
Mereka menyaksikan video itu dengan cermat.
"Sialan, ternyata dia pelakunya. Berani sekali dia menyakiti putri kesayangan aku."
Polisi segera menuju salah satu kelas, dan berjalan menuju salah satu murid.
"Emily, silahkan ikut kami ke kantor polisi. Kami sudah menghubungi orang tua kamu."
"Tapi kenapa, Pak? Kenapa saya harus ikut kalian ke kantor polisi?"
"Semua akan dijelaskan di kantor polisi."
Semua teman satu kelasnya melihat ke arah Emily. Kepala sekolah, guru BK dan wali kelas Emily juga ikut ke kantor polisi.
Hal itu menimbulkan gosip baru, apakah Emily ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Yuri?
Deo yang mendengar gosip itu, langsung pergi ke kantor polisi. Dia pergi bersama Gara, Qavi, Airu dan Chia.
Orang tua Emily todak bisa datang, dan sebagai wakilnya, pengacaranya saja yang datang.
Emily terus saja mengelak kalau dia yang sudah melakukan tindak kejahatan itu pada Yuri.
"Kamu tidak bisa lagi mengelak, sudah ada bukti dan saksi yang melihat kamu."
Pengacara keluarga Emily berusaha agar Emily tidak ditahan, tapi tentu saja keluarga Yuri dan Deo tidak akan melepaskan Emi begitu saja.
Emi langsung dibawa ke dalam sel tahanan. Pengacara keluarga Yuri juga langsung mengajukan tuntutan.
Penculikan
Tindakan tidak menyenangkan
Penyekapan
Kekerasan Fisik
Dan mengingat umur Emi yang sudah di atas delapan belas tahun, sulit bagi keluarga Ami untuk mengeluarkan gadis itu.
Polisi masih saja memintai keterangan dari Emi, tapi gadis itu diam saja.
"Kalau kamu tidak bisa bekerja sama, maka hukuman yang akan kamu dapat akan semakin berat."
Delima dimintain keterangan di ruangan terpisah. Juga banyak murid yang dimintai keterangan tentang sikap dan motif Emi.
"Emi memang tidak menyenangkan selama di kelas."
"Sombong!"
"Tukang iri."
"Di pasti iri pada Yuri, kami mantan teman sekelasnya tahu semua."
"Dia juga pernah mendorong Yuri sampai Yuri masuk dan dirawat di rumah sakit."
Banyak keterangan dari para murid yang semakin memberatkan Emi.
💧💧💧
"Pokoknya dia tidak boleh dibebaskan."
"Iya, dia tidak boleh di sekolah ini lagi."
"Jahat banget tuh anak, umur baru delapan belas tahun tapi sudah melakukan tindakan kriminal."
"Padahal Yuri itu baik banget, loh. Kalian enggak tahu kan, kalau Yuri sering minta pada orang tuanya untuk memberikan beasiswa untuk murid-murid di sekolah ini," ucap salah satu murid perempuan.
"Hah? Kamu tahu dari mana?"
"Aku enggak sengaja dengar kepala sekolah bicara dengan beberapa guru. Mau itu anak pintar atau enggak, selagi dia punya keinginan untuk sekolah, maka diberikan beasiswa."
Pantas saja, di sekolah ini banyak yang mendapatkan beasiswa. Mereka jadi sadar, berbuat kebaikan tidak perlu orang lain tahu.
"Kalau aku jadi orang sukses nanti, aku juga mau memberikan beasiswa pada murid-murid yang kurang mampu," ucap murod lainnya, yang diangguki oleh yang lain.
"Nyesal aku, kenapa enggak dari dulu belajar yang rajin. Malah kebanyakan main."
"Enggak ada kata terlambat. Kita masih sekolah, kejar dari sekarang sebelum ujian. Belajar yang rajin biar bisa masuk ke universitas yang bagus."
Tekad mereka sekarang sangat kuat. Main boleh, tapi jangan lupa, kalau mereka tidak selamanya menjadi anak-anak. Suatu saat nanti, mereka akan mengemban tugas dan kewajiban.
"Sekarang keadaan Yuri gimana, ya? Aku kangen sama dia."