
Arby mengantar Freya ke sekolahnya. Di dalam mobil, mereka tak saling bicara. Semenjak kejadian di mall itu, Freya semakin masa bodo dengan Arby. Arby pun bingung ingin bicara apa padanya. Apalagi masalahnya dengan Nuna belum selesai. Nuna mendatanginya ke kampus dan marah-marah kepadanya, membuat dia menjadi tontonan orang-orang. Bahkan Nuna berkelahi dengan gadis yang ada di mall saat itu. Mereka main jambak-jambakan dan saling cakar.
Masih terekam jelas dalam ingatan Arby saat Freya meninggalkan mereka di mall dengan tatapan benci dan penuh luka, membuat perasaannya tak nyaman.
Di dalam kelas saat pelajaran sedang berlangsung, Freya tak dapat konsentrasi dan hal itu mengusik Nuna. Dia melirik Freya dan tanpa sengaja melihat sedikit tanda merah di bagian leher samping.
Nuna menghela nafas dan mengepalkan tangannya.
Sialan!
🌸🌸🌸
Satu bulan kemudian
Freya menikmati salad buah dan sayur beserta lemon tea kesukaannya. Tidak hanya itu, dia juga memakan ubi rebus. Banyaknya materi yang dia pelajari sebagai murid kelas tiga SMA yang nantinya akan mengikuti ujian nasional membuat ***** makannya meningkat.
Tangan Freya memilah-milah brosur universitas-universitas yang ada di berbagai negara. Dia masih bingung, apakah harus memilih benua Eropa, Amerika, atau tetap berada di benua Asia untuk meneruskan pendidikannya dan di negara mana.
Berbeda dengan Arby, pria itu terlihat tak ***** makan karena beban tugas kuliah yang sangat banyak. Sebagai mahasiswa baru yang masih semester satu, tentu saja jadwal kuliahnya sangat padat dengan jumlah SKS yang banyak, ditambah tugas makalah untuk semua mata kuliah dan presentasi.
Dia terlihat uring-uringan, rasa lelah sebagai mahasiswa ditambah pekerjaan membantu papinya kini mulai terasa berat. Tentu saja menjadi mahasiswa tidak sama dengan menjadi murid SMA. Tugas akan lebih banyak dan jadwal kuliah dari pagi hingga sore, belum lagi sebisa mungkin dia harus mengantar jemput Freya.
Wajahnya sudah terlihat pucat, namun dia tetap terjaga mengerjakan tugasnya di jam dua belas malam.
.
.
.
"Jangan terlalu membebankan pekerjaan pada Arby, Pi. Lihat tuh dia jadi kurus dan pucat."
Elya merasa iba pada anak semata wayangnya itu. Hati ini Arby tidak kuliah karena sakit, dan Freya hanya diantar jemput oleh sopir.
Freya melirik Arby. Wajah pria itu memang tak secerah biasanya.
Keesokan harinya, Marcell, Vian dan Ikmal datang melihat keadaan Arby. Hubungan mereka (tim cowok vs cewek) kembali tak baik, jadi saat mereka berpapasan dengan Freya, gadis itu hanya menatap sinis.
"Sepertinya kita akan tetap menjadi musuh abadi mereka."
Tak ada yang dapat menyangkalnya. Sejak SMP mereka memang telah bermusuhan karena suatu hal yang masih terbawa hingga saat ini.
🌸🌸🌸
Kondisi Arby semakin tak baik. Selama satu minggu ini dia harus dirawat, dua hari di rumah sakit dan setelah itu dia meminta untuk dirawat di rumah saja. Tidak ada makanan yang dapat dia cerna dengan baik, sepertinya sistem pencernaannya terganggu. Dia mengalami muntah-muntah dan diare.
Keadaanya berbanding terbalik dengan Freya yang terlihat lebih montok dengan wajah berseri. Mungkin orang-orang akan berpikir bahwa pemderitaan Arby merupakan kebahagiaan Freya.
Hueekk ... huueekk ...
Arby kembali memuntahkan isi perutnya.
Beberapa orang dokter sudah didatangkan, termasuk dokter Anwar, Gani, Adam dan Yusuf. Tes urine dan darah juga dilakukan, apakah Arby menderita keracunan atau tidak, namun semuanya baik-baik saja.
