Akibat Pernikahan Dini

Akibat Pernikahan Dini
21 Selingkuhan Arby


Setiap hari selalu ada pertengkaran antara Arby dan Freya. Freya yang setiap harinya selalu menuntut perceraian dengan Arby, dan Arby yang tetap keukeh mempertahankan rumah tangganya dengan alasan tidak ingin membuat aib keluarga.


Sampai sekarang, masih sulit bagi Freya menerima semua ini. Berusaha untuk menyukai Arby pun sulit, padahal banyak gadis yang menyukai pria berwajah tampan, bertubuh atletis, berotak encer dan kaya itu. Namun kenapa Freya tak bisa? Bukannya dia tidak normal, tentu saja dia masih normal. Apa mungkin karena selama ini fokusnya hanya belajar dan mencari uang?


Bosan berada di rumah yang tidak pernah membuatnya betah, Freya langsung pergi lagi menuju mall.


Freya menyusuri toko demi toko. Mata Freya kini terpaku melihat dua orang yang ada di salah sato toko sepatu.


Freya langsung menghubungi seseorang.


"Hm?" jawab seseorang.


"Lagi di mana ngapain?"


"Aku lagi bantuin papi, kenapa?"


"Bantuin apa?"


"Ngurisin kerjaan papi, kenapa sih?"


Freya langsung memutus panggilan itu. Lalu dia menghubungi seseorang yang lain lagi.


"Kamu di mana?"


"Kenapa?"


Cih, ditanya malah nanya balik.


"Suntuk nih aku, aku ke rumah kamu ya?"


"Hmm, aku lagi enggak di rumah, Ya."


"Emang lagi di mana?"


"Jalan sama mama."


"Ke mall? Aku susul, ya?"


"Aku mau ke rumah sepupu aku."


"Owh, ya sudah."


Freya langsung memantikan sambungan telepon itu. Hatinya bergemuruh menahan kesal, bisa-bisanya dua orang itu mengkhianati dan membohonginya. Tangannya terkepal, bukan karena cemburu. Tentu saja tidak, karena Freya tidak mencintai Arby.


Freya hanya tidak terima di tikam dari belakang seperti ini, apalagi oleh salah satu sahabatnya yang sudqh lama dia kenal. Jika memang mereka saling mencintai, kenapa tidak terus terang saja? Dengan senang hati dia akan melepas Arby dan memberikannya untuk sahabatnya.


Freya lalu mengikuti mereka dari belakang, mengabadikan itu dalam foto sebagai bukti kalau nanti keduanya mengelak.


Kedua pasangan selingkuhan itu memasuki toko demi toko, bahkan mereka memasuki toko perhiasan FC Jawallery, toko tempat Freya menjual cincin kawinnya.


Dia melihat mereka ke luar dengan si gadis selingkuhan yang menenteng kantong bertuliskan nama toko itu dengan wajah senang, lalu Freya langsung memfoto mereka.


Lelah mengkuti dua manusia tak berakhlak yang terus-terusan berpindah dari satu toko ke toko lainnya, akhirnya Freya pulang.


Jam delapan malam Arby baru pulang dengan wajah lelah yang terlihat jelas.


"Aku mau kita cerai secepatnya!"


Itulah kata sambutan dari Freya untuk Arby.


"Jangan mulai lagi deh, Frey! Aku lelah, mau istirahat!"


Cih, lelah? Lelah habis memanjakan selingkuhan di mall?


Tangan Freya terkepal, kesal dengan keegoisan Arby yang serakah. Tidak mau melepasnya tapi juga tidak mau melupakan selingkuhannya.


*Akan aku balas kamu, Arby!


Kamu bilang tidak ingin membuat aib keluarga, tapi tingkahmu itu sendiri sudah memberi aib. Benar-benar memuakkan.


🌸*🌸🌸


Jam istirahat, kedelapan murid berbeda angkatan itu duduk seperti biasa di kantin.


"Kemarin ke mana sih, Ar?" tanya Vian.


"Maaf, kemarin aku sibuk bantuin kerjaan papi."


"Maksud kamu apa, Frey?"


"Kemarin dia sama selingkuhannya pacaran di mall."


"Jangan sembarangan kalau ngomong, Frey!" bentak Arby.


"Siapa yang sembarangan? Memang benar kan kemarin kamu sama Nuna jalan-jalan ke mall!"


"Apa?"


