
Yuri dan Deo sama-sama merapihkan harta karun mereka.
Bukan, bukan emas batangan atau batu permata, tapi buku-buku sekolah yang akan mereka berikan ke adik-adik kelas mereka yang kurang mampu.
Buku boleh bekas, tapi bukan berarti tak berkelas. Di buku paket itu, Deo dan Yuri sudah banyak menandai apa yang penting, apa yang keluar dari soal ulangan atau ujian, dan hal-hal penting lainnya. Sudah pasti yang mendapatkan buku-buku itu akan beruntung.
Perbuatan Yuri dan Deo yang akan memberikan buku-buku mereka kepada adik kelas, diikuti oleh teman-teman sekelas mereka. Daripada buku itu nantinya akan diloakan atau menjadi bungkus gorengan, lebih baik jika diberikan ke yang membutuhkan.
"Semua buku Yuri dari kelas satu sampai kelas tiga sudah dimasukkan ke dalam kardus, begitu juga dengan Deo.
Seragam sekolah mereka yang masih terlihat baru juga sudah dimasukkan ke dalam kardus lainnya.
"Enggak apa kan ya, bukan barang baru?"
"Gapapa, ini semua masih terlihat baru, kok."
Deo dan Yuri memang memiliki dua dari masing-masing seragam yang memiliki lima jenis. Yang lima untuk diberikan, yang limanya lagi untuk kenang-kenangan. Bagaimana pun juga mereka adalah remaja yang juga ingin memiliki kenangan-kenangan tentang sekolah mereka.
Sepatu dan tas juga sudah dimasukkan.
"Kita kaya mau pindahan."
Deo dan Yuri tentu saja memiliki banyak tas dan sepatu, yang juga masih terlihat baru.
"Ayo!"
Deo dan Yuri menyuruh asisten rumah tangga untuk membawa kardus-kardus itu ke dalam mobil.
Empat puluh lima menit kemudian mereka tiba di sekolah. Yang lain juga mulai berdatangan.
"Seragam sudah lain cek semua kan, jangan sampai ada baju yang bolong atau sepatu yang jebol."
"Ya elah Ri, ya kali kami mau ngasih barang yang sudah rusak. Malu, lah."
"Yuri!" panggil seorang murid perempuan.
Di belakangnya, ada beberapa murid lagi, dan mereka bukan teman-teman sekelas Yuri.
"Kenapa? Kangen, ya?"
Yang lain melengos, kecuali mereka yang tadi menghampiri Yuri.
"Aku cuma mau bilang makasih sama kamu. Maaf banget baru mengatakannya sekarang."
"Makasih kenapa?"
"Makasih, karena kamu sudah memberikan aku beasiswa, bahkan sampai bisa kuliah di universitas favorit aku."
"Hah? Enggak, kok."
"Yuri, aku tahu semuanya. Aku tahu kalau kamu meminta orang tua kamu untuk memberikan aku beasiswa karena sering telat bayar SPP. Aku enggak sengaja mendengar kepala sekolah bicara sama wali kelas aku dulu. Sebenarnya sudah sejak lama aku mau bilang ini sama kamu. Tapi karena aku malu dan tidak selevel sama kamu, aku jadi minder mau bicara dengan kamu."
"Iya Yuri. Kamu juga mau bilang makasih. Berkat kamu, ayah aku juga sudah dapat pekerjaan di perusahaan ayah kamu."
"Lah, mana aku tahu."
Yuri tetap saja pura-pura enggak tahu, meskipun memang benar dia yang membantu mereka. Deo tersenyum bangga pada istrinya itu.
Si rusuh dan biang onar namun cerdas dan berhati baik ini, membuat Deo semakin mencintainya.
"Oya, mumpung lain apa di sini, ayo kita makan cilok. Aku yang traktir, tapi Deo yang bayar!"
Yuri langsung berlari, takut kena amuk Deo yang masih loading.
Yuri yang traktir, tapi Deo yang bayar?