Freya melihat ke pintu kamar Arby yang terbuka. Di dalamnya berkumpul para dokter dan kedua orang tua Arby. Tanpa pikir panjang Freya memasuki kamar itu. Dilihatnya wajah kuyu tak bersemangat itu.
"Dia kenapa, Dok?" tanyanya pada dokter Gani.
Dokter Gani menjelaskan keadaan Arby dan Freya mendengarkannya dengan sangat baik. Bukannua karena dia peduli dengan Arby, tentu saja tidak. Namun karena Freya ingin menjadi dokter, jadi dia selalu fokus dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia kesehatan.
Sebenarnya para dokter itu sudah mencurigai sesuatu, namun ... entah tidak ingin mempercayai atau takut menyatakan pendapat mereka.
"Jangan-jangan salah satu pacarnya ada yang hamil." Freya mengungkapkan pendapatnya dengan blak-blakan, dan memadang sinis ke Arby.
"Maksud kamu apa?" tanya Arby sewot.
"Itu sih tanda-tanda couvade syndrome, benar enggak, Dok?"
Keempat dokter itu memandang Freya dengan tatapan kagum sekaligus cemas.
"Sebenarnya ini memang mengarah ke couvade syndrome."
"Maksudnya gimana?"
"Couvade syndrome atau kehamilan simpatik. Penjelasan singkatnya adalah gejala yang dialami oleh wanita hamil, namun yang merasakannya adalah ayah dari janin atau orang-orang terdekatnya karena ikatan batin yang kuat."
"Arby, kamu menghamili anak orang?"
"Cih, enggak mau ngaku."
"Jawab yang jujur, Arby!"
"Sumpah, Pi. Enggak ada aku apa-apain perempuan selain Freya."
Freya mengerjapkan matanya, menahan nafas. Diam-diam dia mundur dan buru-buru masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu.
Anjir, enggak mungkin aku yang hamil, kan?
Freya melihat kalender, memang sudab telat jadwalnya datang bulan, tapi itu juga tidak bisa dijadikan patokan, karena setiap kali dia kelelahan, siklus datang bulannya memang tak beraturan.
Di kamar Arby
"Apa jangan-jangan Freya yang hamil?" tanya Arlan.
"Tapi anak siapa?"
"Ya kalau Freya hamil, berarti anak aku dong, Mi."
"Kok bisa? Memang kapan proses terjadinya? Kamu gak maksa dia, kan? Bla bla bla ...."
Arby diam seribu bahasa, mengingat kejadian malam itu saat dirinya mabuk.
Jadi itu benar-benar nyata, ya?
Namun dia juga tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Bukan hanya Freya yang akan mendapatkan masalah, tapi juga dia.
Mengatakan bahwa mereka melakukannya atas dasar suka sama suka juga tidak mungkin, karena tidak akan ada yang percaya.
Di kamar Freya
Remaja perempuan itu masih berjalan hilir mudik. Satu-satunya cara untuk mengetahui semuanya kalau bukan diperiksa ya menggunakan testpack.
Dia langsung memasukkan buku-buku sekolah dan seragamnya ke dalam tas.
Bertepatan dengan Freya yang membuka pintu kamar, orang-orang yang ada di dalam kamar Arby juga keluar.
"Kamu mau ke mana?"
"Aku ada tugas kelompok, mau nginap di rumah Nania."
Tanpa menunggu persetujuan, Freya langsing pergi ke rumah Nania diantar oleh sopir.
"Kamu mau nginap di sini, Ya?"
Freya mengangguk.
"Aku mau ke minimarket dulu ya, beli cemilan."
Sebelum ke mini market, dia ke apotek dengan memakai masker.
"Mbak, saya mau beli testpack."
"Yang merk apa?"
"Tunggu ya, Mbak, saya mau telp kakak saya dulu."
Freya pura-pura menelpn kakaknya.
"Halo kak, testpack merk apa?"
Pura-pura mendengarkan jawabannya.
"Oh yaudah."
"Yang paling bagus aja, Mbak, katanya."
.
.
.
Mau Up kemarin, tapi sinyal susah banget seharian.