"Ya, itu enggak benar!" bela Nuna.


"Halah, enggak benar gimana? Kemarin aku telepon Arby, katanya sibuk kerja. Aku telepon kamu katanya lagi jalan sama mama kamu, tapi kalian malah jalan-jalan kan ke mall? Aku punya kok buktinya."


Freya langsung menunjukkan ponselnya yang berisi foto-foto kebersamaan Nuna dan Arby.


"Masih mau ngelak?"


"Ya, ini ...."


"Kalau memang saling suka, kenapa enggak terus terang saja, aku bakalan ngasih Arby gratis kok, ke kamu."


"Frey!"


"Aku juga bakalan anggap kamu malaikat aku kalau kamu bisa membuat dia melepaskan aku."


Freya menatap sinis Nuna dan Arby.


"Tapi jangan pernah menikamku dari belakang. Aku memang tidak pernah mencintai Arby, tapi bukan berarti kalian bisa mempermainkan aku."


"Jadi aku mau kita berpisah secepatnya."


"Kamu jangan egois Freya!"


"Kalianlah yang egois!"


"Kamu itu egois, tidak pernah mau mengerti perasaan orang. Kamu pikir kamu yang paling menderita sedangkan Arby tidak, hah?" ucap Nuna dengan emosi.


Suasana di kantin langsung sunyi mendengar perdebatan itu.


"Kamu bilang akulah yang egois hanya untuk menutupi kesalahan kalian? Cih, dasar munafik! Setidaknya aku tidak pernah menutupi fakta kalau aku memang tidak pernah menerima dia dalam kehidapan aku. Sejak awal aku sudah menolak. Seharusnya sejak awal juga kamu mengakuinya, Nuna. Kamu memang sering memuji-muji Arby kan, mengatakan dia tampan dan suami ideal. Seharusnya sejak awal aku sudah menduga semua ini. Bukannya dulu kamu bilang kalau kamu saja yang dijodohkan dengannya? Sampah seperti kalian memang layak bersama. Aku sedekahkan dia untukmu."


"Mungkin ini sebabnya orang tua kamu ...."


Plak plak


Dua tamparan di wajab Nuna dari Freya.


Orang tua, kata kramat yang sangat dibenci Freya. Dia memang sangat sensitif dengan istilah itu.


"Mereka bukan orang tua aku."


"Jaga sikap kamu, Frey!" Arby menatap Freya.


"Membela ****** kamu?"


Bugh bugh


Kini Arby yang mendapat tonjokan di kedua pipinya. Pipi Nuna yang merah dan memberikan cap lima jari di kedua pipinya. Hidung dan mulut Arby mengeluarkan darah. Freya yang memang bisa bela diri tentu tidak setengah-setengah melakukannya. Arby yang juga bisa bela diri, namun tidak siap dengan aksi tersebut sedikit terhuyung.


"Itu hadiah dariku atas kebersamaan kalian. Sekali lagi, aku tidak pernah cemburu, tapi aku tidak suka ditikam dari belakang apalagi sama sahabat aku."


Nafas Freya memburu dengan tangan yang masih terkepal erat.


"Kamu pikir aku akan menjadi perempuan lemah yang hanya akan menangis di dalam kamar mandi meratapi nasibnya yang dikhianati? Atau memohon-mohon padamu untuk tidak meninggalkan aku? Atau mengatakan aku akan mengubah perilakukku agar kita tetap bersama. Cih, maaf saja, ini bukan sinetron atau novel. Atau kalian berpikir aku akan mendengarkan lagu galau kumenangis atau lagu patah hati lainnya? Dengar, aku tidak akan mengemis pada kalian untuk mengakhiri hubungan kalian. Kamu, silahkan kamu menjadi pelakor, karena dia pun tidak akan pernah aku anggap, lahir dan batin."


"Dan kamu!"


Freya menunjuk Arby dengan telunjuknya.


"Kamu lah aib yang sesungguhnya dalam keluargamu. Anak yang selama ini dibangga-banggakan oleh kedua orang tuanya, disanjung dipuji oleh murid-murid dan guru-guru nyatanya hanya manusia munafik. Untung saja aku tidak pernah menyukaimu dan tertipu oleh wajah sok tampan itu


Kelima orang yang ada di sisi mereka merasa sesak nafas. Belum lagi masalah yang lalu antara Freya dengan Aruna membaik, kini timbul lagi masalah lain, malah lebih besar dan serius.