku dikirimin foto pisang, masa. Gede banget tapi hitam.”
“Pisang tanduk?”
“Atau pisang ambon?”
“Pisang uli?”
“Pisang uli mah kecil.”
“Tapi kok hitam?”
“Busuk, kali.”
“Pisang mah kelembekan yang ada, bukannya busuk.”
“Ya kan lama-lama kulitnya hitam kalau sudah kelamaan, kan. Bener gak sih?” Aruna garuk-garu kepala, sambil mengingat-ngingat bagaimana pisang yang kematangan itu.
Freya terkekeh, sedangkan Arby, Vian, Marcell dan Ikmal, wajah mereka sudah sangat merah, karena mereka tahu apa yang dimaksud oleh Freya.
“Terus aku juga pernah dikirim film. Tapi malas aku nontonya, enggak asik kalai enggak ada teman nontonya.” Lagi-lagi Freya cekikikan. Untungbsaja masih terang dan ramai, coba kalau sudah malam dan sepi, bisa-bisa dia di kira Mbak Kunti.
“Ayo Ya, kita nonton nanti malam,” Nania berucap dengan semangat, sedangkan Aruna mengangguk-angguk.
“Enggak boleh!” keempatnya kembali melarang.
“Film apaa, Ya?”
tanya Nania, tidak mempedulikan mereka berempat. Memang mereka siapa? pikirnya.
“Horor, thriller, komedi, romance?”
“Yang jelas film 21 +. Dialognya kemungkinan hanya ah ih uh eh oh ....”
Arby langsung membekap mulut Freya, sedangkan Marcell dan Vian masing-masing menutup kuping Nania dan Aruna dengan kedua tangan mereka.
Surya, Irma, dan Anwar terkekeh melihat para remaja itu dari lantai atas. Mereka tahu bahwa Freya hanya menjahili yang lain, terutama para pria. Sisi lain dunia remaja memang seperti itu, ada yang lebih terbuka dengan sahabat sebaya dari pada keluarga sendiri. Freya termasuk ke dalam golongan ini, karena dia memang tidak dekat dengan keluarganya. Freya memang lebih apa adanya dengan dan ekspresif dengan Nania dan Aruna.
Tidak salah memang keputusan untuk memboyong Nania dan Aruna ke villa, agar Freya tidak merasa bosan dan lebih relaks. Juga agar dia tidak berpikir bahwa pengobatan nanti akan membuatnya tertekan.
Sedangkan Arby diajak karena sudah kewajibannya sebagai suami untuk selalu mendampingi Freya, selain itu agar Freya tidak berpikir bahwa Arby sibuk pacaran dengan Nuna, walaupun sebenarnya bisa saja mereka tetap pacaran online, kan.
Ketiga remaja perempuan itu ditempatkan dalam satu kamar. Bukan karena kamarnya sedikit, hanya saja mereka melihat dari sudut pandang remaja, bahwa pasti remaja-remaja itu ingin ditempatkan dalam satu kamar.